Akhir(nya) Jadi Renungan

Setelah-rasa-rasanya- lama tak berjumpa dengan kawanku yang satu ini, Devi namanya, malam ini kami janjian untuk ketemu. Mendadak. Tanpa rencana. Dan semua berjalan baik-baik saja. Kami ketemuan. Tipe kami sama, perceiving ala MBTI dan spontan. Kalau dipikir-pikir, kami berdua memang sering ketemu, janjian tanpa rencana. Kabar-kabari via WA, janjian, 2-3 jam kemudian kami ketemu. Ya, kecuali pada waktu itu, salah satu di antara kami sudah punya acara atau agenda terlebih dahulu. Waktu ketemuannya bisa diatur. Jadilah, kami malam ini bertemu di tempat makan dengan menu utama steak di daerah Pondok Labu.

Satu setengah jam terasa lama bagi kami. Banyak hal yang diperbincangkan, mulai dari cerita kabar-kabari, kantor dan pekerjaan, pertemanan, hingga pembahasan tentang jodoh (Di mana saja dan dengan siapa saja, selalu ada topik tentang jodoh dan pernikahan. Oke. Baiklah. Aku menganggap itu adalah suatu hal yang wajar. Ini adalah masanya untuk topik itu. Ada masanya topik tentang sekolah dan masalahnya, kuliah dan segala aktivitas kampus, tentang pekerjaan. jodoh dan pernikahan, tentang suami/istri dan anak, keluarga, tentang masyarakat dan negara hingga tentang membangun peradaban). Satu topik yang tak pernah lepas dari pembicaraan kami ketika bertemu, yaitu ada saja pembahasan dan cerita mengenai MBTI.

Satu hal yang menarik dan membuat membuat aku merenung selama perjalanan di motor saat pulang. Jalanan sudah tidak begitu ramai. Aku bisa dengan leluasa mengendarai motor tanpa macet, walaupun setelah disadari rasanya takut juga dengan kondisi jalanan malam hari yang sekarang sedang rawan kejahatan.

Oiya ini hal yang baru-baru ini aku rasakan. Ketidaksadaran dengan keadaan sekitar aku. Ketika aku sedang benar-benar asyik memikirkan dan mengerjakan satu hal, aku bisa tidak sadar dengan keadaan sekitar aku. Di samping, memang aku menghindarkan barang-barang yang bisa mendistrak konsentrasi.

Karena belakangan ini banyak hal yang harus dipikirkan, jadilah aku tidak peduli dengan hal-hal yang menurut aku tidak penting dan tidak perlu dipikirkan, untuk saat ini/itu. Kata Hasan al-Banna bahwa amanah itu lebih banyak daripada waktu yang dimiliki itu benar sekali. Setiap waktu yang berjalan menjadi begitu sangat berharga. Amat angat berharga sekali.

Jadi, mungkin ada beberapa orang menganggap aku menjadi lebih cuek, terkesan tidak peduli dan tidak mau tahu. Tapi, sebenarnya aku memerhatikan kok. Aku ingin tahu apa yang terjadi. Dan itu masuk ke dalam list daftar hal-hal yang harus diperhatikan, dipikirkan dan dicari cara dan jalan untuk merealisasikannya. Mungkin tidak menjadi prioritas utama, tapi tetap terpikirkan. Hanya saja untuk saat ini, aku berpikir ketika ada atau tidak adanya aku, tidak menambah atau mengurangi, menurut aku, yasudah aku tidak menggabungkan diri. Lebih baik aku fokus kepada apa yang mesti diselesaikan.

Aku sendiri menyadari ada berubah. Ada ketidaknyamanan. Jelas, karena keluar dari pribadi zona nyaman. Belajar suatu hal yang baru. Beradaptasi dengan kondisi yang ada. Kata seorang teman, bukan berubah tapi belajar menjadi itu. Contoh hal yang pernah aku tanyakan adalah bagaimana jika seorang plegmatis ditempatkan pada posisi sebagai pemimpin, yang notabenenya mengharuskan ada koleris di dalamnya. Bagaimana seorang plegmatis berubah menjadi seorang koleris dalam waktu singkat? Jawab temanku itu, bukan berubah menjadi koleris, tapi belajar menjadi koleris. Berkenalan dan berteman dengan orang tipe koleris dan pelajari sifat, ambil ilmunya.

Seorang yang biasanya spontan, tidak terbiasa jadwal dan agenda yang rapi dan runut, tidak beraktivitas sesuai jadwal, dihadapkan pada kondisi harus bisa membuat jadwal, kegiatan yang terencana dengan baik. Perencanaan yang buruk sama dengan merencanakan kegagalan. Ketidakteraturan agenda aktivitas, yang penting semua aktivitas terselesaikan dengan baik, meskipun mendekati deadline. Sekarang dihadapkan pada kondisi semua aktivitas harus diatur dengan baik. Diagendakan dengan teratur sehingga semua mendapat porsi waktu, pikiran, tenaga, dengan seimbang dan adil.

Seorang yang tempat kerja atau tempat belajarnya berantakan, belakangan ini tidak rela kalau setelah menyelesaikan tugas, tempat itu dibiarkan dengan kondisi berantakan. Selama kerja atau belajar tidak masalah tempatnya berantakan. Justru kalau rapi, akan mambuat bete dan membosankan. Biasanya, setelah selesai, meja atau tempat belajar yang berantakan akan dibiarkan berantakan bergitu saja. 3-4 hari kemudian atau seminggu bahkan beberapa minggu kemudian baru dibereskan. Belakang ini malah risih kalau setelah selesai tugas, tidak dibereskan. Rasanya ada kepuasan tersendiri melihat semuanya rapi. Tugas rapi, kerjaan selesai, tempatnya rapi.

Air tidak lagi biarlah tetap mengalir, toh ujungnya bermuara ke laut. Tapi sekarang air harus diarahkan alirannya, akan dialirkan kemana air ini supaya bermanfaat. Selama perjalanannya menuju muara akhir, laut, akan dimanfaatkan untuk apa air itu, dimanfaatkan dimana, untuk siapa, kepada apa. Aliran air pun harus dibuat arahnya.

Dengan ketidaknyamanan yang aku rasakan, ada hal yang masih membuat nyaman, semua berbicara hal-hal yang abstrak, konsep, dan ide. Pun amanah baru yang aku dapatkan sekarang di sebuah media cetak yang baru akan lahir. Memegang bagian konsep dan ide besar, gagasan masa depan yang berawal sebuah visi. Dan itu yang membuat satu keasyikan tersendiri menjalankan semua amanah pekerjaan yang ada. Kemudian membutuhkan teman yang dapat saling melengkapi, teman kolaborasi yang dapat saling membantu dalam hal perealisasiannya. Orang konsep bertemu dengan orang teknis. Orang abstrak berkolaborasi dengan orang realitis dan konkret. Orang yang idenya muncul tuing-tuing, suka random bergabung dengan orang yang runut, step by step, teratur, dan rapi. Sepertinya akan menjadi kolaborasi yang harmonis ketika keduanya bisa bersinergi dengan baik dalam menjalankan amanah. Menjadi saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan satu sama lain. Dan aku mengambil bagian di balik layar. Lebih seru menurut aku. Jadi sutradara atau produser, yang jarang dikenal dibandingkan artis atau aktor pemainnya.

Aaahh, random sekali tulisan aku malam ini. Ngalor-ngidul tulisannya.

Oke, balik kepada obrolan kami di tempat makan dengan menu steak yang pada akhirnya membuat aku merenung selama di motor ketika pulang. Ujung pembicaraan di akhir pertemuan: tentang sebuah keikhlasan. Ikhlas, sebuah kata yang selalu membuat hati berdebar, deg, tersadar seketika itu. Ikhlas, sebuah kata yang sangat mudah diucapkan, namun butuh perjuangan untuk bisa melakukannya.

Pada akhirnya pembicaraan kami berdua membahas tentang ikhlas berawal dari masih topik yang sering dibicarakan: jodoh dan pernikahan. Merasakan getaran hati pada lawan jenis adalah satu hal yang wajar sebagai manusia yang diberikan fitrah cinta, rasa mencintai dan ingin dicintai. Lalu bolehkah kita berharap bahwa ia adalah jodoh kita ketika kita merasakan satu getaran hati terhadap lawan jenis. Berharap bahwa ia adalah jodoh kita.

Lantas, kami dihadapkan pada pertanyaan, lalu bisakah kita menerima jika dia yang membuat hati berdebar bukanlah jodoh yang diberikan Allah. Bisakah kita dengan segenap kerelaan melihat dia bersanding di pelaminan dengan orang lain dan kemudian dengan tulus mendoakan kebahagiaannya. Juga bisakah kita menerima jodoh yang diberikan Allah untuk kita walaupun bukan dia.

Pun, jika pada akhirnya, kita dengan dia yang membuat hati berdebar, ternyata berjodoh, ikhlaskah kita menjalankan Sunnah Rasul: menikah dan membangun rumah tangga. ikhlaskah kita meniatkannya semata-mata memang hanya karena Allah dan dalam rangka ibadah kepada-Nya. Bukan karena nafsu cinta yang kemudian Allah takdirkan untuk bersatu. Bukan karena niat duniawi. Tapi dengan visi berujung tempat kembali yang kekal penuh kebaikan dan kenikmatan: surga.

Dan niat menjalankan sunnah Rasul itu haruslah terbangun dan terpondasikan dengan baik dari sekarang. Proses yang baik diawali dengan niat yang baik. Selalu luruskan niat dan bersihkan hati dari virus pink. Bahwa jika belum sampai pada saat ijab dan kabul, rasanya belumlah pantas salah satu bagian cinta kita diberikan kepada yang belum berhak menerimanya. Menjaga hati tidaklah mudah, namun ia harus diupayakan dan didoakan agar mampu menjaganya dan mohon dijaga oleh Sang Pemilik Hati.

Dari hal itu, melebar bahwa tidak hanya semata pernikahan. Adakah selama ini segala ibadah harian, kesibukan, aktivitas yang seabrek-abrek, aktivitas menebar kebaikan, amanah yang dijalankan, segala agenda yang membuat perubahan dalam keseharian, kenyamanan dan ketidaknyamanan, adaptasi, perubahan sikap, dan semua hal yang dipikirkan dan dilakukan sudah benar-benar dilandasi dengan rasa ikhlas?

Adakah kita sebagai penebar kebaikan dan kebermanfaatan untuk orang banyak telah menghadirkan kesungguhan, melakukan amal baik, melisankan hal baik hanya untuk Allah semata, untuk mengharap ridha dan kebaikan pahala-Nya dengan murni? Tetap beramal meskipun dalam kondisi seorang diri, apalagi dalam keadaan bersama-sama dan berjamaah. Tetap beramal baik meskipun tidak ada orang yang memuji dan melihat. Tetap menebar kebaikan dan kebermanfaatan meski celaan ada saja yang menghampiri. Karena tujuannya hanya satu: Allah. Allahu ghayaatunaa. Bukan ridha manusia. Ridha Allah yang diharapkan.

Ikhlas: Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah dan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal. Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi. Mengharap balasan amalan di akhirat. Mengharap ridha Allah semata.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.’” (al-An’aam: 162)

“Setiap amalan tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat. Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.” (Ibnul Qayyim al-Jauziyah)

Ikhlas, sikap yang ilmunya hanya dapat dipelajari langsung dari Allah. Allah yang mengajari langsung kepada kita agar dapat bersikap ikhlas. Tidak ada yang mengetahui isi hati dan niat manusia. Urusan niat adalah urusan langsung dengan Allah. Urusan manusia dengan Allah tanpa perantara. Allah Yang Maha Mengetahui segala apa yang ada di dalam isi hati. Yang terlihat dan terlisankan, yang tersembunyi dan terdiamkan.

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Yaa Muqallibal quluub tsabbit qalbii `alaa diinik”

Ya, Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.

Simple dan sederhana obrolan terakhir kami berdua. Nyatanya makna ikhlas tidak sesimple dan sesederhana membalikkan telapak tangan. Hakikatnya dalam. Kemurniannya tidak dapat tercampur dengan niat selain Allah. Dan itu dapat terwujud dengan keimanan yang benar kepada Sang Khalik. Ikhlas buah dari iman. Ada saja hal-hal yang menjadi orientasi tujuan dari aktivitas kita dan itu bersifat duniawi. Benar-benar suatu catatan penting yang perlu dibold, diitalic, diunderline. Note to myself. Luruskan niat di awal, di tengah, di akhir dari setiap aktivitas kebaikan apa pun yang dilakukan. Lagi-lagi dengan kekuatan doa kita upayakan. Tidak mudah memang, tapi bisa diusahakan.

Special thanks for Devi. Pertemuan tak terencana kita berdua malam ini. Obrolan curcol kita yang pada akhirnya, bagi aku, bagi kita, menjadi pengingat berharga untuk saat ini dan untuk seterusnya.

Oh iya, satu lagi. Di satu sesi cerita, Devi bilang bahwa ada orang yang bisa langsung klik, nyambung, mudah berbagi kesukaan, bisa dan ada keinginan untuk membuka diri meskipun baru kenal. (berarti aku sama Devi di alam sana dahulu sudah pernah ketemu ya. hahaha). Ada juga orang yang seolah-olah ada jarak, ada benteng di antara orang tersebut, yang membuat kita perlu waktu lama untuk klik, berbagi kesukaan, dan membuka diri. Itu bisa jadi tipe yang pertama yang langsung klik, di alam sebelumnya mereka sudah bertemu. Dan tipe yang kedua, mereka belum saling bertemu.

Terus aku jadi penasaran sama hipotesis Devi. Alam dahulu itu alam apa Dev? Alam telepati antarbayi kali ya. Hhehehe. Penasaran, pasti ada hal-hal yang membuat mereka bisa langsung klik. Kalau didiskusikan lebih lanjut sama Devi pasti seru nih jalan mencari jawaban. Hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s