Hujan dalam Rasa

Hujan lagi hujan lagi. Musim penghujan selalu merepotkan. Basah. Dan tiba-tiba saja banyak teman-temanku dan orang lain di luar sana mendadak menjadi penyair (sok) puitis di kala hujan. Memang apa istimewa hujan. Toh ia hanya tetesan air yang jatuh dari langit dalam jumlah banyak.

Kata seorang teman, hujan itu menyejukkan. Apanya yang menyejukkan, membuat kedinginan, iya. Memunculkan banyak penyakit, iya. Hujan itu romantis kata temanku yang lain lagi. Romantis dari mana dari laut. Hujan membuat pasangan-pasangan, yang entahlah mereka sudah menikah atau belum, semakin lengket saja. Tapi aku rasa mereka belum menikah. Toh banyak dari pasangan, yang katanya menyukai hujan masih seumuran anak sekolah, anak kuliahan, atau bisa jadi pasangan selingkuhan. Bagus perkaranya jika pasangan itu sudah menikah. Kalau belum, melengketkan diri hanya cari gara-gara saja.

Hujan sama sekali tidak romantis di mataku. Hujan itu menakutkan. Tidak ada kata menenteramkan tentang hujan dalam kamusku. Hujan rasa-rasanya ingin aku usir dari hidupku jika aku mampu. Hujan mengapa kau tidak menghilang saja dari sini. Aku benci hujan. Hujan, sungguh aku sangat membencinya.

Hujan telah mengambil semua yang berharga dalam hidupku. Aku benci. Hujan telah membawa pergi ayahku. Hujan telah menenggelamkan impian kakaku. Hujan telah membuat ayahku tidak hadir lagi dalam rumahku. Hujan telah membuat ibuku menjadi orang tua tunggual bagi kami, ketiga anaknya. Hujan sungguh jahat. Ia monster dalam hidupku.

“Sewaktu kau kecil, pasti kau pernah bermain hujan kan La? Apakah kau benar-benar lupa senangnya bermain hujan? ucap Aras.

“Itu dulu Ras. Sudah lama sekali. Aku sudah lupa dan jangan pernah membuatku mengingatnya kembali.”

“Bagaimana jika aku membuatmu mengingatnya?”

“Aku membenci hujan. Dan jika kau melakukan hal itu, aku juga akan membencimu, Ras.” kataku dengan menaikan nada suara.

Aras hanya menatapku. Tidak ada kata-kata lagi keluar dari mulutnya. Sorot matanya teduh melihatku. Wajahnya begitu tenang. Entah apa yang ada di dalam benak pikirannya. Aku tidak mau kalah. Kutatap balik wajahnya. Mungkin di mata Aras aku terlihat seperti sedang menantangnya. Terlebih lagi setelah kata-kata yang keluar dari mulutku.

Di luar hujan sudah mulai reda. Hanya tertinggal rintik-rintik gerimis. Aras memalingkan wajahnya ke jendela. Ditatapnya rinai hujan sore itu. Dari balik jendela kamarnya, ia memejamkan mata. Menghirup aroma hujan seperti ia menghirup aroma kopi hitam kesukaannya. Perlahan ia menghirup napas. Menikmati setiap aroma yang masuk ke indra penciumannya. Dan ketika ia membuka mata, senyum simpul terlukis di wajahnya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dirasakannya. Namun, melihat Aras yang begitu sangat menikmati momen singkat di balik jendela membuatku semakin penasaran akan kesukaannya terhadap hujan.

Kembali Aras melihat ke arahku.

“Ola, apa kau benar-benar akan membenciku jika suatu saat nanti aku mengenalkanmu pada rinai hujan yang bersahabat?” tanya Aras.

Aku tak menjawab. Aras hanya tersenyum melihatku dan kembali menatap rinai hujan di luar jendela.

Aku tak mengerti mengapa aku tidak bisa menjawab pertanyaan Aras. Padahal baru sebentar saja aku mengatakan bahwa aku akan sangat membencinya jika ia melakukan hal yang aku benci. Aku bisa saja langsung menjawab, “Ya. Aku akan benar-benar membencimu, Aras.” Tapi mengapa aku tidak bisa mengatakan itu sekali lagi. Rasa ingin tahuku tentang Aras yang sangat menyukai hujan justru membuatku ingin terus bertahan bersamanya.

Aras, entah mengapa sampai detik ini Aras masih mau berteman denganku. Ola si pembenci hujan berteman dengan Aras si penyuka hujan.

bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s