Maaf

Klakson kendaraan saling bersahutan. Keributan antara dua pengendara motor di depan berhasil membuat macet lalu lintas. Seorang bapak sekitar usia 40-an tahun (sebut saja Bapak Jaya) dengan seorang pemuda berusia 20-an tahun (sebut saja Mas Bagus).

Ingin menghindari mobil yang berhenti di depannya dan terus berjalan, Pak Jaya menyalakan lampu sen ke kanan dan perlahan mengarahkan kendaraan ke sisi kanan mobil. Jarak motor Pak Jaya dengan kendaraan di belakangannya lumayan agak jauh. Namun, tiba-tiba sebuah motor dari belakang hampir saja menabrak motor Pak Jaya. Untungnya tidak tertabrak, hanya bersenggolan lalu motor keduanya oleng dan keduanya jatuh ke sisi kanan.

Setelah terjatuh, alih-alih meminta maaf, Mas Bagus yang menabrak dari belakang, langsung bangun mengatakan, “Pak, saya lagi buru-buru. Saya minta nomor telpon Bapak aja ya. Nanti saya telpon Bapak atau Bapak yang telpon saya.”

Pak Jaya yang juga sudah berdiri awalnya biasa saja dan tidak menunjukkan ekspresi marah langsung naik pitam. “Heh Mas, kalau pengen cepet semua juga pengen cepet. Emang cuma Mas doang?” Pak Jaya dengan nada tinggi.

“Minggirin itu motor. Jangan seenaknya pergi gitu aja. Boro-boro minta maaf,” kata Pak Jaya sambil menunjuk motor Mas Bagus dari mengarahkannya ke pinggir jalan. Dibantu dengan beberapa pengendara lain yang berhenti, motor Pak Jaya dan Mas Bagus dibawa ke pinggir jalan agar tidak membuat macet jalan.

“Kamu tau gak. Tadi saya gak mau mempermasalahkan ini. Tapi sikap kamu kurang ajar gitu. Bukannya minta maaf, malah mau pergi gitu aja,” kata Pak Jaya tanpa basa-basi begitu mereka sudah di pinggir jalan.

“Maaf, Pak. Maaf saya gak sengaja,” kata Mas Bagus sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. “Saya buru-buru.”

“Ya, tapi jangan gitu dong, Mas. Masa mau pergi gitu aja sudah nabrak motor orang. Untung orang sama motornya gak kenapa-napa. Kalau ada yang luka atau rusak gimana? Minta maaf dong. Gak bisa maen pergi gitu aja,” kata Pak Jaya dengan nada bicara yang sudah mulai merendah.

“Iya Pak. Saya salah. Saya minta maaf. Coba Bapak cek dulu ada yang luka atau rusak gak, Pak. Nanti saya ganti rugi, Pak.”

Setelah itu saya tidak tahu lagi kesepakatan mereka berdua. Sepintas Pak Jaya terlihat tidak apa-apa. Motornya juga baik-baik saja, hanya spion sebelah kanannya yang retak dan mungkin lecet-lecet. Mungkin akan ada ganti rugi yang dibayar. Dalam pengamatan saya, memang Mas Bagus yang salah dari awal, tidak memperhatikan motor Pak Jaya yang sudah menyalakan lampu sen dan menerobos begitu saja.

Saya yang sedari awal mengikuti keributan mereka karena berada di belakang dekat motor Mas Bagus sudah tidak penasaran lagi dan langsung pergi meninggalkan keramaian itu. Waktu Isya sudah lewat, kalau tidak segera jalan lagi, kajian Rabu malam di Masjid Agung al-Azhar pasti sudah mulai sejak lama saat saya sampai di sana.

Malam itu selepas shalat Maghrib di Masjid Cut Meuthia sama sekali tidak saya niatkan untuk lewat rute Tendean-Blok M. Entah kenapa begitu keluar dari Kuningan sebelum masuk Mampang, saya belokkan saja kendaraan saya ke kanan ke arah Blok M padahal saya sudah lama tidak lewat rute itu karena masih menganggap jalannya rusak, nyatanya jalannya sudah halus dan rapi. Bisa jadi karena bayangan macet karena banyaknya lampu merah yang harus saya lewati sepanjang Mampang dan kemacetan di Kemang sudah ada di kepala saya sejak saya keluar dari Masjid Cut Meuthia. Ternyata malam itu di rute itu saya dapat satu pelajaran lagi dan diingatkan lagi tentang meminta maaf dan memaafkan.

Jika dilakukan dengan baik dan diucapkan dengan tulus kata-kata ajaib: tolong, terima kasih, maaf, memang benar akan menunjukkan keajaibannya. Seseorang yang awalnya berusaha memahami dan memaafkan, naik pitam tiba-tiba ketika ia dianggap tidak penting, diabaikan, ditinggalkan begitu saja. Dan itu berat karena ia harus lebih berdamai dengan dirinya sendiri untuk tidak semakin marah, untuk semakin bisa menahan amarahnya. Bukan benda material, tetapi hanya sepenggal kata maaf yang diucapkan dengan tulus dan dilakukan dengan sebenar-benarnya bukan hanya sekadar formalitas, yang bisa menghapus semua amarah itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s