Jogja: Suatu Ketika (3)

Di luar masih gelap remang-remang. Gabungan antara remang-remang selepas subuh dan mendung. Pagi itu sepertinya hujan akan turun lagi. Dan seperti pagi hari kemarin, dingin. Ditambah lagi sentuhan wudhu dengan air gunung. Namun, pagi itu aku tidak mau lagi meringkuk. Rasa-rasanya ingin lagi menikmati keromantisan pagi di Kaliurang. Jikalau pun hujan, tak apa. Jarang-jarang toh menikmati udara pagi pegunungan ditambah rintik hujan dan sentuhan kabut pagi.

Di halaman, sebuah mobil terparkir. Berarti tamu baru budeku sudah sampai. Semalam antara sadar dan tidak sadar memang dari kamar terdengar suara obrolan orang-orang. Entah jam berapa mereka datang. Mereka masih tertidur di ruang tamu. Lebih baik aku mandi saja, dingin tidak mengapa. Daripada nanti aku harus mengantri untuk mandi.

Rasa nikmat sekali pagi-pagi selepas mandi, pukul 06.45, meresapi teh hangat dan pisang goreng di amben teras rumah. Melihat rintik-rintik hujan. Gerimis romantis. Santai sekali pagi itu. Sudah mandi, mengobrol santai dengan pakde, ada pisang goreng dan teh hangat, ditambah lagi gerimis hujan. Aaah, pagi yang benar-benar akan jarang aku nikmati lagi.

Semakin siang, semakin ramai. Penghuni rumah sudah terbangun dari tidurnya. Dan pagi itu, aku berkenalan dengan teman baru, yang nantinya jadi teman pulang. Mereka berempat orang, sedang liburan juga di Jogja. Hanya sampai waktu sarapan kami berbincang-bincang. Ternyata salah satu perempuan di antara mereka bekerja di penerbitan buku juga.

Tawaran untuk pulang ke Jakarta bersama-sama naik mobil pun ada. Sempat bimbang antara tetap pulang naik bis dengan kondisi “mengenaskan” buat aku pribadi atau naik mobil bersama mereka Sabtu malam, yang berarti liburan di Jogja harus dimajukan satu hari lebih cepat. Jaminan keamanan dan keselamatan sudah diberikan oleh sepupu dan bude, tandanya aku tidak perlu khawatir pulang bersama mereka, walaupun baru kenal.

Baiklah. Hanya ada satu cara untuk memutuskan kebimbangan ini. Telpon bapak dan mengikuti apa pun yang disarankan bapak. Jawaban bapak: pulang bersama naik mobil. Itu lebih aman daripada naik bis yang gak jelas dan bisa istirahat juga sebelum lusa masuk kerja lagi. Baiklah Rencana berubah, bisa diaturlah.

Selepas sarapan kami masing-masing mempersiapkan diri untuk bermain-main di Jogja lagi. Empat orang teman baru berencana ke Pantai Indrayanti dan Goa Pindul. Sedangkan aku, keliling Malioboro. Ke Wonosari, Gunung Kidul, sebenarnya rencana aku hari Ahad besoknya. Silaturahim ke kampung halaman bapak dan sekalian jalan-jalan ke pantai. Dari rumah Mbah di Wonosari, hanya 30 menit ke pantai Indrayanti, pantai baru yang katanya sangat cantik. Tak apalah tidak jadi ke pantai. Lagipula tempatnya jauh dari kota Jogja. Hampir dua jam perjalanan untuk ke pantai dari kota Jogja.

Sabtu, 3 Januari 2015 agenda jalan-jalan hari ini adalah main ke Malioboro. Dengan naik motor bersama kakak sepupu aku, kami berangkat. Entahlah itu sepupu aku lewat jalan yang mana. Kami tidak lewat jalan utama Kaliurang, macet di musim liburan. Keluar-keluar, kami sudah ada di jalan utama Jogja dan tidak lama sampai di Tugu Jogja.

Benar saja prediksi sepupu aku. Jalan utama di sekitar Stasiun Tugu, Maliobro macet, padat merayap. Hampir seperti Jakarta. Jarang-jarang merasakan kemacetan seperti ini, kata sepupu aku. Kalau di Jakarta macet seperti itu sudah jadi santapan sehari-hari, apalagi setiap pagi dan sore saat jam berangkat dan pulang kerja.

Malioboro padat merayap. Kendaraan antri sepanjang Jalan Malioboro. Ya, Malioboro itu adalah nama jalan. Sepanjang Jalan Malioboro berjejer toko, tempat belanja, tempat makan, tempat jajan. Surga belanja. Di dekat Malioboro, ada pasar tradisional, Pasar Beringharjo, yang juga ramai.

Kalau kuat kaki berjalan, telusuri saja Malioboro dari ujung ke ujung. Lihat-lihat barang-barang yang lucu-lucu walaupun ujung-ujungnya hanya beli beberapa barang. Rasanya senang saja mampir-mampir ke beberapa toko dan lapak walaupun hanya lihat-lihat. Nanti beli barangnya belakangan. Namun, hari itu Malioboro padat, pusing lihat orang banyak bertumpukan di satu tempat itu. dari satu ujung ke tengah saja sudah capek dan gerah.

Di sini tempatnya wisata belanja barang-barang lucu dan khas Jogja, oleh-oleh macam pernak-pernik, kaos, gantungan kunci, pajangan, bros, kain, baju, tas segala macam ada, pun sandal juga ada. Ketika belanja di Malioboro, kita harus pintar-pintar menawar untuk mendapatkan harga murah, pun sama begitu juga ketika belanja di Pasar Beringharjo.

Karena padat dan ramai, aku tidak mau berlama-lama berbelanja di Malioboro. Ditambah lagi baru jalan sampai tengah sudah capek, panas, dan gerah, pusing di kerumunan banyak orang yang tumpah blek di sana. Untuk memudahkan, aku sudah membuat list barang-barang apa saja yang mau aku beli: clutch bag batik, tas selempang, gantungan kunci untuk teman-teman, kaos untuk adikku, dan bahan kain batik untuk bikin dress.

Kalau sudah tahu mau beli barang apa, kami hanya tinggal keluar masuk toko dan lapak untuk mencari barang yang dicari. Yang modelnya oke, warnanya kece, kualitasnya bagus, harganya pas di kantong, dan sreg di hati. Jika tidak tahu barang apa yang mau dibeli, itu sungguh memusingkan. Kenapa? Karena barang-barangnya menggoda iman untuk membelinya. Bisa kalap belanja kalau remnya blong. Belum lagi pilihan yang ditawarkan Malioboro bervariasi dan banyak.

Puas belanja dan barang-barang yang diidamkan sudah dibeli. Berikutnya kami jalan ke Benteng Vredeburg. Benteng ini merupakan benteng peninggalan pemerintahan Hindia Belanda di Jogja. Tempat ini sering dijadikan tempat syuting. Kalau teman-teman sering nonton FTV salah satu stasiun tv swasta Indonesia, yang berlatar tempat Jogja, Benteng Vredeburg ini pasti jadi salah satu tempat syutingnya. Di benteng ini kami, tidak masuk ke dalam. Di sini kami hanya parkir motor dan foto-foto sambil melihat-lihat sungai kecil di depan benteng.

Setelah dari Benteng Vredeburg, kami ke Titik Nol Kilometer Jogja yang masih sederetan dengan benteng. Dari titik inilah segala tempat di Jogja bisa terukur. Titik Nol Kilometer ini ditandai dengan patung gajah. Patungnya besar, ada gajah besar dan gajah kecil. Sayang seribu sayang, patung gajah ini penuh dengan coretan. Di sekitar Titik Nol Kilometer, banyak terdapat bangunan tua bergaya Belanda (seperti bangunan di Kota Tua Jakarta). Dulu saat masa pemerintahan Hindia Belanda disebut Loji. Sekarang bangunan tua itu masih difungsikan sebagai gedung Bank Indonesia dan gedung Kantor Pos.

Di seberang patung gajah Titik Nol Kilometer, ada semacam rangkaian besi berbentuk hati dan ada gembok-gemboknya meskipun tidak banyak. Aku pikir ini apa ya. Mungkin semacam Gembok Cinta, seperti yang ada di Namsan Seoul Tower. Di Namsan Tower terdapat tempat untuk menaruh Gembok Cinta. Katanya jika kita menuliskan nama kita dan pasangan kemudian digembok, lalu kunci gembok itu dibuang, hubungan kita dengan pasanan akan langgeng, tidak akan putus, selalu terkunci sebagaimana halnya gembok yang terkunci dan tidak pernah terbuka karena kuncinya sudah dibuang.

Di sebrang Benteng Vredeburg berdiri Istana Presiden. Dahulu istana ini dipakai sebagai kediaman presiden selama ibukota pemerintahan dipindahkan ke Jogja. Sekarang istana ini tidak lagi digunakan. Meskipun sudah tidak difungsikan lagi, istana ini tidak menerima pengunjung. Jangankan menerima pengunjung, gerbang depannya saja tertutup rapat. Kami hanya dapat melihatnya dari kejauhan di luar gerbang.

Hari semakin siang menuju sore. Langit sudah mendung lagi tanda akan hujan. Kami memutuskan untuk menyudahi jalan-jalan di Malioboro hari itu. Main ke alun-alun tidak tercapai. Baiklah. Masih ada yang harus disinggahi, ratih. Sebelum hujan, kami beranjak pergi meninggalkan Malioboro. Sebelum itu segelas dawet ayu dingin benar-benar melegakan tenggorokan yang kering. Dingin, segar, dan manis.

Tujuan selanjutnya adalah tempat beli bakpia. Di dekat Malioboro, ada tempat sentral bakpia. Pathuk namanya. Makanya makanan khas Jogja satu ini dinamakan bakpia pathuk. Tapi kami tidak membeli bakpia di Pathuk. Kami memutuskan untuk membeli bakpia di toko cabang Bakpia 75 di Jalan Raya Magelang, sekalian pulang. Kalau di Pathuk, ada toko bakpia, Bakpia 25.

Benar saja, belum lama kami sampai di Bakpia 75, hujan turun dengan sangat deras dan membuat kami menunggu 75. Hujan masih gerimis saat kami memutuskan untuk menerobos hujan. Tujuan terakhir kami masih harus disambangi: rumah bude yang satu lagi di Besi, Cangkrigan. Rencana awal, aku mau ke rumah bude sabtu malam dan menginap di sana. Tapi apa boleh buat rencana sudah berubah. Tapi sebelum itu, kami harus mampir ke Terminal Jombor untuk meng-cancel tiket bis yang sudah dipesan. Dan alhamdulillah masih bisa kembali uangnya dengan potongan 25%.

Sudah pukul 15.30 saat kami sampai di Besi dengan menerobos hujan. Akan semakin sore kami sampai di Besi jika menunggu di Terminal Jombor sampai hujan benar-benar reda. Silaturahim ke rumah Bude, bisa-bisa aku dimencak-mencak, kalau tidak ke rumah bude itu. Sepupuku hanya mengantarkan aku ke Besi tidak ditungguin agar aku bisa ngobrol lama di rumah bude.

Maghrib sudah lewat. Sudah waktunya kembali ke Kaliurang. Belum packing untuk pulang kembali ke Jakarta. Dan seperti biasa, bawaan-bawaan banyak. Belanjaan Malioboro, 6 kardus bakpia, ditambah lagi oleh-oleh dari bude. Tak apa. Pulang naik mobil.

Hujan masih rintik-rintik saat kami pulang dan berhenti ketika sampai di Kaliurang. Sudah pukul 20.00. Mata dan badan rasanya ingin menempel di tempat tidur. Ngantuk berat. Tapi masih harus packing. Segala sesuatu yang bisa masuk koper, dimasukkan ke koper. Asal masuk tak apalah. Yang penting masuk dan muat. Jadilah aku membawa satu koper, 2 kardus ukuran sedang, dan 1 kantong plastik berisi makanan. Huh. Bagaimana jadinya kalau aku naik bis dengan membawa barang-barang itu.

Pukul 21.30, teman-teman seperjalanan ke Jakarta belum sampai. Yasudalah tidur saja sembari menunggu. Mata sudah berat ingin menutup.  Tapi hasrat ingin mengobrol panjang kali lebar kali tinggi dengan bude masih ingin disalurkan. Ujung-ujungnya tidur juga. 00.30 mereka baru sampai di Kaliurang. Pamitan dan obrolan singkat, pulanglah kami ke Jakarta pukul 01.00.

Baru kali itu, aku merasakan jalanan Kaliurang dan melihat Jogja dini hari. Hujan masih gerimis. Sepi. Lalu lalang, keramaian, kepadatan Malioboro tadi siang terhapus oleh sunyi. Jogja selalu ada kenangan di sana. Ini kali kesekian aku ke Jogja, kampung halaman bapak dan mama. Dan Jogja selalu menawarkan banyak hal untuk kembali didatangi, untuk kembali menuai kenangan. Saat hujan, saat panas, saat dingin, saat hangat, sepi, ramai, saat air mata mengalir, saat tawa terbahak, saat senyum tersungging, tersipu.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s