Satu Cerita tentang Dia

Ia bersemangat, pagi-pagi ketika ia sampai, dengan senyum semangatnya ia memencet tombol, menyalakan segala yang ada di dalam diriku. Di lain waktu ia tampak bersedih, di waktu yang berbeda ia hanya termenung. Entah apa yang sedang ia pikirkan di saat-saat itu. Terkadang dia terlihat tersenyum-senyum. Senyumnya manis.

Pernah suatu waktu dia termenung, lalu menangis. Tapi cepat-cepat air matanya itu dihapus sebelum orang di sekitarnya menyadari bahwa ia sedang menangis. Tertidur? Itu juga pernah. Ia pernah terlihat sedang tertidur pulas berbantalkan buku atau tumpukan kertas di atas meja.

Satu saat dia terlihat sangat lelah dan sangat tidak bersemangat. Gontai. Raut mukanya menyiratkan kebosanan parah. Namun, pernah juga dia terlihat lelah tapi sangat bersemangat. Lelahnya tidak menyurutkan energinya untuk terus bergerak demi sesuatu yang ia yakini kebenarannya dan sangat ia sukai.

Bisa dibilang dia cukup rapi. Segala sesuatu di meja, tempat aku berpijak, tersusun dengan rapi. Pernah ia sangat sibuk, berlembar-lembar kertas menutup mejanya Dan ia tidak mempedulikan itu. Terus saja ia bergerak dan bekerja. Hingga ia menghela nafas dan menyadari mejanya sangat berantakan. Kertas-kertas yang tidak teratur, makanan, tempat minum, buku-buku referensi menempatkan diri di setiap sudut meja.

Aku pun tak lepas dari tempelan-tempelan kertas yang berisi daftar hal-hal yang harus dikerjakan dan diselesaikan, juga tempelan kertas berisi kata-kata penyemangat. Katanya itu sugesti agar selalu bersemangat. Aku senang melihat ekspresi bahagianya saat ia menuliskan kata-kata motivasi itu kemudian dengan mantap menempelkannya di badanku.

Setiap hari kerja, seharian aku menatapnya meski kadang-kadang ia tak acuh padaku. Membiarkan aku mati sesekali. Rasa-rasanya berbagai ekspresi yang ditampilkannya terekam di memoriku. Aku tahu mungkin dia tidak menyadarinya dan hanya menganggapku sebagai teman kerja yang membantunya menyelesaikan semua pekerjaannya. Aku dan dia sangat dekat. Setiap hari kami bertemu dan bertatap-tatapan.

Entah dia menganggap apa aku ini hanya sebagai teman kerja. Namun, aku sangat senang ketika aku membuatnya senang. Dia sering sekali menceritakan banyak hal dalam hidupnya kepadaku, cerita apa pun, mulai dari cerita remeh temeh, curhatan hatinya, hingga pandangan hidupnya. Tertuang dalam setiap tombol-tombol yang merangkaikan kata-katanya menjadi sebuah cerita.

Begitu ia menuliskan sesuatu yang sangat menarik baginya, bisa-bisa ia hampir saja melupakan pekerjaan utamanya. Kepuasan dan kelegaan yang ia selalu perlihatkan padaku ketika ia selesai menuangkan seluruh apa yang ada di hati dan pikirannya melalui tombol-tombol di diriku. Lagi-lagi senyum dan wajah senangnya membuat aku juga senang.

Ada satu hal lagi yang aku senangi darinya. Yaitu ia rajin sekali membersihkan diriku ini. Hampir setiap kali debu-debu sudah mulai menumpuk di tubuhku ini, ia selalu membersihkannya. Aku bersih dan dia pun nyaman. Pun sama dengan yang lainnya. Semua barang yang ada di sekitar tempatku, sering ia bersihkan. Tetapi tetap lebih sering ia membersihkan diriku ini. Memang aku yang paling dekat dan paling sering berinteraksi dengannya.

Ada satu hal juga yang terkadang membuatku marah padanya. Ketika ia terlalu asyik bercengkerama denganku untuk mencari hiburan hingga abai terhadap pekerjaannya. Berbagai laman ia buka dan telusuri. Meskipun pada akhirnya ia menyadari kesalahannya itu. Dan kemudian mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak abai terhadap pekerjaan yang harus dilakukan dan diselesaikan. Akan tetapi, tidak jarang pula ia tetap tak acuh, dan terus membersamai diriku untuk menghibur dirinya yang bosan atau lelah. Hingga ia kemudian menyadari waktu sudah berlalu sangat banyak dan ia pun harus terburu-buru menyelesaikannya.

Ia sudah menghela nafas panjang. Biasanya itu menandakan jeda untuk sejenak mengistirahatkan mata dan merenggangkan badan atau pekerjaan juga tulisan ceritanya sudah terselesaikan. Satu hal yang pasti. Jika ia sudah menghela napas panjang, itu berarti kebersamaanku dengannya akan berakhir. Dan aku harus bersabar menunggu hari esok ketika kami akan bertemu kembali, bekerja sama kembali, bercerita kembali.

Program-program dalam diriku satu per satu ditutup. Hingga pada akhirnya sampai pada tahapan ia akan meninggalkanku. Lalu penglihatanku mati. Berbagai tombol di diriku tidak lagi dapat muncul di badanku. Dan tubuhku sudah mati. Semua sudah mati. Dan perlahan ia melangkah keluar setelah memastikan segalanya rapi. Menjauh meninggalkan diriku. Sampai keesokan harinya ia tiba lalu dengan sengaja ia berusaha menghidupkanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s