Bukan Pelarian Lagi

“Apa? Jadi sejak awal kamu sudah tahu? Jangan-jangan kamu sebenarnya sudah tahu kehadiran diriku di stasiun. Jadi sosok yang aku lihat dari halte Transjakarta dan membuatku ngos-ngosan mengejar adalah benar bahwa itu kamu. Itu bukan khayalanku.” kataku menyerocos.

Tersenyum. Hanya itu jawaban yang Arya berikan. Ah, Arya mengapa kamu seperti ini kepadaku. Kamu benar-benar memunculkan banyak tanya di benakku.

“Kenapa?” tanyaku.

“Apanya yang kenapa?” dia berbalik bertanya.

“Kenapa kamu memutuskan untuk tetap ikut?”

Arya terdiam. Sudah tidak ada lagi senyum di bibirnya. Aku menanti jawaban Arya. Apakah dia ingin bertemu denganku? Apakah ternyata ia diam-diam masih mencari informasi tentangku setelah kepergiannya? Apakah dia tidak takut bertemu denganku? Atau justru ia juga ingin bertemu denganku?

“Selain karena sudah mengiyakan ajakan Hadi dan berjanji akan ikut, juga karena kamu, Hania. Aku ingin memastikan seorang Hania dalam kondisi baik dan tidak terluka.” katanya dengan tenang.

Aku tertegun mendengar jawaban Arya.

“Pasti ada pertanyaan lain atas jawabanku. Sudahlah. Lain waktu saja kita bicarakan hal ini. Aku lelah dan kamu juga lelah. Istirahatlah. Perjalanan kita menuju Solo masih panjang.” kata Arya berusaha mengakhiri pembicaraan.

“Tapi kamu tidak bisa begitu. Pembicaraan kita belum selesai.” kataku tidak mau menyerah.

Arya tidak memedulikan perkataanku. Dia sibuk mengubah posisi duduknya. Mencari posisi nyaman untuk tidur.

“Kamu kalah Arya. Aku yang menang dapat bertahan mendengar ceritamu dan aku belum bosan.” kataku sinis.

“Aku tidak peduli.” ucap Arya lalu menutupi wajahnya dengan topinya.

Empat tahun yang lalu di Gunung Gede katanya. Empat tahun lalu saat aku merasa kehilangan arah karenanya. Empat tahun lalu nyatanya aku dan dirinya begitu dekat meski tidak dipertemukan. Jika aku bisa kembali pada diriku empat tahun lalu di Gunung Gede akan kukatakan semua baik-baik saja tanpanya. Ada hadiah yang lebih indah dari hasrat bisa bertemu dengan seorang bernama Arya Kusumanegara. Kuhela napas panjang. Alhamdulillah. Kubisikkan kata syukur dalam hati.

Kupandangi sebentar diri Arya. Perubahan Arya menjadi lebih ramah dan hangat dengan senyumannya di mataku beberapa saat lalu, tidaklah sepenuhnya ada dalam diri Arya yang dahulu kukenal. Sisi dirinya yang dingin, tidak mau tahu urusan orang lain padahal diam-diam memperhatikan. Sekarang ia ada di hadapanku. Melihatnya menyusupkan rasa tenang dalam diriku. Aku senang dapat bertemu dengannya dan sekarang dia lebih banyak tersenyum. Entah hal apa yang membuat sisi hangat seorang Arya bisa semakin muncul ke permukaan. Dalam waktu lima tahun semenjak kepergiannya yang tanpa kabar sampai pertemuan kami ini pasti banyak hal yang terjadi padanya.

Sebelum tidur, kucek pesan-pesan masuk di whatsapp yang dari siang tidak dibuka.

Empat ratus pesan lebih hanya di satu grup yang paling berisik, pesan yang pertama kali aku buka. Rupanya cerita tentang rencana pendakianku hari ini menjadi pemantik obrolan candaan bertema khas tidak jauh-jauh dari pencarian teman hidup dan masa depan, meramaikan grup. Di grup teman-teman kampus hal apa pun bisa jadi bahan pembicaraan, tidak pernah sepi. Beberapa teman berpesan agar aku berhati-hati selama pendakian agar bisa turun gunung dengan selamat. Bagas, salah satunya, orang paling bijaksana di grup, si pembuat postingan pesan-pesan yang memberatkan obrolan renyah remeh temeh.

Lama aku memandangi layar telepon genggamku membaca pesan Bagas. Sedang apa dia di Inggris sana. Bagas, seorang teman yang sangat peduli kepada teman-temannya. Melalui Bagas, aku menemukan kekuatan di saat terpuruk dan membuatku mampu melewati waktu-waktu sulit ketika satu per satu orang-orang pergi meninggalkan. Aku tidak begitu menyadari sejak kapan dalam doaku tersebut satu nama lagi: Bagas. Kupandangi lampu-lampu jalanan di luar. Tiba-tiba ada rindu yang menyusup.

***

Tidak ada yang pernah rela meninggalkan sesuatu atau seseorang yang dicintai. Tidak ada pula yang sangggup menahan pilu ditinggalkan oleh dia yang dicintai. Meskipun pada akhirnya kehidupan harus tetap berjalan, kesedihan itu tetap ada. Ia tidak pernah menghilang sepenuhnya. Yang meninggalkan dan yang ditinggalkan sama-sama tidak ada yang rela dengan perpisahan. Namun, tidak bisa tidak. Pertemuan dan perpisahan adalah satu paket yang harus diterima dan dilakoni dalam kehidupan. Adalah kenangan yang tertinggal dalam memori di berbagai dimensi waktu. Orang-orang keluar masuk dalam kehidupan. Kehadiran dan kepergian mereka bukan tanpa maksud. Pahit dan manis, suka dan duka, air mata dan tawa semua memberikan warna dalam hidup, memberi sejuta kisah dan pelajaran berharga dalam sekolah kehidupan. Segala rasa yang harus diikhlaskan penerimaaannya hingga ia benar-benar meresap menjadi makna sebuah hikmah yang dengannya kita akan paham dengan kehendak Sang Pemilik Takdir.

Perjalanan menuju Yogya malam itu, dengan adanya sesosok perempuan bernama Hania di hadapanku, membuka semua akses memori tentang Hania. Hania tidak pernah menghilang dari pikiran seorang Arya. Segala kenangan tentang Hania tersimpan rapi dalam setiap folder memoriku. Seorang Arya tidak benar-benar melupakan Hania. Aku hanya ingin menyimpan rapi, bukan membuangnya. Sekarang melihat Hania terlelap tidur, folder-folder itu terakses dengan sendirinya. Mungkinkah sosok Hania dapat terlupakan?

 

***

Oke sudah hampir dua pekan aku tidak memposting tulisan, baik di rumah wordpress maupun di rumah tumblr. Ini bukan tanpa sebab karena aku menulis di tempat lain, masih termasuk #project1439 juga. Saat ini dengan target di bulan Oktober selesai aku sedang menyelesaikan karya berupa naskah fiksi alias novel pertama. Penyelesaian salah satu #project1439 ini merupakan perealiasasian rencana yang sudah cukup lama tertunda karena berbagai hal.

Sepenggal tulisan di atas merupakan penggalan tulisanku di karya pertama. Seperti apa kelanjutan dan akhirnya? Aku juga tidak sabar menantikan karya ini selesai dan siap dikirimkan untuk dipublikasikan ke lebih banyak pembaca.

Aku kembali tersadarkan bahwa untuk menyelesaikan satu karya terbaik juga harus memberikan waktu terbaik, pikiran terbaik, raga terbaik, jiwa terbaik, hati terbaik. Sebuah karya tidak lagi hanya sekadar menjadi tempat pelarian seperti yang pernah aku tulis di http://asankagantari.tumblr.com/post/141771924107/tempat-pelarian

Mari bersemangat menyelesaikan karya yang tidak boleh lagi ditunda karena alasan apa pun. Sekarang kamu bukanlah tempat pelarian lagi….

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s