KARAKTER WAYANG DEWI RATIH

Berawal dari sebuah keingintahuan mencari arti nama yang telah diberikan orang tua kepadaku. Ratih Kumalaningrum itulah nama yang diberikan. Ratih merupakan nama seorang dewi atau bidadari dalam pewayangan. Kumala diambil dari bahasa Kawi yang berati batu permata, emas, atau mutiara. Sementara nama ningrum diambil dari nama bunga yang harum wanginya.

Diingat-ingat, ternyata aku pernah menulis sebuah tulisan tentang karakter tokoh wayang Dewi Ratih ketika aku mengikuti kelas Wayang saat masih di bangku kuliah. Tulisan ini merupakan tulisan yang pernah yang tulis di kelas Wayang yang sudah diedit ulang.
Wayang kulit diartikan sebagai bayangan roh nenek moyang yang diwujudkan berupa kria dengan bentuk tokohnya menyerupai manusia. Sejak masuknya Islam, wayang tidak lagi diartikan sebagai bayangan roh nenek moyang karena menurut Islam itu dilarang. Wayang kulit dimaksudkan sebagai lambang watak manusia.
Wayang kulit sebagai suatu hasil kria berupa boneka wayang mempunyai banyak seni yang terkandung di dalamnya dan setiap unsurnya mempunyai makna. Setiap wayang mempunyai karakter tersendiri dan kadang karakternya diwakili oleh bentuk dan warna wayangnya.
Menurut RM Soelardi wanda dapat diartikan sebagai gambaran pasemon raenan, wanda punika gambaring wewatekaning manungsa ingkang boten nate pejah. Pengertian wanda berkaitan dengan penggambaran air muka (raut wajah) tokoh yang berhubungan dengan keadaan jiwa seseorang. Wanda adalah penggambaran hati dan karakter wayang dalam kondisi tertentu. Sementara itu, menurut Sudarso, wanda dapat dengan mudah diartikan sebagai penggambaran air muka (pasemon) suatu tokoh yang merupakan perwujudan kasat mata dari suasana hati tokoh tersebut. (Sudjarwo, 2010:22)

Dewi Ratih atau Dewi Kamaratih adalah putri Bathara Soma, putra Sanghyang Pancaresi yang berarti keturunan Sanghyang Wening, adik Sanghyang Wenang. Dewi Ratih menikah dengan Bathara Kamajaya, putra kesembilan Sanghyang Ismaya dengan Dewi Senggani. Ia bertempat tinggal di Kahyangan Cakrakembang.
Dewi Ratih berwajah sangat cantik, memiliki sifat dan perwatakan sangat setia dan cinta kasih, murah hati, baik budi, sabar, dan sangat berbakti terhadap suami. Bersama suaminya Bathara Kamajaya, suami-istri tersebut merupakan lambang kerukunan suami-istri di jagad raya karena kerukunannya dan cinta kasihnya satu dengan yang lain. Sebagaimana halnya para dewa lainnya, hidup Dewi Ratih pun bersifat abadi, tidak mengenal kematian.
Dewi Ratih pernah ditugaskan oleh Sanghyang Manikmaya untuk menurunkan Wahyu Hidayat kepada Dewi Utari, putra bungsu Prabu Matswapati raja negara Wirata dengan permaisuri Dewi Ni Yutisnawati atau Setyawati. Wahyu Hidayat diturunkan sebagai pasangan Wahyu Cakraningrat yang diturunkan Bathara Kamajaya kepada Raden Abimanyu atau Angkawijaya, putra Arjuna dengan Dewi Sumbadra.

Dalam kehidupan khususnya masyarakat Jawa, kerukunan pasangan Batara Kamajaya dan Dewi Ratih merupakan idola. Setiap upacara pengantin Jawa, selalu diharapkan agar pasangan itu hidup rukun, damai dan saling setia seperti pasangan Kamajaya dan Dewi Ratih. Apabila di kemudian hari pengantin itu dikaruniai putera agar berwajah tampan seperti Batara Kamajaya dan apabila puteri agar berwajah cantik seperti Dewi Ratih.
Salah satu karya sastra lama yang menceriterakan kisah cinta Batara Kamajaya dan Dewi Ratih ialah buku Smaradahana. Penulis buku Smaradahana adalah Empu Dharmaja yang hidup pada jaman kerajaan Kediri. Dalam buku itu, dikisahkan terbakarnya Batara Kamajaya (smara = asmara; dahana = api). Penyebab terbakarnya Batara Kamajaya adalah Dewa Siwa (Batara Guru).
Pada suatu musyawarah para Dewa diketahui, bahwa Suralaya (Kahyangan) akan diserbu oleh bala tentara raksasa. Serangan itu akan dipimpin oleh Raja Nilarudraka. Semua dewa merasa tidak mampu menghadapi kesaktian Raja Nilarudraka. Seluruh dewa merasa panik bagaimana cara mengatasi bahaya itu. Kebetulan pada waktu itu Dewa Siwa atau Batara Guru (Raja pra Dewa) baru bertapa. Kemudian para dewa mengadakan musyawarah. Keputusan musyawarah menunjuk Batara Kamajaya untuk membangunkan Batara Guru dari tapanya. Berangkatlah Batara Kamajaya ke pertapaan Batara Guru.
Sesampai di pertapaan, Batara Kamajaya tidak berani mendekat. Batara Guru yang sedang bersamadi. Dicarilah akal untuk membangungkan Batara Guru dari tapa. Kemudian Batara Kamajaya melepaskan panah bunga berkali-kali tetapi tidak membawa hasil. Panah bunga yaitu kekuatan tenaga dalam (batin) dari seseorang ditujukan kepada orang lain agar tercium harumnya suatu bunga. Batara Kamajaya tidak putus asa. Kemudian dilepaskan panah “panca wisaya” ditujukan kepada Batara Guru (panca = lima; wisaya = rindu). “Panca Wisaya” itu berupa rindu pada suara merdu, rindu pada rasa enak, rindu pada belaian kasih sayang dan rindu pada bau yang harum. Seketika itu Batara Guru timbul rasa rindu kepada Dewi Uma permaisurinya. Setelah bangun dari tapanya, ternyata yang ditatap didepannya adalah Batara Kamajaya. Timbul marahnya yang tak terhingga. Batara Kamajaya dipandang memakai mata ketiga yang berada di dahinya. Pandangan itu memancarkan api yang menyala-nyala. Maka terbakarlah Batara Kamajaya dan mati seketika itu. Kemudian, Batara Guru kembali ke Kahyangan.
Dewi Ratih sangat berduka cita mendengar berita suaminya mati terbakar. Ia bermaksud “mati obong” (membakar diri) bersama suaminya sebagai rasa cinta kasih. Kemudian Dewi Ratih menyusul ke tempat suaminya mati terbakar. Sesampainya Dewi Ratih di tempat suaminya terbakar, atas kehendak Batara Guru api menyala kembali lebih besar. Lambaian nyapa api itu tampak bagaikan lambaian tangan Batara Kamajaya memanggil Dewi Ratih agar mendekatnya. Dewi Ratih tanpa ragu sedikit pun lalu terjun ke dalam nyala api. Demikianlah, Dewi Ratih telah menyatu dengan suaminya.
Wayang sebagai upaya katarsis diri manusia memberikan banyak pelajaran hidup kepada manusia untuk menjalani kehidupan ini dengan baik. Wayang memberikan makna mendalam kepada kita tentang kehidupan sehingga jiwa kita dapat terasah dengan baik dan halus. Dari setiap tokoh dan lakon wayang kita dapat mengambil banyak contoh karakter yang dapat diterapkan dan yang tidak boleh diterapkan dalam hidup.

3 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s