Klik

Pernahkah kamu mengalami saat ketika kamu bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya dan kamu merasa langsung “klik” dengannya. Semakin kamu bertemu dan berteman dengannya, kamu semakin “klik” dan nyaman menjalin hubungan dengannya. Kamu bisa menerima segala lebih dan kurangnya, segala keunikan tentang dirinya.

Dengannya, kamu bisa berkembang bersama. Kamu dengan lapang dada menerima saran dan kritiknya. Kamu pun juga tidak segan memberi saran dan mengkritiknya.

Di hadapannya kamu bisa menjadi diri sendiri lengkap dengan keunikan dirimu. Kamu juga tidak keberatan sedikit demi sedikit memoles kekuranganmu menjadi lebih baik. Bukan berubah menjadi orang lain. Tetap menjadi diri sendiri. Namun, mempercantik hal yang sudah baik dan belajar memperbaiki yang masih kurang baik. Dan kamu sadar perubahan dan perbaikan sifat minus dirimu itu adalah hal yang baik untuk hidupmu.

Kamu bisa bercerita banyak hal kepadanya meskipun kamu baru mengenal dirinya. Rasa-rasanya kamu dan dia sudah berteman lama. Ada keingintahuan dalam dirimu untuk lebih tahu dan kenal dirinya.

Ada pula saat ketika kamu awalnya tidak merasa “klik” dengannya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ada rasa keinginan untuk bisa “klik” dengannya. Dia pun demikian terhadap dirimu. Untuk bisa “klik” kamu dan dia mau menjalani proses “klik” meskipun tidak mudah. Dan kalian mulai bisa menikmatinya. Kamu ingin lebih mengenal dirinya. Demikian juga dirinya kepada kamu. Hingga kamu dan dia bisa menemukan frekuensi “klik” yang sama.

Pernahkah juga kamu mengalami saat ketika seberapa kerasnya kamu berusaha untuk “klik” dengan seseorang, tetap kamu merasa tidak “klik” dengannya. Hubunganmu dengan dirinya sebatas hubungan formal. Sayangnya, kamu dan dia berada dalam situasi di mana kamu dan dia harus bekerja sama.

Kamu berusaha tidak menyakitinya. Bukan tidak suka, kamu hanya tidak ingin berurusan lebih dengannya. Kalau urusannya sudah selesai, ya sudah. Yang penting buat kamu, kamu tidak menyakiti dan merepotkannya. Kalau dia perlu bantuan, kamu bersedia membantunya. Tapi, kalau kamu yang sedang membutuhkan bantuan, kamu sangat canggung untuk meminta bantuannya.

Kamu sangat menjaga sikap di depannya. Ada hal canggung antara kamu dengan dirinya yang kamu sendiri tidak tahu kenapa. Kamu juga tidak berusaha mencari tahu tentangnya. Dan kamu tidak punya keinginan berbagi cerita dengannya.

Kemudian pernahkah kamu merasakan hal tersebut secara bersamaan. Lalu kamu bisa dengan sadar merasakan perbedaan rasa antara rasa bersama orang yang kamu “klik” dengannya dan rasa bersama orang yang kamu harus berusaha keras untuk “klik” dengannya, tapi tetap tidak bisa.

Kita tidak perlu seseorang yang “sempurna” untuk menjadi teman dalam perjalanan hidup. Kita perlu seseorang yang “pas” bagi diri kita untuk menjadi teman seperjalanan dalam hidup. Karena kita butuh teman yang “pas”, rasanya tidak bijak menyamaratakan standar dalam menemukan teman yang “pas”. Setiap orang punya ukuran “pas”nya masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s