Mengadaptasi Pakaian

Ternyata sama saja, berbelanja busana berkeliling pusat perbelanjaan atau keluar masuk online shop, keduanya sama-sama memakan waktu lama. Menyita banyak pikiran untuk mempertimbangan berbagai hal dalam memilih busana, mulai dari model, warna, ukuran, mengingat kembali model atau warna sejenis sudah dimiliki atau belum, dan kembali berpikir warna jilbab apa yang cocok dengan pakaian yang akan dibeli. Ribet. Memang. Namun, bagi kaum perempuan, termasuk aku, itu menyenangkan dan menimbulkan kepuasan tersendiri ketika mendapatkan barang yang diinginkan dan sesuai keinginan, modelnya, warnanya, ukurannya, semua cocok.

Akan tetapi, tidak selalu pakaian yang dicari ready stock. Atau modelnya cocok, warnanya oke, tetapi ukurannya tidak ada yang pas. Atau modelnya cocok, ukurannya pas, tetapi warna yang diinginkan tidak ada. Atau warnanya oke, ukurannya pas, tetapi modelnya tidak disukai. Rempong syekali.

Terkadang belum selesai sampai di waktu baju sudah ada di tangan. Salah satu kerepotan tambahan memiliki tubuh pendek dan badan mungil sepertiku adalah tidak bisa langsung memakai pakaian yang dibeli, terlebih lagi pakaian dengan model gamis. Dengan tinggi badan 155 cm dan berat badan 46 kg, susah sekali mencari baju yang ukurannya langsung pas dan nyaman dipakai.  Panjang baju yang banyak beredar di pasaran hampir semuanya kisaran 138-150 cm. Harus ke tukang jahit terlebih dahulu untuk memvermak pakaian, mengecilkan dan memotong panjang baju.

“Sama kayak milih jodoh ya, Dek?” tetiba saja ibu tukang jahit itu menyeletuk ketika sedang mengukur dan mengepaskan baju di badanku sembari menandai bagian-bagian yang akan divermak. Beberapa hari lalu aku datang ke ruko jahitnya dengan membawa tujuh baju gamis. Sudah tertunda hampir tiga bulan baju-baju itu tidak aku bawa ke ibu penjahit untuk divermak. Selama itu pula baju-baju itu tidak aku pakai.

Aku tertawa mendengarnya.

“Kalau ada laki-laki baik, bertanggung jawab, soleh lagi datang ingin serius membina rumah tangga, jangan ditolak. Kenalan dulu, dipikir-pikir dulu, siapa tahu cocok. Berdoa dan istikharah. Kalau sudah cocok, nunggu apalagi cepat disegerakan.” ibu penjahit itu berbicara sambil mencatat angka-angka berapa panjang setiap baju yang harus dipotong.

Aku hanya mengiyakan nasihatnya tersebut. Sekaligus meminta agar didoakan agar segera dipertemukan dengan laki-laki soleh nan baik, bertanggung jawab, dan bisa saling menerima keadaan masing-masing.

“Jangan terlalu milih-milih yang sempurna. Tidak ada orang yang sempurna.” tambahnya lagi.

“Aku tidak memilih-milih, Bu. Hanya saja memang belum dipertemukan. Bukannya tidak mau dan tidak pernah berkenalan dengan laki-laki yang serius. Pernah, tapi memang ada hal yang secara prinsip kami tidak sama.” kataku.

“Beda agama? Enggak ‘kan?”

Aku jawab dengan menggeleng-gelengkan kepala.

“Beda suku, beda adat, atau bahkan beda negara?”

Aku mengangguk-anggukkan kepala mengiyakan.

“Kalau itu menjadi hal prinsipil yang jadi pertimbangan salah satu pihak, kita juga tidak bisa memaksa. Kalau itu tidak menjadi hal prinsipil yang jadi pertimbangan, tidak apa-apa berbeda. Karena berumah tangga itu harus saling bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Harus bisa beradaptasi satu sama lain. Harus bisa mengerti suami kita besar di lingkungan suku itu dengan adatnya, tumbuh di lingkungan keluarganya. Suami juga harus mengerti istri yang besar di lingkungan suku ini dengan adatnya, dengan keluarganya. Harus bisa saling percaya. Saling mendukung. Pokoknya saling deh selama melakukan kebaikan.”

“Sama seperti memilih baju. Model dan warna yang jadi hal prinsip. Masalah ukuran itu bisa divermak, diadaptasi biar nyaman di badan. Kalau model dan warna ‘kan sudah tetap, tidak bisa diubah. Mencari pasangan yang prinsip hidupnya sama, prinsip hidup yang utama apa, ya agamanya yang pertama dan utama. Perbedaan-perbedaan yang tidak prinsipil itu bisa diadaptasi satu sama lain, saling memahami, agar masing-masing bisa klop dan nyaman. Yang penting tetap saling percaya dan saling memperkuat keimanan ke Allah.”

“Biar pas dan nyaman di badan, bagian bawah baju-baju ini ibu potong saja ya. Kepanjangan banget. Lumayan banyak yang harus dipotong, 15-17 cm. Kalau cuma dikelim, jelek. Bagian lengan yang kepanjangan juga akan ibu potong. Kalau bagian dada dan pinggang, gak semuanya dipotong karena hanya mengecilkan 5 cm aja.”

Pertemuan kali itu memang hanya sebentar, tidak sampai tiga puluh menit, mengingat aku ke sana sepulang kerja dan hari sudah malam. Sekali lagi aku mendapatkan nasihat dan pengingatan tentang hal yang memang sudah beberapa bulan ini tidak aku pikirkan. Bukan, bukan tidak ingin memikirkannya. Akan tetapi, bukankah itu sudah dijamin oleh Allah dan tugas kita adalah mengupayakannya dengan cara yang baik. Bicara hasil itu sepenuhnya hak prerogatif Allah ingin mempertemukan dan memberikannya kapan.

Bertemu dengan orang baik, yang meskipun tidak terlalu kita kenal atau bahkan tidak kita kenal, juga merupakan salah satu nikmat. Teringat perkataan ulama yang juga sastrawan legendaris Buya Hamka bahwa kita hanya akan dipertemukan dengan hal-hal atau orang-orang yang kita pikirkan. Jadi, kalau kita berpikiran baik, kita memikirkan hal baik yang Allah sukai, kita juga akan dipertemukan dengan hal itu.

Termasuk juga prasangka kita terhadap Allah. Jika sekarang Allah belum memberikan apa yang kita mau dan kita minta, tetaplah berprasangka baik kepada-Nya. Karena Allah mengikuti prasangka hamba-Nya. Dan yakinlah bahwa tugas kita hanyalah berusaha, bertawakal, berdoa dan taat kepada-Nya dengan sebaik-baik iman. Urusan hasil Allah yang lebih berhak. Sebaik-baik rencana adalah rencana-Nya dan segala ketetapan dari-Nya pasti baik untuk kita.

Cmiiw…

#catatanawalbulan

#selamatdatangoktober

#mulaihujan

#akusukahujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s