Ambivert yang Kerja dari Rumah

Ya, sudah satu bulan masa karantina. Aku sendiri tidak merasakan karantina satu bulan penuh karena di awal karantina aku masih ke kantor hingga akhirnya intensitas ke kantor berkurang drastis. Itu dengan rute rumah-kantor-rumah dengan naik kendaraan pribadi. Pulang kantor langsung mandi dan keramas (sampo dan sabun mandi jadi barang yang cepat harus direfil). Di kantor pun protokol jaga jarak, pemeriksaan suhu tubuh, penyediaan hand sanitizer dan sabun cuci tangan dilakukan.

Untuk orang berkepribadian ambivert dominan ekstrovert, keharusan berada di rumah dalam waktu yang sangat lama menjadi tantangan tersendiri. Ambivert dalam bekerja yang paling aku rasakan adalah aku tidak bisa bekerja dalam kesendirian. Bukan tidak bisa bekerja sendiri. Akan tetapi, benar-benar sendiri, tidak ada orang lain di sekitar. Pernah gak melihat orang sendirian di tempat makan/kafe/kedai kopi sibuk dengan laptopnya dan ia tidak masalah dengan itu karena memang ia membutuhkan keramaian di sekitar tanpa mengganggu dirinya. Di kantor sibuk sendiri dengan layar laptop di meja kerja dengan sisi kiri kanan depan belakang teman-teman kantor.Nah, begitulah yang aku rasakan dan lakukan. Sendiri di tengah keramaian. No problem.

Lalu dalam sekejap harus dihadapkan dengan kondisi benar-benar bekerja sendiri di rumah. Tantangan sekali. Aku terpikirkan masa-masa mengerjakan skripsi. Hal yang sama aku kembali lakukan saat ini. Bekerja ditemani Bapak. Ruang tengah menjadi ruang kerja. Bukan kamar tidur. Televisi hanya menjadi pemecah sunyi. Bapak hanya sesekali menikmati tontonan TV. Selebihnya hanya rebahan di sofa atau kasur. Melihat aku yang sibuk menatap layar laptop dengan kuping tersumpal earphone. Ya, begitulah saat aku mengerjakan skripsi dahulu. Sama seperti sekarang. Jelas dong kerja seorang diri di kafe/kedai kopi saat sangat tidak memungkinkan. Ya, orang rumah yang menjadi teman.

Selain itu ada juga orang sekitar rumah. Ruang kerja kedua di rumah adalah beranda lantai 2 rumah. Tempat ini menjadi ruang kerja di pagi dan sore hari. Dari beranda lantai 2 bisa terdengar riuh suara tetangga sebelah. Riuh bocah di pagi hari. Kicau burung tetangga, Dan sesekali berbincang dengan tetangga sebelah via beranda ke beranda. Ada keramaian yang tidak menggangu menemani aku bekerja di sini.

Aku sangat menghindari kamar tidur dan tempat tidur karena itu membuat sangat tidak produktif selama bekerja di rumah. Sejak tahun ketiga merasakan dunia kerja pascawisuda, aku memang sudah meniatkan untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah, kecuali di waktu tertentu yang sangat mendesak. Rumah adalah rumah, tempat pulang, tempat istirahat, tempat keluarga. Kalaupun harus ada pekerjaan yang dibawa, aku kerjakan di kafe atau kedai kopi, jarang di rumah. Karena itu, di rumah tidak ada ruang khusus untuk kerja.

Apakah bekerja di rumah selama karantina mengubah pemikiran kerja harus di luar rumah menjadi di rumah bisa kok kerja efektif? Ada sedikit saat ini. Entah di masa depan. Untukku dengan keambivertanku dan pekerjaanku sebagai editor naskah yang sangat butuh fokus dan sangat sering dihinggapi kebosanan, bekerja di rumah dengan ada distraksi urusan rumah tangga, ketiadaan orang lain untuk diskusi dan tukar pikiran dalam hal pekerjaan, tiada keramaian yang tidak mengganggu, untuk saat ini pemikiranku masih sama. Bagiku tidak bisa bekerja maksimal di rumah tanpa siasat khusus yang tricky banget dan harus diusahakan banget sebelum bekerja. Rumah bagiku masih sama, rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s