Selalu Ada Alasan untuk Menulis (1)

Di aplikasi whatsapps, sering kita mendapatkan broadcast panjang tentang berbagai hal, mulai dari info pekerjaan, tulisan tentang rumah tangga dan keluarga, hingga penyikapan terhadap isu politik yang sedang hangat dibicarakan. Bahkan, broadcast itu tersebar di lebih dari satu grup yang diikuti. Informasi tersebar dengan cepat. Dengan merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, ide, gagasan, pemikiran si penulis broadcast dapat tersampaikan kepada orang banyak. Mungkin tanpa kita sadari, 24 jam dalam sehari kita sudah sangat sering bersentuhan dengan aktivitas membaca dan menulis.

Apa sih menulis itu? Dalam KBBI edisi ketiga kita akan menemukan kata menulis di lema tulis. Menulis berarti  membuat huruf (angka dsb) dengan pena (pensil, kapur, dsb); melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan; mengarang cerita. Sekarang ini teknologi sudah canggih. Dengan gadget canggih yang ada di genggaman kita, kita sudah dapat menulis kapan pun dan dimana pun.

Bagi sebagian orang, menulis bukanlah perkara mudah. Untuk memulai satu kata, menyambung menjadi satu kalimat, berkembang menjadi satu paragraf, sudah sangat sulit. Menulis menjadi aktivitas yang menyiksa. Menulis akan menjadi hal yang menyenangkan jika kita terbiasa untuk menulis. Karena perkara menulis adalah perkara pembiasaan diri dan latihan, dimulai dari menulis hal yang sangat tidak penting. Selain akan menjadi aktivitas yang menyenangkan, kegiatan menulis selalu menawarkan banyak hal untuk kita jadikan alasan bagi kita untuk terus menulis dan menulis.

Mulai dari alasan menulis hanya untuk sekadar hobi. Kegiatan mengisi waktu luang. Kenapa kamu suka nulis? Ya, senang aja. Daripada bengong-bengong, mending nulis. Menulis apa saja yang bisa ditulis. Bagus atau tidak kualitas tulisannya, itu urusan belakangan.

Alasan lain menulis menjadi kegiatan yang perlu dilakukan adalah menulis dapat menjadi kegiatan tempat curhat (sebut saja menulis diari) dan efek sampingnya adalah menulis dapat mengobati stres. Ketika kita menghadapi permasalahan yang tidak bisa dibicarakan dengan orang lain, kegelisahan kita akan terpendam sendiri dalam diri. Lama-kelamaan semua rasa sedih, marah, gelisah, khawatir menumpuk dalam diri dan hati. Lalu terjadilah fenomena gunung berapi, terlihat tenang padahal di dalamnya bergolak magma panas, hanya tinggal menunggu meletus. Dan begitu meleus. Duaar. Berefek ke mana-mana. Dengan menulis, hal-hal yang tidak tersampaikan dalam tersalurkan melalui rangkaian kata-kata. Kita bebas sebebas-bebasnya untuk menyampaikan segala apa pun yang ingin kita sampaikan.

Ketika tidak ada lagi hal yang mengganjal hati dan pikiran kita, tentulah perasaan plong dan lega yang akan dirasakan. Seolah-olah semua beban hilang, menjadi ringan. Air yang awalnya tidak dapat mengalir karena tumpukan sampah sudah dapat mengalir lancar setelah tumpukan sampah dibersihkan. Karena itu, kita tidak lagi mendapatkan tekanan dari diri sendiri. Saat perasaan sudah plong dan lega, kita dapat berpikir jernih. Segala sampah-sampah sudah dibersihkan. Pikiran bersih, hati lega, stres pun hilang. Semua yang terpikirkan sudah tertuang ke dalam kertas-kertas kosong.

Dengan menulis diari (menulis tentang diri sendiri dengan berbagai kejadian) juga dapat membuat kita bisa mengenali diri sendiri. Pada saat kita membaca diari sendiri, kita dapat bercermin bagaimana sebenarnya diri kita. Kita bisa mengetahui hal apa yang disukai, yang tidak disukai, hal yang membuat kita senang, membuat sedih, kesal, marah, dan yang lainnya. Tulisan yang kita tulis ibarat sidik jari yang akan menunjukkan identitas diri. Di samping dapat mengenal emosi sendiri, kita juga dapat mengetahui apa sebenarnya yang kita inginkan dalam hidup, mau menjadi apa diri kita, apa harapan kita, kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk orang-orang yang kita cintai dan orang di sekitar kita, serta lingkungan. Impian pun dapat kita temukan dan termotivasi untuk mencapai impian tersebut.

Ingin menjadi orang yang kreatif dan berwawasan luas? Cobalah menulis karena menulis mengajarkan kita untuk menjadi kreatif dan selalu ingin tahu. Menulis membutuhkan sejumlah informasi untuk diolah dalam sebuah tulisan. Ketika kita ingin memberi, pasti kita sudah harus terlebih dahulu memiliki hal yang ingin diberikan. Bagaimana bisa kita dapat memberi sesuatu yang tidak kita miliki?

Menulis adalah kegiatan berbagi. Ketika kita mentok, tidak tahu ingin berbagi apa, kita akan terpacu untuk semakin memperbanyak informasi dan wawasan yang kita punya. Menulis akan memunculkan banyak pertanyaan untuk kita cari tahu jawabannya. Semakin kita mengetahui jawaban dari berbagai pertanyaan, semakin bertambah banyaklah wawasan, pengetahuan, dan ilmu yang dimiliki. Di samping itu, kita akan dipancing untuk dapat kreatif memecahkan teka-teki dan kreatif mencari jawaban. Selain itu, terpacu juga untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan serta gagasan pemikiran kita terhadap suatu hal dengan kreatif agar para pembaca dapat dengan mudah memahami tulisan yang kita buat. Pembaca mendapatkan hiburan, selain informasi, dari tulisan kita yang menarik.

Di sisi lain, menulis juga dapat mendatangkan uang bagi sang penulis. Ada media online dan media massa yang memberikan bayaran nilai rupiah atas setiap tulisan yang masuk ke redaksi. Terkadang ada pula penerbit buku yang menghargai tulisan dari pembaca berupa resume terhadap buku produksi penerbit tersebut. Apalagi menjadi penulis buku. Penulis akan mendapatkan royalti atas bukunya. Uang yang masuk ke kantong bisa banyak jika bukunya menjadi best seller apalagi ditambah buku tersebut direproduksi dalam bentuk film atau drama.

Bangga atas karya-karya tulisan sendiri pastilah akan memunculkan rasa kepuasan terhadap diri sendiri. Tantangan terbesar di awal menulis yang sangat sulit memulai kalimat terlewati sudah dengan sukses. Belum lagi jika beberapa kali ditolak oleh banyak penerbit. Lalu setelah sekian kalinya memperbagus kualitas karya, akhirnya buku itu dapat diterbitkan juga. Kepuasan dan kebanggaan terhadap diri sendiri. Apresiasi diri untuk semakin memacu berkarya lebih baik dan bermanfaat.  Kita dapat mengatakan bahwa selama kita mau mencoba dan berusaha ditambah dengan doa plus tawakal, kita akan mendapatkan hasil yang manis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s