Maaf

Pertengkaran kami saat menjelang sore itu tidak juga teredamkan oleh gemuruh petir di luar. Kami saling adu mulut. Tidak ada yang mau mengalah. Saling menyalahkan dan berteriak. Dengan sekuat tenaga dan hati, aku menahan air mata. Sampai pada akhirnya air mataku tumpah juga. Kalau aku sudah menangis, dia perlahan akan mundur. Melihatku menangis, dia diam …

Dendam

“Lalu apa bedanya dirimu dengan dia yang menyakitimu jika kau biarkan dendam yang membara di hatimu membakar dirinya,” katanya sambil menatapku dalam dan tenang. Kutatap matanya lekat-lekat. Kami saling menatap. Saling meyakinkan. Bahwa dendam yang kupendam dalam hati tidak akan hilang sampai aku berhasil membuat orang itu merasakan kepedihan dan kesakitan yang kurasa. Sementara dia, …