Hipotermia

Ketika akan melakukan pendakian Gunung Gede, April 2014, adalah saat untuk pertama kali aku mengetahui penyakit hipotermia. Karena itu pendakian pertama, jadilah aku sangat rempong mempersiapkan segala persiapan, perlengkapan, dan tentu saja semua informasi yang berhubungan dengan aktivitas pendakian gunung. Salah satu hal yang menarik perhatian aku adalah tentang hipotermia. Dari beberapa artikel berita tentang kematian pendaki gunung, hipotermia termasuk penyakit yang mematikan jika tidak ditangani dengan benar. Selain itu, tidak sedikit pendaki gunung yang meremehkan perlengkapan mendaki mereka yang menimbulkan risiko hipotermia, misalnya tidak membawa pakaian hangat, sleeping bag, dan tidak makan.

Untuk menepis segala keraguan untuk mendaki gunung saat itu, banyak artikel tentang hipotermia yang aku baca. Berikut ini adalah ringkasan informasi dari berbagai sumber yang aku dapatkan tentang hipotermia.

Hipotermia adalah kondisi ketika mekanisme tubuh untuk mengatur suhu kesulitan untuk menangani tekanan suhu dingin. Hipotermia bisa juga diartikan ketika kondisi suhu tubuh menurun drastis dan di bawah suhu normal yang dibutuhkan tubuh untuk tetap berfungsi dan melakukan mekanisme tubuh, yaitu 35 derajat Celcius.

Ada beberapa gejala hipotermia, mulai dari gejala ringan hingga gejala berat.

Gejala ringan

1. Penderita menggigil disertai lelah, pusing, dan mual. Jika suhu tubuh terus menurun hingga di bawah 32 derajat C, penderita tidak menggigil lagi. Hal itu menandakan hipotermia yang semakin parah.

2. Kulit penderita dingin dan berwarna pucat.

3. Napas cepat.

4. Penderita berbicara melantur.

Gejala menengah

1. Penderita mengantuk atau lemas.

2. Berbicara tidak jelas atau melantur atau bergumam.

3. Kebingungan.

4. Kehilangan akal sehat, misalnya ingin membuka baju di saat dingin.

5. Kesulitan bergerak.

6. Napas mulai pelan dan pendek.

Gejala parah

Gejala hipotermia yang sudah parah sama seperti gejala menengah, poin 1-6, ditambah dengan gejala berikut ini.

1. Kesadaran semakin menurun, bahkan bisa tidak sadarkan diri.

2. Pupil melebar.

3. Napas semakin pendek, bahkan sampai tidak bernapas.

4. Denyut nadi tidak teratur, lemah, atau tidak ada denyut nadi.

Jika pada saat melakukan pendakian gunung, ada rekan satu tim yang mengalami gejala hipotermia tersebut atau bahkan diri sendiri yang mulai merasakan gejala hipotermia, segeralah mengomunikasikan hal tersebut kepada rekan yang lain. Semakin cepat gejala hipotermia diketahui, penderita hipotermia pun akan semakin cepat mendapat penganan P3K hipotermia. Berikut ini adalah beberapa penanganan P3K yang dilakukan terhadap penderita hipotermia.

Penanganan hipotermia

1. Perhatikan dan pantau pernapasan penderita. Berikah napas buatan jika penderita tidak bernapas.

2. Perlakukan penderita dengan sangat hati-hati. Gerakan kasar dapat menimbulkan serangan jantung bagi penderita.

3. Pindahkan penderita ke tempat yang hangat.

4. Jika di ruang terbuka, sebelum membaringkan penderita, lapisi tanah dengan selimut atau tikar, atau matras.

5. Lepaskan pakaian, sarung tangan, kaos kaki, dan segala yang dipakai oleh penderita yang basah. Kemudian ganti dengan pakaian kering dan menghangatkan.

6. Tutupi tubuh penderita, terutama bagian perut dan kepala.

7. Berikan minuman hangat kepada penderita jika ia masih sadar dan mampu menelan. Jangan berikan minuman alkohol atau yang mengandung kafein.

8. Berbagi panas tubuh dengan penderita dengan cara memeluknya dengan hati-hati. Akan lebih efektif jika memeluknya langsung mengenai kulit, berbagi panas tubuh dari kulit ke kulit.

9. Berikan kompres hangat pada bagian leher, dada, selangkangan. Jangan kompres bagian kaki atau tangan karena hal itu dapat mendorong darah dingin ke jantung, paru-paru, dan otak yang justru akan berbahaya bagi penderita.

Saat mendaki gunung, segala persiapan-tidak hanya persiapan alat-alat perlengkapan, tetapi juga persiapan fisik, mental, dan pengetahuan pendakian- sangat perlu dipersiapkan. Persiapan itu menjadi sangat penting agar pendakian dapat sukses dilakukan dan seluruh anggota tim pendakian dapat turun dan kembali pulang ke rumah dengan selamat. Kecelakaan dan kejadian yang tidak diinginkan karena faktor kelalaian manusia pun dapat dihindari dan diminimalisasi. Agar diri kita dan anggota tim lain tidak terkena hipotermia saat mendaki gunung, ada baiknya setiap pribadi melakukan pencegahan terhadap hipotermia.

Pencegahan hipotermia

1. Menjaga tubuh tetap kering.

2. Memakai baju sesuai dengan cuaca dan kegiatan. Hindari memakai baju berbahan katun karena mudah menyerap keringat, basah namun susah kering. Gunakan baju berbahan polyster. Bawa dan gunakan jaket tahan air dan angin.

3. Memakai topi atau kupluk, syal, sarung tangan, kaos kaki yang menghangatkan. Jangan memakai kaos kaki dan sepatu yang terlalu sempit dan sesak.

4. Pakailah baju sesuai dengan ukuran. Pakaian yang sempit atau terlalu sempit tidaklah menghangatkan.

5. Sediakan makanan dan minuman yang menghangatkan. Hindari alkohol dan yang mengandung kafein.

#dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s