Pesan Kebaikan 

Sengaja Selasa dua pekan lalu saya menunggu azan Isya di Masjid Agung al-Azhar. 20 menit lagi tiba waktu shalat Isya. Masuk kelas sesi tahsin pun juga sudah tanggung karena akan selesai. Ya, jadwal kelas bahasa Arab saya masih sama. Hari Selasa malam kelas muhadatsah yang diawali sesi tahsin selama 30 menit dari 18.30 sampai 19.00 (sampai azan Isya berkumandang) lalu dilanjutkan kelas muhadatsah setelah shalat Isya. Hari Kamis malam kelas grammar tata bahasa.

Selesai tilawah, satu per satu pesan Whatsapp yang sedari pagi tidak dibuka dibaca. Saat itu seorang perempuan berumur kira-kira 30-an tahun menghampiri. Pembicaraan basa-basi dimulai. Dia bertanya saya kuliah atau sudah bekerja. Dimana. Sedang ada aktivitas apa di al-Azhar. Saya jawab seadanya pertanyaan-pertanyaan itu. Sampai tiba, Mbak itu dengan sangat terbuka bercerita tentang kehidupannya yang sedih sambil menahan tangis. Singkat cerita begini kisahnya.

Mbak itu dalam perjalanan pulang dari Pondok Indah ke rumahnya di Bogor. Ia habis bertemu dengan calon majikannya di rumah tempat ia akan bekerja sebagai PRT. Ia bercerita bahwa suaminya sakit. Uang tabungan seluruhnya hampir habis untuk pengobatan. Kedua anaknya tidak tinggal bersamanya alias dititipkan ke sang nenek. Lebih singkat lagi, akhirnya Mbak itu mengatakan bahwa ia sudah tidak punya uang untuk ongkos pulang ke Bogor. Dan untuk mendapatkan uang ongkos pulang, ia bersedia menjual jam tangannya. Bersamaan dengan itu, azan Isya berkumandang. Saya mengajak Mbak itu yang sudah untuk shalat Isya dan berdoa memohon kekuatan dan kemudahan juga keikhlasan. Pesan yang sangat klise: Allah memberi cobaan pasti sesuai dengan kadar kekuatan hamba-Nya.

Selesai shalat, saya mengecek uang di dompet. Ada Rp125.000. Satu lembar seratus ribu. Satu lembar sepuluh ribu dan tiga lembar uang lima ribu. Sebenarnya, saya ingin menolong. Namun, Mbak itu baru saya kenal dan saya tidak tahu apakah ceritanya itu benar atau dia berbohong. Karena Mbak itu mengatakan bahwa ia tidak punya ongkos pulang ke Bogor, saya putuskan untuk memberikan Mbak itu Rp25.000. Kalaupun Mbak itu jujur, tidak berbohong, saya pikir uang segitu cukup untuk sampai ke Bogor naik KRL.

Ketika selesai kelas dan akan pulang, saya teringat bahwa saya sudah tidak punya uang kecil untuk bayar parkir, hanya ada uang Rp100.000. Dan syukurnya malam itu, uang parkir saya dibayarkan oleh teman satu kelas, padahal dia tidak tahu kondisi saya. Keesokan harinya saya ditraktir makan oleh seorang teman. Apakah ini kebaikan yang berbalas kebaikan?

Lalu saya teringat obrolan malam kakak adik beberapa hari lalu. Obrolan curhatan ala ala perempuan tentang pekerjaan, karier, laki-laki, hidup. Saat itu kakak saya tidak tahu- menahu kejadian di Masjid al-Azhar itu. Setelah saya panjang lebar curhat tentang pekerjaan, satu pesan kakak saya yang saya ingat sekali:

Kamu bisa berbuat baik kepada semua orang. Tapi jangan pernah berharap orang lain akan berbuat baik kepada kamu karena kebaikan kamu ke mereka. Kamu bisa memahami orang lain. Tapi jangan berharap orang lain akan memahami kamu hanya karena kamu pikir sudah memahami mereka. Yang penting lakukan saja apa yang memang harus kamu lakukan. Kerjakan apa yang harus kamu kerjakan dengan baik.

Seketika itu juga saya ingat pesan ibu saya:

Melakukan kebaikan itu tidak usah mikir untung ruginya. Tidak usah mikir akan dapat apa sebagai balasan dari manusia. Kalau kamu baik, biar Allah yang kasih balasan. Kalau kamu bersikap buruk ke orang lain, kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya, Allah juga akan kasih balasan untuk itu. Kalau orang lain jahat ke kamu, biar Allah juga yang kasih balasan. Kalau orang lain berbuat baik ke kamu, ingat kebaikannya dan balas dengan kebaikan juga, jika bisa lebih. Apa yang kita tanam, itu yang akan kita nikmati hasilnya. Baik buruk hasilnya, ya tergantung baik buruknya yang kita tanam. Yang penting ikhlas. Kalau ikhlas, gampang lupanya kalau kita sudah berbuat baik.

Dan beberapa waktu belakangan, dari beberapa media, baik WA, blog, ceramah ustad, ceramah mentor, saya mendapatkan inti pesan yang sama:

Urusan kita hanya berbuat kebaikan dan mengajak kepada kebaikan dan berusaha mencegah keburukan yang akan terjadi. Hasilnya seperti apa, serahkan kepada Allah, yang penting kita sudah berusaha. Dan kembalikan lagi kepada siapa kita menaruh harapan. Berharap pada manusia hanya akan memberikan kekecewaan karena manusia makhluk lemah. Berharaplah hanya kepada Allah, Tuhan yang Mahasegalanya.

Sekarang pesan-pesan itu terngiang-ngiang di pikiran saya sejak tiga hari lalu. Di saat orang-orang yang saya harapkan dapat membantu saya, ternyata satu per satu tidak berjalan sesuai harapan. Rencana hanyalah tinggal rencana. Di saat hal-hal lain sudah saya tinggalkan demi terfokus pada satu hal. Rasa kegagalan itu selalu sama, pahit dan tidak enak. Tapi tetap harus ditelan. Kayak jamu yang kental bin pahit banget, tetapi di balik itu khasiatnya bagus.

Oke, saya bisa dengan mudah menyalahkan kondisi dan orang lain atas ketidaksesuaian rencana. Namun, pesan ibu saya seolah-olah secara alami membuat benteng pertahanan dalam diri saya agar tidak melihat kesalahan orang lain terlebih dahulu. Lihat dulu ke dalam diri sendiri. Hal apa yang seharusnya saya lakukan tetapi tidak saya lakukan atau kesalahan apa yang sudah saya perbuat sehingga keadaan bisa seperti itu dan orang lain bisa bersikap seperti itu. Apa yang kita tanam itu yang kita petik, kan.

Dan menelisik ke dalam diri sendiri untuk melihat kesalahan diri sendiri itu sangat membutuhkan energi yang besar untuk melepas ego, apalagi dalam kondisi merasa “saya sudah melakukan ini dan itu. Apakah yang saya lakukan itu masih kurang? Mengapa harus saya? Mengapa harus selalu saya yang mengalah dan memahami?”

Baiklah. Tenangkan diri dan menepilah. Jika dalam keheningan dan kebersamaan hanya dengan sedikit orang tepercaya, semua bisa terlihat lebih jelas dan memunculkan satu per satu titik hitam dan cara untuk menghilangkannya, mengapa harus selalu bersama dalam keramaian?

Mari kita ke sana dengan kembali meluruskan niat dan memperbaharui iman. Kata Salim A. Fillah, mungkin iman kita yang compang camping tidak karuan.

Dan tiba-tiba saja saya teringat pertemuan saya dengan seorang Mbak di Masjid al-Azhar. Teringat pesan klise yang saya pernah sampaikan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s