Makanan untuk Orang Tua

Hari libur, selain waktu untuk bersantai, main sambil nambah ilmu dan silaturahim, leye-leye di depan tv sambil mendengarkan cerita bapak tentang berbagai hal dan saling berkomentar tentang berita dari yang paling gak penting sampai berita–yang kata bapak dari berita pagi sampai berita malam–itu itu saja yang disiarkan, juga waktu untuk bebenah. Dan yang seru adalah salah satu waktu untuk masak yang enak-enak, mencoba resep baru, mencoba bikin ini itu di dapur. Kalau berhasil, itu berarti makan enak dan berlimpah. Ingat tetangga ya untuk bisa ikut icip-icip hasil karya ala ala.

Berhubung sekarang yang suka makan hasil masakan saya dan suka request masak ini itu sedang merantau, jadilah sekarang kalau masak yang ditanya pertama adalah bapak. “Bapak mau makan apa?” Kadang dijawab, “Masak ini aja.” Namun, jawaban yang lebih sering dikasih, “Terserah. Apa saja.”

Saya sedikit merasakan kebingungan kaum laki-laki kalau dikasih jawaban “terserah” oleh kaum perempuan. Itu memang jawaban aneh bin ajaib yang musti ditebak. Ya walaupun pada akhirnya setelah dimasakin apa pun Bapak jarang protes.

Berhubung lagi sekarang Bapak sudah mulai memasuki tahapan baru dalam hidupnya, perubahan yang mungkin akan harus disikapi dan dipahami dengan baik.

Seiring bertambahnya usia seorang manusia menjadi tua, kekuatan, kemampuan, dan daya tubuhnya menurun. Menurunnya sistem metabolisme tubuh, daya pancaindra, pergerakan tubuh menjadi terbatas, menurunnya vitalitas, perubahan fisik seperti pada gigi dan kulit, juga gangguan pencernaan seperti susah buang air besar, dan perubahan kondisi psikologis.

Namun, sehat, aktif, dan bahagia lahir batin adalah hak setiap manusia di segala umur, termasuk juga orang tua. Untuk tetap sehat, orang tua membutuhkan asupan gizi yang seimbang. Makanan yang dikonsumsi perlu diperhatikan kandungan dan cara pengolahannya.

Dari berbagai sumber yang saya dapatkan, ada beberapa kondisi yang dialami oleh para orang tua terkait makanan yang dapat menimbulkan masalah.

  1. Kondisi gigi yang sudah ompong atau sudah tidak kuat mengunyah makanan keras, daging.
  2. Sensifitas terhadap rasa berkurang sehingga membuat orang tua tidak nafsu makan dan senang makan makanan dengan tingkat keasinan atau kemanisannya tinggi. Padahal makanan tersebut tidak baik untuk kesehatan, terutama bagi penderita tekanan darah tinggi atau diabetes. Makanan terlalu pedas atau terlalu asam juga tidak baik untuk lambung.
  3. Sensifitas terhadap rasa haus menurun sehingga sedikit minum lalu menyebabkan dehidrasi atau kekurangan cairan.
  4. Penurunan daya kerja alat pencernaan sehingga mengurangi daya serap zat gizi dan kesulitan buang air besar.
  5. Perubahan lambung yang mengecil mengakibatkan orang tua merasa cepat kenyang.
  6. Gangguan psikologis, seperti merasa kesepian sehingga mengurangi nafsu makan dan membuat malas makan.
  7. Penggunaan obat-obatan yang dapat menurunkan nafsu makan.
  8. Penurunan daya ingat sehingga  lupa waktu makan, menjadi sering makan yang mengakibatkan obesitas jika tidak disertai aktivitas fisik atau sebaliknya lupa makan.
  9. Faktor ekonomi yang membuat orang tua kesulitan membeli makanan dan memenuhi kebutuhan gizi seimbang.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengatasi masalah tersebut sebagai berikut.

  1. Mengolah makanan agar empuk dan lunak dengan dikukus atau direbus sehingga mudah dikunyah.
  2. Memotong sayuran kecil-kecil, mencincang atau menyuir daging/ikan/ayam, membuat jus dari buah dan atau sayur alih-alih dipotong dan dimakan langsung.
  3. Mengurangi pengolahan makanan dengan digoreng untuk mengurangi konsumsi minyak yang dapat menyebabkan kolesterol.
  4. Menggunakan bumbu-bumbu dan rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lada untuk mempertajam cita rasa makanan.
  5. Mengurangi konsumsi garam, gula, dan MSG.
  6. Memberi pengertian secara baik-baik kepada orang tua tentang tingkat kadar keasinan, kemanisan, atau keasaman bahwa kadar yang tinggi tidak baik untuk kesehatan mereka. Tingkat asin normal bagi mereka bisa menjadi sangat asin bagi orang yang lebih muda.
  7. Minum 6-8 gelas air putih per hari. Ingatkan dan ajak orang tua untuk senantiasa minum air putih dan menyediakan air putih di tempat yang mudah dijangkau oleh mereka jika aktivitas mereka terbatas, seperti kesulitan berjalan.
  8. Memerhatikan kandungan makanan yang dikonsumsi orang tua, seperti kalsium untuk kesehatan tulang, serat untuk memperlancar buang air besar, protein untuk kekuatan otot dan lain-lain.
  9. Mengatur jam makan, sarapan, makan siang, makan malam, dan makanan selingan.
  10. Menyediakan makanan cemilan sehat atau buah sehingga bisa makan jika merasa lapar di antara dua waktu makan.
  11. Makan bersama, dengan arti sebenar-benarnya bersama, dapat meningkatkan nafsu makan orang tua.
  12. Batasi konsumsi kopi atau teh.
  13. Hindari rokok dan alkohol.

Belajar hal baru lagi. Berupaya mengamalkan ilmu baru lagi dengan baik dan benar. Berusaha memaksimalkan kesempatan yang Allah kasih sebagai ladang amal.

“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” (HR Muslim dan Ahmad)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s