SILATURAHIM SEPINTAS LALU

Selama satu pekan lebih dua hari saya menjadi pengguna setia Transjakarta rute Pondok Labu-Blok M dan Blok M-Kota (PP) dan sesekali transit ke rute PIK-Balai Kota atau Harmoni-Pulogadung karena kendaraan saya sedang diurus perpanjangan STNK per lima tahun atau penggantian plat nomor kendaraan dan sesekali ingin mencoba bus pengumpan Transjakarta.

Bagi saya yang terbiasa naik kendaraan pribadi ke mana-mana, naik kendaraan umum setiap hari selama satu pekan adalah hal yang sangat menarik dan (jujur) norak saat mengetahui kondisi fasilitas bis pengumpan Transjakarta yang lumayan bagus, nyaman, bersih, supir dan kondekturnya sopan, sejuk ber-AC, teratur jadwalnya, ada bus stop walaupun tetap kena macet, dan ternyata murah meriah hanya Rp3.500 sekali jalan dari bus stop One Bell Park s.d. Halte Balai Kota. Setiap hari hanya Rp7.000 ongkos PP yang dikeluarkan walaupun sering transit dengan fasilitas yang nyaman dan bisa membuat saya tidur (kalau mengendarai kendaraan pribadi sudah jelas berangkat dan pulang kerja tidak bisa tidur selelah apa pun kondisi badan).

Setiap hari saat berangkat dan pulang, saya bisa melihat dan bertemu orang banyak dengan penampilan dan karakter yang sering sotoy saya tebak-tebak tidak berhadiah. Bertemu dengan laki-laki yang mudah memberikan tempat duduknya untuk perempuan yang berdiri atau untuk seorang ibu tua. Bertemu dengan laki-laki yang dengan enaknya duduk sementara banyak penumpang perempuan yang berdiri. Bertemu dengan seorang ibu yang dengan mudahnya menceritakan kehidupan keluarganya kepada saya yang baru dikenalnya. Bertemu dengan banyak orang yang asyik dengan telepon pintarnya sambil menutup telinganya dengan earphone. Hampir tidak pernah saya temukan orang yang baca buku/koran di bus atau halte.

Termasuk juga tanpa bermaksud menguping pembicaraan mereka, saya mendengar apa yang mereka perbincangkan (gimana tidak terdengar kalau mereka bicara dengan suara keras dan saya duduk di samping atau di depannya). Pernah saya mendengar pembicaraan segerombolan anak SMP yang dengan mudah dan tanpa bersalah mereka bilang (maaf) “Beg*”, “Anjin*”, “Gil* lu” serta anak perempuannya asik berswafoto dengan gaya dibikin imut. Atau pembicaran dua orang ibu yang isinya banyak ngomongin ibu-ibu lain. Atau pembicaraan tiga orang yang satu kantor membicarakan tidak enaknya pekerjaan mereka. Pernah juga di lain waktu saya mendengar pembicaraan dua orang tentang rencana-rencana mereka dalam pekerjaan dan pembicaraan lainnya.

Di antara pengalaman baru yang saya temui dan rasakan selama satu minggu lebih dua hari yang paling menarik dan menggelitik saya adalah ketika saya mendengar percakapan dua orang ibu yang sekian lama tidak bertemu lalu mereka bertemu secara tidak sengaja di bus Transjakarta.

Ketika itu bus pengumpan Transjakarta rute Blok M-Pondok Labu dengan jumlah penumpang yang tidak banyak, ada beberapa kursi kosong, berhenti di bus stop Blok A lalu naiklah seorang ibu tua (sebut saja Bu Bunga) dan bertemu dengan seorang ibu tua lainnya (sebut saja Bu Kembang) yang duduk di samping saya. Tanpa basa-basi Bu Kembang menyapa Bu Bunga dengan cerianya dan tidak lama melontarkan berbagai pertanyaan.

(Percakapan di bawah ini tidak sama persis dengan apa yang diucapkan Bu Bunga dan Bu Kembang, tetapi kurang lebih seperti itu)

“Abis dari mana?” tanya Bu Kembang.
“Dari rumah anak.” jawab Bu Bunga.
“Ngapain?”
“Nengokin cucu.”
“Udah berapa cucunya?”
“Tiga. Yang paling kecil baru tiga bulan.”
“Terus anakmu yang laki si (sebut saja namanya Putra) itu sudah nikah?” tanya Bu Kembang lagi.
“Belum.”
“Loh kenapa? Dia kan umurnya gak jauh beda sama anakku yang nomor dua. Anakku sekarang udah mau punya anak tiga.”
“Katanya masih mau bantu (sebut saja namanya Putri) kuliah dulu sampe lulus, dapet kerja.”
“Putri anakmu yang paling kecil itu? Udah semester berapa dia? Kuliah di mana?”
“Ambil jurusan gizi. Baru semester 3.” jawab Bu Bunga.
“Eh, temen kantorku itu juga ada yang anaknya belum nikah, perempuan. Kayaknya umurnya gak jauh beda sama anakmu. Anaknya gak neko-neko, sederhana, baik juga, sekarang kerja jadi perawat. Tapi emang belum ketemu jodohnya, sampe sekarang belum nikah. Kalau mau, bisa mereka dikenalin. Kalau si Putra anakmu itu masih mau bantuin kuliah Putri, mungkin anaknya temenku itu bisa ngerti nantinya pas udah jadi istri. Orangnya beneran gak neko-neko. Aku juga kenal sama anaknya, baik. Itu kalau si Putra nungguin Putri selesai kuliah, kapan nikahnya. Umurnya udah lebih dari 30 gitu. Siapa tau mereka jodoh, kan jodoh bisa dateng darimana aja. Gak ada salahnya coba dikenalin. Putra kan anaknya baik udah kerja juga.” Bu Kembang bicara dengan semangat.
“Lah kita mah orang tua pengennya juga begitu. Cuma anaknya mikir begitu. Kan Bapak juga lagi sakit.”
“Sakit apa Bapak (maksudnya suami Bu Bunga)? Katanya udah pensiun kan?”

Ceritalah Bu Bunga tentang kondisi suaminya yang sudah pensiun dan belum lama ini mengalami stroke cukup parah.

“Coba dibawa ke RS PON, di sana ada khusus yang nanganin orang stroke. Bisa pake BPJS juga. Dulu kakak iparku juga pernah kena stroke sampe badan sebelah kanannya gak bisa gerak, bibirnya mencong gak bisa ngomong. Alhamdulillah bisa sembuh. Fisioterapi juga di sana. Sekarang alhamdulillah udah ada BPJS, bisa bantu biayanyalah. Biar pake BPJS juga cepet dan dilayaninnya bagus.”

“Kadang pusing juga ngurusin Bapak. Kalau gak sering diingetin dan dibantuin Putri, bisa stres kali.”

“Emang kitanya juga musti sabar ngurus orang sakit. Nyuapin, mandiin, gantiin baju. Harus sabar. Kita yang ngerawatnya juga sampe jangan ikutan sakit. Jangan stres. Itu anak-anak kan juga udah pada gede-gede. Udah bisa ngurus urusan masing-masing. Paling yang masih diurusin, kita masak buat sarapan sama makan malem abis pulang kerja, cuci, nyetrika. Paling anak bantuin nyuci piring, nyapu, ngepel. Yaa.. namanya lagi dikasih ujian ya musti sabar kita ngadepinnya. Allah yang ngasih, mintanya juga ke Allah. Berdoa kita.” Bu Kembang terus bicara panjang lebar.

“Main ngapa ke rumah kan deket.” kata Bu Bunga.
“Iya dah. Kapan-kapan nanti kita main ke rumah. Nengokin sekalian ketemu Putra juga. Hati-hati dah ya.” kata Bu Kembang saat Bu Bunga akan turun duluan.

Pertanyaan ingin tahu Bu Kembang bisa jadi terdengar senada dengan pertanyaan-pertanyaan kepo: kapan lulus, kapan widusa, sudah kerja, kerja apa sekarang, kapan nikah, kenapa belum nikah, kapan ini kapan itu. Menariknya, alih-alih memberikan tanggapan yang menghakimi Bu Bunga atas apa yang terjadi, Bu Kembang berusaha untuk membantu, memberikan solusi, memotivasi setelah mengeluarkan pertanyaan keponya. Tidak bermaksud merendahkan Bu Bunga.

Kalaupun pada akhirnya pertanyaan yang dianggap mengerikan dan membuat orang yang ditanya sangat tidak nyaman itu kita keluarkan, niatkan dalam hati bahwa kita bertanya untuk membantunya atau ketika tidak bisa membantu dan memberikan solusi, niatkan hati kita untuk memotivasinya.

Orang yang belum lulus, yang belum wisuda, yang belum bekerja, yang sudah bekerja tapi pekerjaannya biasa saja dengan gaji juga biasa saja, yang belum menikah, belum punya anak, belum punya ini belum punya itu, belum ini belum itu, atau yang lainnya. Mereka pasti punya motif, alasan, dan sesuatu di balik itu semua. Yang tidak perlu dijelaskan kepada orang banyak. Yang ia sendiri pun sudah lelah menjelaskan, sudah lelah berusaha tapi ia tetap berusaha. Yang hal itu bisa jadi belum mereka temukan jalan keluarnya (dan Allah belum menghendaki) meskipun sudah sedemikian kuat mereka berjuang untuk mengatasinya.

Bukan untuk menyombongkan diri sudah melewati apa yang orang itu belum lewati, sudah memiliki apa yang belum orang itu miliki. Bukan untuk menghina apalagi mencela. Bukan untuk merendahkan. Bukan untuk datang tiba-tiba lalu meruntuhkan semangat hidupnya yang sudah dengan susah payah ia kumpulkan satu per satu, meruntuhkan keberaniannya untuk menjalin silaturahim dengan harapan bisa ia nikmati momen kebersamaan itu, meruntuhkan kekuatannya yang ia satukan dari kepingan-kepingan usahanya mencari jalan keluar.

Kalau tidak perlu, tidak penting, dan bisa pertanyaan-pertanyaan itu tidak dikeluarkan, bisa jadi itu akan lebih baik bagi orang yang ditanya hingga ia memiliki kenyamanan dan kepercayaan untuk membuka diri memulai ceritanya. Meminta didengarkan, diberi nasihat dan solusi.

Dari pertemuan dan percakapan Bu Bunga dan Bu Kembang yang hanya sepintas lalu, tidak sengaja, dalam waktu yang singkat, mungkin itu salah satu makna silaturahim bisa membuka pintu rezeki, bisa memperpanjang umur karena dengan bersilaturahim (tanpa cela pertanyaan menyakitkan) bisa menemukan insight jalan keluar masalah yang ada, menemukan solusi yang dicari, bisa membantu orang yang membutuhkan, bisa memberi orang yang yang patut diberi, dan bukankah memberi adalah salah satu jalan kebahagiaan dan kebahagiaan jiwa raga akan membuat kita sehat.

**baru menyadari sudah lama sekali akun ini dibiarkan begitu saja
**langsung pasang tulisan panjang
**tulisan cerita ini juga dimuat dalam asankagantari.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s