Ketakutan

Suatu senja di akhir pekan, ketika kita sedang duduk bersama di bangku balkon seperti biasa, kamu pernah bertanya padaku.

“Apa yang kamu takutkan dari hidup ini?”

Seperti biasa, filosofis. Jalan pikiranmu itu. Yang sadar tidak sadar sepertinya memberikan pengaruh padaku.

“Ehm… Hal yang aku takutkan dari hidup ini,” kataku sambil berpikir.

Jam tangan yang kamu pakai di tangan kananmu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Matahari masih menunjukkan sinarnya. Semburat langit merah belum muncul. Saat itu waktu siang memang lebih panjang daripada waktu malam. Kuseruput es sirup nata de coco. Jawaban belum keluar dari mulutku.

“Kehilangan… Ya, kehilangan… Aku takut kehilangan,” jawabku.

Kamu menoleh ke arahku. Diam menatapku. Kubalas tatapanmu. Dari matamu aku tahu kamu menunggu kelanjutan jawabanku.

“Kehilangan tujuan. Itu yang aku takuti. Kehilangan tujuan hidup. Kehilangan orientasi ke mana arah hidup ditujukan,” aku melanjutkan kemudian menghela napas panjang.

“Di saat kita hanya memikirkan hidup saat ini. Selalu selalu pragmatis. Yang penting bisa bertahan. Cepat terselesaikan. Melakukan hal rutin yang berulang hanya sebagai rutinitas. Lahir, tumbuh menjadi lebih tua setiap tahunnya, sekolah, bekerja, menikah, punya anak, menjadi tua, lalu mati. Namun, tidak tahu untuk apa semua itu dilakukan,” jawabku sambil melihat semburat matahari yang sebentar lagi pergi.

Aku tersenyum sendiri memikirkan jawaban yang kuberikan. Dahulu aku paling bosan mendengarkan kata-kata filosofismu itu dan sekarang aku bisa berkata seperti itu. Aneh memang dunia ini bekerja saling memengaruhi. Pengaruhmu itu sepertinya sudah bekerja dalam diriku.

“Kamu tidak boleh kehilangan. Kehilangan tujuanmu…. Tujuan perjalanan kita…”

“Jika itu terjadi, mungkin saja aku akan meninggalkanmu jika kamu benar-benar telah kehilangan atau kamu tidak bisa lagi menjelaskan ke mana arah perjalanan kita…”

Aku terdiam. Memikirkan perkataanku barusan. “Tidak… Jangan sampai itu terjadi pada kita. Aku tidak mau,” lanjutku mengakhiri jawaban.

Kamu tersenyum. Menoleh kepadaku. Mengambil gelas berisi es nata de coco dari tanganku.

“Ingatkan aku ketika aku sedikit melupakan. Kita harus saling mengingatkan kalau kamu tidak mau apa yang kamu takutkan itu terjadi. Ketika aku membawa perjalanan kita melenceng dari jalur. Seperti di 5 cm, buku yang kamu suruh baca. Kita taruh tujuan kita 5 cm di depan kening. Biarkan menggantung supaya kita terus melihat dan bisa merasakan gairahnya. Okey?” katamu lalu menyeruput es nata de coco.

Semoga Ramadhan tahun ini kembali mengingatkan kita pada tujuan kehidupan di dunia fana ini. Dengansegala peristiwa yang terjadi semoga semua itu melembutkan hati yang keras, meluruskan akan yang bebal, memperbaiki sikap yang sombong, membersihkan sebersih-bersihnya. Membuat kita sadar tujuan sejati perjalanan hidup.

 

#serialakudankamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s