Visi Keluarga Berujung Surga

Setiap kita, baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah, pasti mendambakan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah. Keluarga yang kita bangun menjadi keluarga yang bagus dan sukses. Tidak hanya sukses dunia, tetapi juga sukses akhirat. Seluruh anggota keluarga bertemu dan berkumpul kembali di surga-Nya.

Hal pertama yang harus diluruskan dan dibenarkan adalah tentang visi keluarga. Apa itu visi? Visi menurut Pak Cahyadi adalah pernyataan tulus atas cita-cita yang ingin diwujudkan. Visi yang kuat akan membawa kita menuju pulau harapan. Dengan menjaga visi keluarga, hal itu dapat menghindarkan keluarga dari masalah.

Pernikahan sama dengan manajemen ketidakcocokan. Laki-laki dan perempuan dari awal memang sudah berbeda dan perbedaannya tidak hanya satu dua, tetapi banyak. Namun, dengan banyak ketidakcocokan mereka harus dapat hidup bersama dalam satu rumah tangga sebagai suami istri. Misalnya, laki-laki cenderung tidak bisa multitasking, tidak bisa mengerjakan berbagai banyak hal dalam satu waktu. Berbeda dengan perempuan yang cenderung dapat multitasking.

Pagi-pagi seorang istri/ibu sudah berada di dapur. Dua tungku kompor menyala, yang satu masak sayur, yang satu lagi menggoreng lauk. Magic Jar sudah menyala memasak nasi. Mesin cuci sedang berjalan menggiling pakaian. Televisi menyala dan ia masih bisa mendengarkan ceramah Mamah Dedeh. Di saat yang bersamaan itu pula, ia bisa berdandan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sementara itu, sang suami/ayah sedang asyik saja membaca koran.

Contoh lain, perempuan sangat suka sekali berbicara dan senang bercerita, serta ingin didengarkan. Makanya ia dikenal dengan cerewet. Memang perempuan memiliki kemampuan berbahasa lebih baik daripada laki-laki. Perempuan mampu menghasilkan 24.000 kata per hari. Sedangkan laki-laki hanya 8.000 kata per hari. Ketika ada masalah, perempuan senang menceritakannya kepada orang lain walaupun tidak ada solusi yang diberikan. Ia hanya ingin didengarkan. Berbeda dengan laki-laki. Laki-laki, saat ada masalah, ia lebih senang menyendiri “masuk gua” dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Dengan perbedaan yang ada di antara laki-laki dan perempuan, maka menikah tidaklah hanya dengan alasan ecek-ecek. Hanya sekadar ingin. Kalau hanya dipandang, menikah dengan alasan ecek-ecek, pernikahan tidak lagi menjadi hal yang sakral atau suci. Menikah adalah sunnah Rasul. Menikah adalah cara untuk membangun peradaban. Oleh karenanya, menikah haruslah visioner.

Mau dibawa kemana keluarga kita? Visi apa yang dicanangkan oleh suami dan istri. Tentulah harus visi jangka panjang, visi yang sampai berujung pada surga-Nya. Jika visi keluarga yang dibuat sudah jelas dan mengakar kuat kepada seluruh anggota keluarga, terutama suami dan istri, permasalahan yang muncul dalam rumah tangga tidaklah sampai menghancurleburkan perahu kita. Permasalahan yang ada dalam rumah tangga menjadi masalah remeh temeh. Contoh masalah besar dalam rumah tangga adalah nikah beda agama. Itu baru masalah besar.

Masalah dalam rumah tangga menjadi gawat hingga ada yang berujung perceraian sebenarnya adalah masalah remeh temeh yang tidak segera diselesaikan hingga akhirnya menumpuk menjadi banyak. Hal ini disebut fenomena gunung pasir. Masalah-masalah kecil ibarat butiran pasir, Namun jika ditimbun terus-menerus tentulah akan menjadi besar. Kalau ada pasangan bercerai karena alasan sudah tidak ada kecocokan lagi, hal itu perlu dipertanyakan. Mengapa baru sekarang bercerainya? Padahal sudah dari awal pernikahan banyak sekali ketidakcocokan.

Data dari Ditjen Badilag MA, sebab perceraian tertinggi di Indonesia adalah karena masalah ekonomi dan perselingkuhan. Apa yang dimaksud dengan masalah ekonomi? Kalau masalah ekonomi hanya dipandang dari segi jumlah, banyak orang kaya yang selingkuh dan bercerai karena masalah ekonomi. Kalau masalah ekonomi dipandang dari segi jumlah, banyak orang yang hidup cukup dan pas (pas mau beli rumah, uangnya ada. pas mau beli mobil, uangnya ada. pas butuh, pas ada rezekinya) yang kehidupan rumah tangganya bahagia.

Masalah ekonomi sama dengan masalah sikap hidup terhadap ekonomi itu sendiri. Penyikapan terhadap rezeki yang telah Allah karuniakan kepadanya. Bersyukur atau tidak. Bersabar atau tidak. Bukan masalah jumlah, banyak atau sedikit.

Bahagia adalah hak setiap orang dan milik siapa pun. Bahagia itu ada pada proses, bukan pada hasil. Apa pun dan bagaimanapun prosesnya dalam berumah tangga itu harus dinikmati. Tidak selamanya berumah tangga itu selalu manis, selalu pahit, selalu asam. Semua rasa bercampur menjadi satu.

Saat kita sedang mendapatkan rasa pahit, itu sama halnya saat kita sedang menaiki roller coaster dengan kecepatan tinggi. Ketika dalam kecepatan tinggi, lalu kita melepaskan sabuk pengaman, apa yang terjadi? Kita akan terpental, jatuh, lalu kemungkinan besarnya mati. Sama halnya ketika ada permasalahan rumah tangga, justru yang harus dilakukan adalah mengencangkan sabuk pengaman dan memastikan sabuk pengaman kita aman dan kuat untuk menjaga kita agar tidak terlempar jatuh.

Jagalah aib pasangan kita bagaimanapun rupa dan bentuknya. Karena pasangan hidup kita adalah pakaian untuk kita. Bagus tidaknya pakaian yang kita pakai yang menentukan adalah diri sendiri. Ketika menyebar aib pasangan, hal itu sama saja kita mencoreng dan menyobek-nyobekkan pakaian sendiri.

Rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau dari rumput rumah sendiri. Lalu bagaimana kalau para tetangga kita tidak mempunyai halaman yang ada rumputnya? Tentu rumput halaman rumah kita akan terlihat yang paling hijau. Bersyukur dan bersabar. Serta nikmatilah proses berumah tangga. Berumah tangga adalah proses taaruf, proses berkenalan, sepanjang masa.

 

Disarikan dari materi Wonderfull Family oleh Ust. Cahyadi Takariawan dalam Konferensi Hulu Hilir Halal 2015 “Membangun Peradaban Halal dari Keluarga”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s