Di Balik 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Sekarang kita sedang berada di 10 hari pertama Dzulhijjah. Walaupun ada perbedaan mulai masuk tanggal 1 Dzulhijjah, tetap sekarang kita masih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun.” (HR Abu Dawud dan  Ibnu Majah)

Dari hadits tersebut, kita ketahui ada sahabat Rasul bertanya apakah jihad di jalan Allah juga tidak termasuk. Padahal kita mengetahui bahwa jihad di jalan Allah memiliki keutamaan yang besar dalam Islam. Bahkan jihad di jalan Allah tidak dapat mengalahkan amal saleh kecuali orang tersebut keluar berjihad membawa harta dan dirinya dan tidak kembali alias syahid.

Adalah karunia dari Allah kita dapat bertemu dengan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Di dalamnya terdapat puasa Arafah yang dapat menghapuskan dosa manusia selama 2 tahun, 1 tahun lalu dan 1 tahun yang akan datang. Pada puncaknya, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah kita akan merayakan hari raya Idul Adha dengan berkurban. Tidak ada amal yang lebih dicintai daripada menyembelih hewan kurban di akhir 10 hari pertama Dzulhijjah.

Dengan keutamaan yang ada pada 10 hari Dzulhijjah, apakah refleksi ibadah-ibadah yang kita lakukan sudah melekat dalam diri kita? Apakah ibadah kita membuat kita tunduk kepada Allah? Apakah ibadah yang kita lakukan hanya sekadar formalitas belaka? Berapa banyakkah jumlah Muslim Indonesia yang berangkat haji setiap tahunnya? Jumlah jamaah haji luar biasa banyak, begitu juga dengan umrah. Namun, apakah hal itu berbanding lurus dengan keislaman, tingkah laku, akhlak kita yang juga semakin baik?

Tidak perlu kita melihat para jamaah haji itu. Lihatlah kepada diri sendiri. Kita sudah menunaikan ibadah shalat, tilawah, puasa. dan ibadah lainnya. Apakah buah ibadah tersebut sudah kita dapatkan? Sudahkah ibadah tersebut berefek positif kepada kita, kepada diri dan iman kita?

Ada ibadah, sebagai bentuk taklif Allah kepada manusia, yang lebih baik dilakukan secara berjamaah. Semangat yang dibangun darinya adalah keberjamaahan, kebersamaan. Demikian pula dengan zakat. Agar orang kaya yang mampu mau berbagi dengan mereka yang kekurangan dan tidak mampu. Ibadah haji pun demikian. Ketika melakukannya, semua jamaah sama memakai kain ihram. Apa pun pangkat, kedudukan, dan jabatannya tidak dibedakan.

Kita adalah umat yang satu. Orang-orang Mukmin adalah bersaudara dan Allah mencintai orang-orang yang bersaudara. Perpecahan akan melahirkan siksa dan malapetaka. Allah menginginkan agar umat ini menjadi umat yang satu dan kuat. Umat ini ibarat satu tubuh yang satu sama lain saling merasakan. Itulah kondisi ideal yang diinginkan.

Allah dan Rasul-Nya memulai dari ruang lingkup yang kecil, yaitu keluarga. Sangat didambakan keluarga yang saleh dan takut kepada Allah.

“Sebaik-baik kalian, adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan Aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR Tirmidzi)

Apakah kita sudah bersikap baik kepada keluarga kita? Apakah kita sudah mengupayakan agar keluarga kita menjadi keluarga yang takut kepada Allah? Apakah kita sudah mengondisikan keluarga kita untuk dapat mengingatkan dalam kebaikan?

Selanjutnya, dari keluarga beranjak ke tetangga.

“Jibril terus-menerus berpesan kepadaku tentang tetangga, hingga aku menduga bahwasanya ia akan memberikan hak waris kepada tetangga.” (HR Muslim)

Tetangga bukan hanya mereka yang tinggal di sebelah kanan, kiri, depan belakang rumah kita. Mereka yang disebut tetangga adalah 40 rumah ke sekeliling rumah kita. 40 rumah ke utara, selatan, barat, timur, ke seluruh penjuru.

“Tidaklah beriman kepadaku seorang yang kenyang sedangkan tetangga di sampingnya menderita kelaparan, sementara dia mengetahui.” (HR Thabrani dan al-Bazzar)

Jangan sampai ada seorang Muslim yang kualitas ibadahnya bagus, tetapi akhlak terhadap tetangganya jelek.

Kebersamaan yang ingin dibangun dalam Islam. Bahkan dalam lingkup yang lebih luas, lingkup negara, tanah air. Kita diajarkan untuk cinta tanah air. Rasulullah pada saat hijrah mengatakan bahwa ia sangat mencintai negerinya, Mekah. Di sisi lain, rasa cinta tanah air tidak membuat seorang Muslim melupakan saudara Muslim lainnya di negara yang berbeda. Setiap wilayah yang di dalamnya terdapat orang yang mengucapkan kalimat syahadat adalah negara Muslim. Sesama Muslim harus saling menguatkan, tidak diperbolehkan membiarkan saudaranya dizalimi.

Allah dan Rasul-Nya mengajarkan persaudaraan dan kebersamaan. Pada saat Rasul hijrah ke Madinah, Rasulullah mempersaudarakan antara sahabat Muhajirin dengan sahabat Anshar. Dan sahabat Anshar pun dengan senang hati dan sukarela membantu sahabat Muhajirin.

Kita patut bercermin pada itu semua, apakah sekarang kita sudah menjadikan umat Islam sebagai umat yang satu, yang bersaudara dan bersatu. Musuh Islam tidak akan memecahkan kita jika kita bersatu dan kuat. Tanpa serangan yang signifikan pun, musuh akan mudah menghancurkan umat jika lemahnya kondisi internal Muslim. Apabila kita sama-sama bergerak, tidak saling meruntuhkan dan tidak melemahkan, insya Allah, Allah akan memberikan pertolongan.

Tidaklah perlu kita menyalahkan orang lain. Pertama-tama yang perlu dilihat adalah diri sendiri. Lihatlah Adam saat ia dikeluarkan dari surga. Ia tidak menyalahkan Iblis yang telah berhasil menghasut dirinya. Akan tetapi, Adam bermunajat kepada Allah. “Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.” (Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang- orang yang merugi) (al-A’raaf: 23)

Jika kita menginginkan pertolongan Allah, hal pertama yang kita lakukan adalah memohon ampun dan mengevaluasi ibadah-ibadah kita. Ketundukkan kita kepada Allah harus disertai dengan tawadhu, semangat perjuangan, dan semangat berjamaah agar mendapatkan apresiasi terbaik dari Allah. Hilangkanlah hal-hal yang dapat membuat umat terpecah-belah. Dan orang-orang yang paling baik di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

Disarikan dari kajian kantor, Jumat 3 Oktober 2014 dengan pembicara Ustad Fauzy Bahraesi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s