Hidup Penuh Berkah

Setiap orang, aku yakin, selalu menginginkan keberkahan dalam hidupnya. Pada saat seseorang bertambah usia, keluarga, teman, dan kerabatnya mendoakan agar usianya penuh berkah. Ketika seseorang menikah, tamu yang hadir mendoakan baarakallaahu laka wa baarakallaahu `alaika wa jama’a bainakuma fii khair ‘semoga Allah mengaruniakan barakah kepadamu dan semoga Dia melimpahkan barakat atasmu dan semoga Dia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan’. Sewaktu teman merayakan kelulusannya, kita doakan agar ilmu yang diperolehnya penuh berkah. Seorang istri mendoakan agar suaminya memperoleh rezeki yang banyak, halal, dan penuh berkah.

Ya, kita mengharapkan keberkahan dalam hidup, dalam segala lini kehidupan kita. Mulai dari bangun tidur hingga kita tidur kembali. Di setiap aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan.

Berkah, secara harafiah, berarti an-numu’ wa ziyadah ‘tumbuh dan berkembang’. Di dalam Syarah Bukhari Muslim, berkah diartikan tumbuh berkembang atau bertambah. Sementara itu, Imam Nawawi mengartikan berkah dengan kebaikan yang banyak dan abadi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, berkah diartikan karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.

Berkah adalah kebaikan yang Allah tetapkan pada suatu hal yang dimiliki atau diperoleh bertambah, berkembang, dan bertambah besar manfaatnya. Jika sesuatu itu justru mendatangkan efek negatif, patut kita renungkan apakah ada keberkahan di dalamnya.

Keberkahan akan Allah berikan kepada orang-orang pilihan-Nya. Allah akan memberikan keberkahan kepada orang atau kelompok manusia yang beriman dan bertakwa.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A`raaf: 96)

Dalam buku 60 Pesan Ramadhan: Semakin Dekat dengan Allah Drs. H. Ahmad Yani disebutkan bahwa keberkahan yang Allah berikan kepada orang beriman terbagi menjadi tiga bentuk. Pertama, keberkahan keturunan. Kedua, keberkahan dalam makanan. Ketiga, keberkahan waktu.

Keberkahan dalam keturunan adalah lahirnya generasi yang beriman, berilmu, beramal saleh, memiliki fisik yang kuat, mandiri dalam hal keuangan, dan dapat menjalani kehidupan dengan baik-baik. Generasi seperti itulah yang menjadi topangan keberlangsungan Islam dan umat.

Keberkahan keturunan dapat kita lihat dari kisah hidup Nabi Ibrahim. Sejak lama, Ibrahim mendambakan keturunan. Pada usia yang sudah tua, Allah mengaruniakan seorang anak, Ismail, anak dari Siti Hajar. Beberapa tahun kemudian, Allah mengaruniakan anak kedua, Ishaq, anak dari Siti Sarah yang juga sudah tua dan mengalami masa menopause. Dari Ishaq, Ibrahim mendapatkan cucu, yaitu Ya`qub yang kemudian keturunannya dikenal dengan Bani Israil. Dari Bani Israil, lahir banyak nabi, utusan Allah. Begitu pula dengan keturunan Ismail, Bani Ismail, yang melahirkan seorang utusan Allah, nabi yang mulia dan penutup para nabi, Nabi Muhammad saw.. Nabi Ibrahim dikaruniai Ismail, Ishaq, dan Ya`qub yang saleh, cerdas, dan mulia.

Berikutnya, keberkahan makanan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa salah satu bentuk berkah dari langit dan bumi yang disebutkan dalam al-A`raaf: 96 adalah makanan. Makanan yang berkah adalah makanan yang halal. Halal dari aspek cara memperoleh makanan tersebut dan halal dari aspek zat kandungan di dalamnya. Uang untuk membeli makanan tersebut diperoleh dengan cara yang halal, kemudian makanan itu dimasak dengan cara yang halal, dan tentu saja makanan tersebut tidak mengandung bahan yang diharamkan Allah.

Tidak hanya halal, keberkahan makanan juga berarti makanan tersebut thayyib (baik). Artinya, kandungan zat dan gizi dalam makanan tersebut baik bagi tubuh kita. Makanan yang menyehatkan dan bergizi. Dengan demikian tubuh kita menjadi sehat dan kuat sehingga kita dapat beribadah kepada Allah dengan maksimal dan mampu melakukan aktivitas kebaikan yang banyak. Sebagai contoh, gorengan. Gorengan halal untuk kita makan, tetapi jika dikonsumsi secara berlebihan gorengan tidak baik untuk kesehatan. Keberkahan makanan adalah yang mengandung keduanya, halal dan baik.

Selanjutnya, keberkahan waktu. Setiap kita diberikan oleh Allah waktu yang sama, 24 jam. Sementara itu, waktu memiliki karakteristik yang tidak dapat diputar balik. Waktu tidak akan pernah berulang kembali. Ia hanya terjadi satu kali. Dalam waktu 24 jam, ada orang yang mampu melakukan aktivitas kebaikan yang banyak, efisien, dan bermanfaat. Namun, ada pula orang-orang yang merugi karena tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Itulah keberkahan waktu, waktu yang diberikan Allah cukup tersedia dimanfaatkan untuk kebaikan.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-Ashr: 1-3)

Itulah tiga bentuk keberkahan yang Allah berikan kepada orang-orang pilihan-Nya. Semoga keberkahan Allah senantiasa hadir dalam segala lini kehidupan dan aktivitas kita. Dengan demikian, senantiasa bertambah dan berkembang kebaikan juga kebermanfaatannya, yang tidak hanya dirasakan oleh diri kita tetapi juga dapat dirasakan oleh orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s