Prinsip Beramal

Sehari-hari kita banyak melakukan berbagai aktivitas. Tidak hanya aktivitas ibadah ritual semata, tetap juga aktivitas sosial, akademik, politik, dan lain-lain. Dalam Islam, segala aktivitas yang dilakukan dapat bernilai ibadah ketika diniatkan untuk beribadah dan hanya untuk Allah semata. Semua aktivitas itu menjadi amal. Dalam beramal, ada beberapa prinsip yang patut menjadi perhatian.

Prinsip Pertama: Menyegerakan Amal

Kita hadir di dunia ini tidak untuk bersantai-santai ria. Allah telah membekali kita dengan kesempurnaan fisik agar kita siap menjadi khalifah di muka bumi. Agar kita siap memainkan setiap peran dalam kehidupan. Agar kita siap untuk bekerja dan berkarya.

Rasulullah menegaskan bahwa Allah tidak menyukai tiga hal: banyak bicara, dan banyak menghabiskan harta untuk hal yang sia-sia, dan banyak bertanya, dikecualikan untuk pertanyaan yang kemudian diamalkan.

Utsman  bin Affan, ketika diangkat menjadi khalifah, berpidato singkat namun dalam. Dia mengatakan “Wahai manusia, kalian lebih membutuhkan pemimpin yang banyak bekerja daripada banyak bicara.” Ini adalah tentang bagaimana kita melakukan aksi dan tindakan yang bermanfaat. Bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang banyak.

Imam Ahmad suatu ketika ditanya oleh salah seorang muridnya, “Kapankah waktu bagi kita dapat beristirahat?” Imam Ahmad menjadwa, “Ketika kita sudah menjejakkan kaki kita di surga.” Ya, dunia adalah tempat bagi manusia untuk beramal, bekerja, dan berkarya. Tempat manusia untuk melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain

Prinsip Kedua: Bukan Sembarang Amal

Allah tidak hanya menuntut manusia untuk beramal dan bekerja saja, tetapi juga menuntut manusia jenis dari amalnya. Yang Allah inginkan adalah amal saleh. Allah banyak menggandengkan kata amal dengan kata saleh dalam Al-Qur’an. Lebih dari 50 kali Allah menyebutkannya secara berdampingan.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan amal saleh itu? Yaitu amal yang memberikan manfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Tidak hanya sampai situ, amal yang dilakukan juga memberikan kebaikan di dunia juga di akhirat. Apa pun jenis amal yang dilakukan. Karena itu, amal saleh tidak berhenti pada batasan wilayah spiritual. Setiap tindakan yang mendatangkan maslahat ‘kebaikan’ disebut amal saleh.

Membersihkan lingkungan termasuk amal. Menolong orang lain amal juga. Membuang duri di jalan juga termasuk amal. Menjadi suami yang menafkahi istri, anak, dan keluarga dengan nafkah yang halal termasuk amal. Ketaatan seorang istri pada suami juga amal. Tidak ada bagian pekerjaan seorang Mukmin, kecuali itu semua adalah amal saleh. Yang penting yang harus digarisbawahi dan dicatat adalah kita harus membingkai setiap amal yang dilakukan sebagai amal saleh. Amal yang memberikan manfaat dunia dan akhirat.

Prinsip Ketiga: Memilih Amal Terbaik

Amal salah tidak hanya ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya, tetapi juga dipilih amalan manakah yang terbaik untuk dijadikan prioritas. Tampilkan dan persembahkan amal saleh terbaik kepada Allah. Dari sekian banyak amal, Allah akan memilih mana amal yang paling bagus. Allah menggunakan kata membeli pasti tidak sembarangan.

Setiap dari kita berlomba-lomba dalam kebaikan dan dalam mempersembahkan amalan terbaik. Para sahabat Rasul pun saling berlomba dalam kebaikan. Bahkan sahabat yang miskin materi pun bercerita bahwa ia menangis “iri” kepada saudara mereka yang kaya, yang dengan kekayaannya bisa berbuat banyak amal.

Kita, sebagai seorang Muslim, selalu ingin memberikan hal yang terbaik. Lakukanlah amal-amal dengan tulus ikhlas lillahi ta’aala dan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Amal yang hukumnya wajib lebih baik daripada yang sunnah. Amal yang sedikit namun kontinu lebih baik daripada amal yang besar namun hanya sekali. Amal dalah jamaah lebih baik daripada amal individual. Amal yang paling banyak manfaatnya lebih baik daripada amal yang lebih sedikit.

Tanya-Jawab

Tanya

Amal saleh tidak terbatas pada amal ibadah. Kalau amal itu dikerjakan oleh non-Muslim, itu disebut amal saleh atau amal salah?

Jawab

Yang disebut amal saleh adalah amal yang memberikan manfaat dunia dan akhirat. Tidak hanya terasa kebaikannya di dunia, namun di akhirat juga memberikan dampaknya. Amal saleh akan mempunyai ganjaran di akhirat. Orang Muslim mengerjakan amal saleh karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasul. Sedangkan non-Muslim, dia akan mendapatkan ganjaran dan kebaikan hanya di dunia saja, balasannya sesuai dengan apa yang dia kerjakan. Namun, tidak di akhirat karena ia melakukannya bukan karena Allah.

Tanya

Terkadang kita banyak melakukan amal saleh, tetapi hidup kita begini-begini saja. Namun ada orang yang banyak berbuat maksiat, tetapi hidupnya banyak dikasih kenikmatan dan kekayaan. Bagaimanakah bentuk keadilan Allah?

Jawab

Allah sudah memberikan kita akal pikiran dan tuntunan berupa Al-Qur’an dan hadits.  Dengan akal dan pedoman tersebut, kita disuruh untuk mencari kebenaran dan hakikat kita ke dunia. Kalau ada orang yang tidak mau menelaah, itu adalah salahnya sendiri. Allah sudah memberikan segala bekal, pedoman, akal, dan mengutus utusan-Nya. Allah tidak membeda-bedakan manusia, semua sama. Orang yang berbuat kebaikan akan dikasih pahala, sedangkan orang yang berbuat keburukan akan diberi balasan hukuman.

Lalu di manakah keadilan Allah? Ada hukum-hukum Allah yang sudah ditetapkan. Ada hukum-hukum universal. Sebagai contoh: siapa pun yang makan akan merasakan kenyang, tidak melihat dia Muslim atau bukan. Siapa yang rajin belajar akan pintar.  Siapa yang bekerja dia yang akan dapat. Semua itu pada tataran dunia. Yang membedakan adalah ada atau tidaknya keridhoan Allah. Bagian orang Muslim khusus Allah berikan ketika di akhirat. Kalau kita iri kepada non-Muslim yang memiliki kehidupan wah, kita harus melipatgandakan sebab-sebab mereka bisa mendapatkan nikmat itu. Kalau mau pintar yang belajar. Kalau mau mendapt rezeki Allah yang banyak yang bekerja, berbisnis, dan berusaha.

Ada kesenangan fatamorgana yang Allah berikan kepada mereka yang kafir. Allah sedang menjebak mereka dengan cara yang kita tidak ketahui. hanya diketahui Allah semata.

Tanya

Bagaimana jika kita tidak menikah, padahal dalam kondisi sudah mampu menikah baik secara materi maupun nonmateri? Bagaimana juga tentang para ulama yang tidak menikah?

Jawab

Ada ulama yang tidak menikah, contohnya Imam Nawawi. Kita harus melihat mengapa Imam Nawawi tidak menikah. Hidupnya yang pendek dipersembahkan untuk menuntut ilmu dan menulis. Ia meninggal di usia tidak lebih dari 45 tahun. Namun, ia sudah menulis lebih dari 100 kitab dan kitab-kitabnya banyak yang menjadi kitab rujukan ulama sekarang. Jika kita tidak ingin menikah dengan alasan ada ulama yang tidak menikah, lihatlah diri kita. Kita mempergunakan untuk apa hidup kita sehingga tidak mau menikah? Apakah kita bisa seproduktif Imam Nawawi yang menghasilkan banyak karya?

Yang dibenci adalah mereka yang tidak menyukai pernikahan. Orang yang belum sempat menikah, tetapi sudah dipanggil Allah, semoga dia diampuni, selama ia dapat menjaga iman dan menyempurnakan sunnah-sunnah.

Berkaitan dengan iman, terkadang iman naik dan kadang turun. Naik turunnya iman yang baik adalah ketika tidak sampai berbuat dosa. Iman yang sedang turun tidak lantas menjadi pembenaran bagi kita untuk melakukan dosa. Iman yang sedang turun itu kalau biasanya tilawah satu juz satu hari menjadi setengah juz sehari. Kalau sampai melakukan dosa dan ada pembenaran untuk itu, namanya sudah rem blong.

Disarikan dari kajian kantor, Jumat 25 April 2014, dengan pembicara Ustad Fauzy Bahreisy

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s