Kontribusi Muslim terhadap Kemajuan Eropa

Ketika  mencari tulisan tentang wayang Dewi Ratih, aku menemukan tulisan yang kutulis ketika aku mengikuti kelas mata kuliah Ikhtisar Sejarah Kebudayaan Arab. Tulisan ini mengingatkanku bahwa Islam pernah berjaya dan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial masyarakat Eropa yang saat itu sedang berada dalam Masa Kegelapan. Tulisan ini sudah mengalami proses edit ulang.

Pada akhir abad ke-11, orang Kristen mulai berjalan ke Suriah untuk merebut kekuasaan umat Islam. Pada saat itu, masyarakat muslim tengah berada pada perpecahan dan pertikaian. Perang Salib menggambarkan reaksi orang Kristen di Eropa terhadap muslim di Asia yang telah menyerang dan menguasai wilayah Kristen sejak 632, tidak hanya di Suriah dan Asia Kecil, tetapi juga di Spayol dan Sisilia.

Dalam bukunya, Hitti menyebutkan bahwa ada berbagai hal yang menyebabkan Perang Salib, di antaranya adalah kecenderungan gaya hidup nomaden dan militeristik suku-suku Teutonik-Jerman yang telah mengubah peta Eropa sejak mereka measuki babak sejarah; perusakan Makam Suci milik gereja, tempat ziarah ribuan orang Eropa yang kuncinya telah diserahkan kepada Charlemagne pada 800 M dengan berkah dari Uskup Yerussalem oleh Al-Hakim; dan sebab utama Perang Salib adalah permohonan Kaisar Alexius Comnesus kepada Paus Urban II pada 1095 untuk membantunya. Hal itu disebabkan karena daerah kekuasaan Kaisar Alexius Comnesus di Asia telah diserang oleh Bani Saljuk di sepanjang pesisir Marmora. Serangan Islam tersebut mengancam kekuasaan Konstantinopel. Paus memandang permohonan tersebut sebagai sarana untuk menyatukan kembali Gereja Yunani dan Gereja Roma yang terpecah sejak 1009.

Kemudian, Paus menyampaikan pidato di Clermont dan memerintahkan orang Kristen agar “Memasuki lingkungan Makam Suci, merebutnya dari orang jahat dan menyerahkan kembali kepada mereka”. Orang yang hadir meneriakkan Deus Vult (Tuhan Menghendaki). Pada 1097, berbondong –bondong orang Franka, Norman, dan rakyat biasa menyambut seruan untuk berkumpul di Konstantinopel. Saat itulah, genderang Perang Salib dibunyikan.

Perang Salib telah mempertemuakan dua bangsa, muslim Arab dengan Eropa. Perang Salib membuka interaksi sosial-budaya antara kaum Muslim dengan kaum Eropa. Hubungan sosial-budaya itu telah mengenalkan orang Eropa banyak hal, termasuk dalam ilmu pengetahuan, kedoktean, dan pertanian. Banyak hal yang telah dipelajari dari orang Muslim dan kemudian dikembangkan orang Eropa. Bagi Barat, Perang Salib merupakan bagian penting dalam evolusi Eropa Barat Abad Pertengahan. Hal itu, kemudian yang menjadikan orang-orang Eropa dapat maju dan modern. Sebelumnya, di Eropa, gereja memiliki otorits yang cukup tinggi. Saat itu, ilmu pengetahuan juga diatur oleh gereja. Salah satu contoh adalah tentang pendapat Galelie Galileo yang menyatakan bahwa pusat dari peredaran tata surya adalah matahari dan bumi yang mengelilingi matahari. Pendapat Galelie tersebut bertentangan dengan pendapat gereja yang menyatakan bahwa pusat tata surya adalah bumi dan matahari yang berjalan mengelilingi bumi. Pertentangan pendapat tersebut telah menyebabkan Galelie harus mendapatkan hukuman gantung dari gereja.

Ketika Perang Salib, orang-orang Eropa banyak melakukan penerjemahan besar-besaran terhadap karya-karya orang Muslim berbahasa Arab di segala bidang ilmu pengetahuan. Dari karya terjemahan itulah, orang Eropa banyak belajar dan mengetahui ilmu pengetahuan yang membuat orang Eropa menjadi lebih maju.

Kontribusi Bangsa Arab terhadap Eropa ketika Perang Salib

Bidang Ilmu Pengetahuan, Filsafat, dan Sastra

Pada abad ke-12, para sarjana Barat yang tertarik kepada ilmu pengetahuan dan filasafat mulai menyadari betapa banyak yang mereka harus pelajari dari orang Arab. Mereka mulai mempelajari karya-karya berbahasa Arab dan menerjemahkan karya besar ke dalam bahasa Latin.

Pada saat itu, banyak dilakukan penerjemahan besar-besaran atas karya berbahasa Arab di berbagai bidang, antara lain kedokteran, matematika, astronomi, dan karya lainnya. Dalam bukunya, Watt menjelaskan bahwa ada beberapa penerjemah besar yang banyak menerjemahkan karya berbahasa Arab. Penerjemah itu antara lain Dominic Gundisalvi, seorang diaken yaitu seorang pejabat gereja yang mempunyai tugas tertentu di bawah pastur, dan Johannes Hispalensis. Selain itu, ada Gerard dari Cremona, seorang Italia yang datang ke Toledo dan bekerja di sana. Gerard mempunyai tim penerjemah dan bekerjasama dengan seorang Kristen Mozarab yang dipanggil Ghalib atau Galippus.

Hitti (2010:847) menceritakan bahwa Adelard dari Bath menerjemahkan karya-karya astronomi berbahasa Arab. Adelard pernah mengunjungi Antioka dan Tarsus pada awal abad ke-12. Terjemahan Adelard mencakup pula tabel-tabel astronomi Al-Khawarizmi dan karya Eucleides yang berjudul Elements. Satu abad kemudian, sekitar abad ke-13, Leonardo Fibonacci, seorang ahli Aljabar pertama Eropa, mempersembahkan karya tentang angka-angka kotak kepada Federick II. Ia juga pernah mengunjungi Mesir dan Suriah. Federick sendiri mempunyai ambisi untuk mendamaikan Islam dengan Kristen. Ia juga menyokong kegiatan penerjemahan karya-karya berbahasa Arab.

Stephen dari Antioka menerjemahkan sebuah buku di bidang kedokteran karya Al-Majusi di Antioka pada tahun 1127. Karya itu merupakan satu-satunya karya berbahasa Arab yang dibawa oleh orang Franka ke negeri mereka. Akan tetapi, pada abad 12, dapat dilihat pusat-pusat medis banyak didirikan dan rumah sakit khusus penyakit lepra banyak dibangun di seluruh kawasan Eropa. Selain itu, ada pula Philip dari Tripoli yang sekitar tahun 1247 menemukan sebuah manuskrip berbahasa Arab yang berjudul Sirr al-Asrar, yang diperkirakan disusun oleh Aristoteles untuk membimbing Alexander Agung. Karya tersebut kemudian ditejemahkan oleh Philip ke dalam bahasa Latin dengan judul Secretum Secretorum. Karya semi-Aristotelian ini berisi tentang kebijaksanaan praktis dan ilmu tentang dunia gaib (okultis). Buku ini menjadi salah satu buku yang sangat populer pada Abad Pertengahan.

Dalam bidang sastra, kisah-kisah legenda Grail Yang Suci mengandung elemen yang berasal dari Suriah. Karya Geoffery Chaucer yang berjudul Squieres Tale merupakan cuplikan dari Kisah Seribu Satu Malam. Selain itu, ada Bonaccio yang memperoleh beberapa cerita berupa tradisi lisan. Ia mengumpulkannya dalam sebuah buku yang berjudul Decaremon.

Pada abad ke-13, terdapat suatu gerakan intelektual hebat di Eropa Barat. Gerakan ini mulai bergerak untuk menghasilkan temuan yang baru (Watt, 1997:90). Sosok yang menonjol dalam gerakan ini adalah Michael Scot. Michael menggarap terjemahan di bidang ilmu pengetahuan dan filsafat dari Aristoteles, komentar atas karya Aristoteles oleh Ibnu Rushd, dan karya Ibnu Sina mengenai sejarah alam. Selain Michael, ada pula Alfonso X dari Castile. Ia merupakan pendiri lembaga pendidikan tinggi. Tidak semua karya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin tetapi juga bahasa Spayol Castile, yang kemudian menjadi bahasa resmi negara itu. Berakhirnya abad ke-13 menandai berakhirnya pula penerjemahan besar-besaran atas karya-karya berbahasa Arab. Pada abad ke-13, orang Eropa mencapai suatu tingkat kompetensi yang tinggi dalam ilmu pengetahuan dan filsafat (Watt, 1997:91)

Dalam bidang matematika, sebelum abad 13, Eropa Barat menggunakan angka Romawi yang rumit dan menghambat penelitian lebih lanjut. Meskipun ada beberapa orang yang mengenal sexagesimal Yunani, jumlah orang itu sangat sedikit. Pengenalan angka Arab terjadi setelah diterbitkannya Liber abaci, karya Leonardo Fibonacci yang ia persembahkan untuk Federick II. Bersamaan dengan ini, kosakata bahasa Eropa bertambah dan diambil dari bahasa Arab, salah satunya adalah zero ‘kosong’ yang berasal dari kata sifr. Kata Arab itu digunakan untuk menunjukkan suatu posisi tertentu (satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya) adalah  kosong.

Dalam bidang kedokteran, sebelum muncul pengaruh ilmu pengetahuan Arab, kondisi kedokteran di Eropa tidak cukup bagus (Watt, 1997:95). Hal itu dideskripsikan oleh Usama bin Munqidh, seorang Muslim penulis pada periode Perang Salib. Usama menggambarkan cara dokter Franka dalam mengobati orang yang sakit dan terluka dengan cara yang buruk. Hillenbrand (2005:437) juga menyebutkan bahwa Usama menggambarkan dokter Arab ahli dalam mendiagnosis dan menyembuhkan penyakit, ahli dalam susunan tulang, menjahit luka, membalut luka, transfusi darah, makanan, dan pembakaran luka dengan besi panas untuk mencegah infeksi. Kaum Frank mengakui keahlian dokter-dokter Arab. Dalam kamus biografi para dokter, Ibn Abi Ushaybi’ah menyebutkan Abu Sulayman Dawud.

Di Eropa, yang dianggap sebagai sekolah kedokteran paling tua adalah sekolah kedokteran yang ada di Salerno. Sekolah ini dianggap lebih mirip hotel ketimbang lembaga yang memberikan pengobatan. Dokter di tempat ini bekerjasama dengan keuskupan. Akan tetapi, kemudian berkembang menjadi lembaga yang sekular. Untuk lembaga inilah, kemudian, Donnolo dan Constantine dari Afrika menerjemahkan karya kedokteran.  Salah satu karya terjemahannya membahas sekitar seratus obat-obatan dari tanaman. Sekolah kedokteran lain adalah sekolah kedokteran di Montpiller. Sekolah ini, pada awal abad ke-13, mempunyai hubungan erat dengan sekolah Arab di selatan Spayol.

Sampai abad ke-16, Eropa masih tergantung pada kedokteran Arab. Karangan Ibnu Sina, Canon, sudah mencapai cetakan keenambelas pada tahun 1500. Selain karya Ibnu Sina, ada pula karya Al-Razi, karya Ibnu Rusdh, Hunayn ibn Ishaq, Isaac orang Yahudi, dan Haly Abbas. Dalam karya-karyanya, Ferrari da Grado mengutip Ibnu Sina lebih dari tiga ribu kali, mengutip Al-Razi dan Galen masing-masing seribu kali. Sementara itu, ia hanya mengutip seratus kali dari Hippocrates. (Watt, 1997:99)

Bidang Pertanian, Industri, dan Perdagangan

Tentara Salib berhasil mendapatkan banyak pengetahuan tentang pertumbuhan beberapa tanaman baru di kawasan Mediterania Barat, seperti biji wijen, carob, padi-padian, semangka, jeruk, aprikot, dan shallot. Carob berasal dari bahasa Arab kharrub (aslinya dari bahasa Suriah); lemon berasal dari bahasa Arab laimun yang berasal dari India atau Melayu. Di samping itu, bawang merah dan scalion (sejenis bawang) diambil dari nama kota di Palestina, Askalon. Selain itu, ada beberapa tumbuhan dan produk pertanian lain yang terus dipasok oleh orang Islam ke Spayol dan Sisilia.

Orang Franka juga mendapatkan cita rasa baru dalam parfum, rempah-rempah, makanan, dan produk tropis lainnya dari Arab dan India yang tersedia melimpah di pasar-pasar Suriah. Citarasa baru in kemudian mendorong tumbuhnya perdagangan di Italia dan di kota besar di Mediterania. Keharuman dupa dan getah arab, mawar damaskus, minyak wangi, mawar merah dari Persia banyak diproduksi di Damaskus dan menjadi produk paling diminati di Eropa. Tawas dan pohon gaharu menjadi komoditas obat baru yang diminati. Cengkeh, pala, jahe, lada, mulai digunakan di Eropa pada abad ke 12. Sejak itu, di Eropa, setiap ada penjamuan makan, makanan yang disajikan selalu menggunakan rempah-rempah.

Tidak hanya dalam citarasa makanan, dalam gaya hidup, masyarakat Eropa mulai mengenal kain sutra, satin, permadani, karpet dan tapestri. Barang kerajinan seperti kain gorden, baldachin, damas, kain sarcenet, kimca, beludru, sutra, dan satin semakin dihargai di Eropa. Perhiasan dari permata, alat kosmetik dan alat kecantikan banyak dicari oleh konsumen masyarakat Barat. Jendela dengan kaca-kaca berwarna menjadi pilihan utama untuk pembangunan gereja. Karya seni ketimuran yang terbuat dari kaca, porselen, keramik, emas, dan perak menjadi model produk-produk Eropa.

Sejalan dengan kondisi perekonomian dan pasar di Eropa yang sangat meminati barang-barang komoditi dari Timur, muncul banyak kota-kota industri dan kota pusat kerajianan di Eropa, contahnya adalah sentra kerajinan Arras.

Terciptanya pasaran baru di Eropa merangsang tumbuhnya peredaran uang yang cepat. Oleh karena itu, digunakan pencatatan kredit. Banyak bermunculan perusahaan bank dan pengelola keuangan di Genoa dan Paris yang memiliki kantor cabang di Levant. Para ksatrian Tentara Salib mulai menggunakan surat kredit (cek), menerima uang dalam bentuk deposito, dan meminjamkan dengan bunga. Koin emas pertama yang mungkin pernah dibuat bangsa Latin adalah Byzantinius Saracenatus yang dicetak orang Venesia di Tanah Suci dan menerakan tulisan berbahasa Arab. Hillenbrand (2005:496) menyebutkan setelah menguasai pelabuhan Suriah, kaum Frank terus menerus menyerang dan mengedarkan koin-koin (bazant) yang merupakan tiruan dinar Muslim. Selama tiga tahun mereka terus menerus mencetak koin atas nama Khalifah Fatimiyah Al-Amir.

Aktivitas perdagangan dengan bangsa Timur membuat kosakata Eropa bertambah dan berasal dari bahasa Arab. Muncul istilah cheque berasal dari kata syik ‘cek’; tarrif berasal dari kata ta’rifah ‘tarif; damask berasal dari kata dimaqs ‘damas’; fustian berasal dari kata fustiyan ‘kain kasar dan berat yang terbuat dari kapas dan rami’; taffeta berasal dari kata taftah ‘kain tafeta’; cashmere dari kata kasymir ‘kain wol yang halus’; samite dari kata samit ‘sutra berbenang emas’; organdy dari kata urghandi ‘bahan katun tipis dan kaku untuk membuat baju’; muslin dari kata mushlin ‘katun halus’. Selain kata-kata tersebut, muncul pula istilah dalam bidamh teknologi seperti zenith berasal dari kata samt ‘titik puncak’; azimuth dari kata samt ‘azimut’; astrolabe dari kata asthrolab ‘perangkat astronomi kuno untuk mengukur ketinggian benda langit.

Sejak pertengahan abad ke-10, kontak perdagangan antara Eropa Barat dengan pedagang Muslim telah berkembang (Watt, 1997:26). Pemindahan barang-barang perdagangan dilakukan di Laut Tengah. Orang-orang Islam saat itu sudah mengenal teknologi pelayaran. Mereka sudah mempunyai kapal dengan teknologi “lateen” yaitu layar yang berbentuk segitiga sepanjang langsiran pada sudut 450 dari tiang kapal. Kapal dengan layar “lateen” dapat bertahan melawan angin. Prinsip pelayaran laut ini kemudian diambil oleh para pembuat kapal Eropa dan dikembangkan. Dengan kapal itu, orang Eropa berhasil membuat kapal yang mampu menyebrangi Laut Atlantik dan melakukan pelayaran penjelajahan besar-besaran.

Perang Salib telah membuka jalan bagi Eropa untuk berkembang pesat dan maju. Selama Perang Salib dan sesudahnya, umat Islam di Timur telah memberikan banyak kontribusi bagi kemajuan Eropa. Melalui karya-karya umat Muslim berbahasa Arab yang di terjemahkan ke bahasa Latin, orang Eropa mendapatkan banyak ilmu pengetahuan di berbagai bidang. Selain itu, interaksi sosial budaya yang terjadi di tengah kehidupan bermasyarat telah memberikan pengaruh terhadap gaya hidup dan citarasa masyarakat Eropa. Perubahan gaya hidup dan makanan orang Eropa telah membuat perdagangan dan industri perekonomian Eropa meningkat pesat. Sejalan dengan berkembanganya perdagangan internasional  di Eropa, masyarakat Eropa mulai mengenal kompas dan teknik pelayaran dan pembuatan kapal. Pengetahuan teknik pelayaran tersebut telah membuat bangsa Eropa dapat melakukan penjelajahan besar-besaran mengarungi samudra dan menemukan dunia baru


        Hillenbrand, Carole. 2005. Perang Salib: Sudut Pandang Islam. Jakarta: Serambi.

        Hitti, Philip K. 2010. History of The Arabs: From the Earliest Times to the Present. Jakarta: Serambi.

    Watt,  W Montgomery. 1997. Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan. Jakarta: Gramedia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s