Tentang Editor (1)

Apa yang kamu pikirkan tentang pekerjaan sebagai seorang editor buku?

Kebanyakan dari kita atau mungkin bayangan anak-anak lulusan kuliah bahasa seperti saya ini adalah pekerjaan yang hanya mengurus masalah bahasa seperti keefektifan kalimat dan EYD. Akan tetapi, oh ternyata tidak semudah itu kawan. Pengalaman saya tiga tahun menjadi editor buku mengajarkan bahwa kemampuan bahasa seorang editor hanya menjadi sekian persen dari keseluruhan kemampuan yang harus dimiliki seorang editor. Ada penerbit yang membedakan dengan jelas antara editor bahasa, yang jobdesknya hanya bertanggung jawab terhadap teks, dengan editor yang bertanggung jawab atas keseluruhan naskah. Namun, ada juga penerbit yang tidak membedakannya. Editor bahasa yang juga editor buku secara keseluruhan. Itu yang saya kerjakan saat ini.

Editor itu setidaknya juga harus mengerti perlayoutan. Belajar program Indesign. Kamu harus mengerti perwajahan buku, pemilihan jenis font dan ukuran font yang sesuai dengan isi naskah. Tampilan baris per baris. Sudah ratakah. Terlalu renggangkah atau terlalu dekat. Karena program indesgin itu, satu perubahan mempengaruhi tata letak secara keseluruhan.

Itu berarti ada baiknya kamu sudah harus mempunyai konsep buku dari naskah yang kamu pegang. Konsep buku untuk naskah-naskah referensi tentu akan berbeda dengan konsep untuk naskah-naskah tentang biografi, naskah fiksi, naskah dengan tema tertentu.

Kalau kamu mengerjakan naskah terjemahan, kamu harus mengerti konteks pembahasan secara keseluruhan. Siap-siap saja nangis bombay ketika mengedit naskah terjemahan yang plek-plekan, kaku, dan tidak mengikuti kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Masih mending jika halaman naskahnya hanya 100-200 halaman. Akan tambah nangis bombay jika halaman naskahnya lebih dari 500 halaman dengan deadline yang ketat. Kemampuan bahasa asing (atau bahasa awal naskah yang sedang diedit) pada kondisi seperti itu amat sangat membantu. Kalau kemampuan bahasa asingnya masih kurang, kemampuan meminta bantuan (terkadang bisa juga dibaca kemampuan merecoki) waktu rekan kerja atau orang lain yang mengerti naskah agar dia mau membantu kamu sangat dibutuhkan. Supaya ketika kamu mengedit satu kalimat A menjadi kalimat B, perubahan itu tidak mengubah makna, maksud, dan tujuan yang ingin disampaikan penulis. Kabar baiknya berarti belajar bahasa asing menjadi penting.

Awalnya bukan hanya kewajiban bagi editor saja, tetapi seiring berjalannya waktu, aktivitas membaca menjadi sebuah kewajiban bagi seorang editor. Membaca akan membuat kosakata dan pengetahuan menjadi banyak. Membaca apa pun, buku, koran, media online, termasuk kamus. Kumpulan kosakata yang banyak akan membantu ketika memilih kata dalam sebuah kalimat yang menjadikannya pas sesuai konteks pembahasan naskah yang sedang diedit. Selain itu juga akan membantuk jika dalam waktu sekejap kamu harus membuat judul dari sebuah buku. Kamu bisa memililih kata yang pas untuk judul yang kece dan bombastis. Membaca juga akan menjadikan pengetahuan editor tentang berbagai macam buku semakin bertambah. Pengetahuan itu akan menambah daya pikir, daya kreatif, menambah ide dan menambah peka insting seorang editor terhadap sebuah naskah.

Kemampuan komunikasi dan negosiasi. Seorang editor harus bisa menyampaikan keinginannya atas sebuah naskah untuk diproses dengan baik. Tidak hanya satu dua pihak yang harus ia komunikasikan keinginannya. Ia harus mengomunikasikannya kepada atasannya, pihak manajemen, bagian perwajahan, layouter, designer pembuat cover, kepada korektor naskah, kepada bagian quality control. Ia harus bisa mempertanggungjawabkan konsep yang dibuat. Ia harus bisa mengomunikasikan apa yang dia inginkan, mendengarkan dan memahami keinginan pihak lain layouter dan designer, kemudian menegosiasikan keinginan kedua belah pihak. Yang pasti berkomunikasi dengan penulis

Update dengan kondisi kekinian dan kondisi pasar. Dunia perbukuan termasuk salah satu dunia kreatif dan kekinian. Seorang editor sedikit banyak harus mempunyai kemampuan membaca pasar, tren masa kini, dan peluang pasar dan tren di masa depan. Kemampuan ini akan membantunya mencari dan mendapatkan naskah-naskah yang berpeluang menjadi best seller di pasar.

Disiplin dan taat jadwal. Salah satu kerjaan di antara banyak kerjaan editor adalah mengurus penjadwalan naskah sehingga bisa diprediksikan waktu sebuah naskah siap cetak, menjadi buku, dan siap dipasarkan. Jadwal itu dimulai dari penilaian naskah hingga masuk ke bagian quality control. Dan yang diurus jadwalnya tidak hanya satu dua buku. Bahkan dalam satu waktu seorang editor harus mengawal penjadwalan lebih dari empat buku. Disiplin ini tidak hanya menjadi bagian editor saja, tetapi juga bagian perwajahan, layouter, designer, korektor, hingga bagian akhir quality control. Ketidakdisiplinan akan memunculkan masalah ketika satu proses molor, pasti akan berimbas pada molornya proses yang lain. Proses edit yang seharusnya diselesaikan dalam waktu 5 hari, molor jadi 7 hari akan berimbas pada proses edit buku lain yang sudah mengantri. Belum lagi target perusahaan yang ampun-ampunan.

Kemampuan mengingat bahagia, kemampuan membahagiakan diri sendiri dan orang lain, dan kemampuan mengatasi kebosanan tingkat akut. Ini menjadi kemampuan yang penting untuk dimiliki. Bukan hanya pekerjaan editor, saya pikir pekerjaan apa pun membutuhkan kemampuan ini. Pekerjaan editor yang banyak dan dilakukan dalam satu waktu bersamaan, dituntut harus bisa ini itu, dan siap siaga menjadi sasaran dijadikan kambing hitam untuk dipersalahkan membutuhkan energi bahagia untuk tetap waras (hahaha ini lebay). Kamu harus mengenali diri sendiri. Kapan kamu sudah harus berhenti sejenak untuk mencharger energi, tidak hanya energi fisik tetapi juga energi batin, jasmani dan ruhani. Kamu perlu mengatakan pada dirimu sendiri bahwa ini adalah saatnya untuk berhenti menepi dan meninggalkan semua yang berhubungan dengan pekerjaan lalu pergilah ke dunia lain yang bisa membuat semangatmu balik lagi. Termasuk juga dalam hal kebosanan, bosan mengedit naskah, plus halaman beratus-ratus, ditambah lagi satu judul yang sama jilidnya lebih dari tiga jilid.

Kamu mencintai dan menikmati pekerjaan yang kamu lakukan, apa pun pilihan pekerjaan kamu. Karena bekerja itu sudah sangat menguras energi, pikiran, waktu, kenyamanan, dan air mata. Amat sangat disayangkan jika sebuah keberkahan juga terkuras habis. Lakukanlah pekerjaan yang di sana kamu bisa mengeluarkan potensi terbaik dan kamu mau untuk terus belajar mengembangkan diri dan potensi kamu di pekerjaan yang kamu lakukan.

 

#menulisuntukkebaikan

#project1439

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s