Jalan Pintas

Semenjak jadi pengendara motor, banyak hal yang banyak aku temui di jalan. Ada pengendara motor yang berjalan melawan arah di jalan satu arah. Mungkin karena lebih cepat daripada harus memutar arah di putaran arah, di tempa yang seharusnya. Pernah beberapa kali bahkan aku melihat pengendara motor yang memotong jalan di jalan satu arah dengan melewati taman-taman di tengah jalan yang membatasi jalur. Memang kondisinya pada saat itu, taman tersebut masih dalam tahap renovasi. Dari lokasi pengendara itu memotong jalan melewati taman sampai ke tempat putar balik masih sekitar 500-1000 meter lagi. Mungkin lagi-lagi karena ingin cepat sampai. Bahkan taman tengah jalan pun di terobos.

Ada lagi fenomena di lampu merah. Ketika lampu lalu lintas sudah berwarna hijau, pengendara-pengendara di belakang sudah sibuk membunyikan klakson. Padahal yang didepan juga sudah siap melaju. Di beberapa kesempatan, aku pernah menemui fenomena di lampu merah seperti itu. Bukan karena tidak mau kendaraan yang di depan melaju ketika lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Namun, karena kendaraan dari arah lain yang melintasi masih ada yang lewat. Aku yakin tidak ada pengendara di lampu merah yang mau berlama-lama berdiam diri ketika lampu lalu lintas berwarna hijau. Tidak bisakah pengendara yang di belakang sabar menunggu sebentar saja. Tidak perlu sibuk membunyikan klakson. Mungkin lagi-lagi karena mereka sedang terburu-buru. Ingin cepat sampai tujuan.

Ada lagi fenomena pengendara motor yang melawan arah di jalan satu arah pada kondisi jelas-jelas itu dalam kondisi macet. Ini terjadi di daerah tempat tinggal aku, Pondok Labu. Kalau kalian pernah melintasi Pasar Pondok Labu dalam kondisi macet, kemudian menemukan pengendara motor yang melawan arah di jalan depan pasar—arah yang benar adalah dari DDN menuju Pasar Pondok Labu—ke arah DDN, itu adalah satu hal sudah biasa terjadi. Lagi-Lagi ingin cepat-cepat. Memotong jalan. Jalan yang seharusnya dari Pasar Pondok Labu menuju DDN harus memutar melewati Jalan Fatmawati Raya, kemudian berbelok di Jalan Pinang yang satu arah, lurus menuju DDN. Belum lagi fenomena pengendara motor melewati trotoar. Sepertinya itu hal yang lumrah di Jakarta ketika kondisi macet. Tidak sabar, ingin cepat sampai.

Semua itu ingin serba cepat, serba instan, tanpa proses yang lama. Yang penting cepat. Bisa jadi kita memang hidup di masa yang serba cepat. Mulai dari dapur hingga depan rumah kita disajikan dengan alat-alat yang memudahkan dan tentu saja mempercepat penyelesaian pekerjaan.

Kecanggihan teknologi yang membuat segalanya menjadi cepat adalah satu hal yang patut didukung. Kita tidak lagi perlu bersusah payah, ambillah contoh blender, mesin cuci, televisi be-remote,  bahkan internet berkecepatan tinggi yang didukung gadget canggih. Semua itu memudahkan kita mendapatkan waktu, mendapatkan informasi, menghemat tenaga, walau terkadang tidak menghemat biaya.

Yang patut kita soroti adalah segala kemudahan, kecepatan, instan, tidak lantas serta merta turut membuat kita menjadi pribadi yang berpikir mau cepatnya saja, yang penting sampai tujuan. Itu sepintas lalu terlihat sepele. Akan tetapi, jika pola pikir serba cepat, serba instan menjadi satu kacamata yang kita pakai untuk memandang dunia, bukan satu hal yang mustahil, akan menjadi suatu kebiasaan, yang membuat lumrah mengambil jalan pintas dalam segala hal, baik itu hal positif maupun negatif.

Salah satunya perilaku pengendara kendaraan bermotor di jalan raya. Kalau bicara ingin cepat sampai, semua pengendara kendaraan bermotor, kendaraan umum, pejalan kaki, semua pasti ingin cepat sampai tujuan.

bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s