Jogja: Suatu Ketika (2)

Jogja sedang dalam kondisi sering diguyur hujan. Selama perjalanan ke rumah pakde di Kaliurang, langit sore sudah dihantui mendung. Berangin dan dingin. Dingin karena kan hujan dan dinginnya angin gunung. Baru sekejab aku sampai di Kaliurang, hujan langsung turun dengan deras. Alhamdulillah hujan turun setelah kami sampai di rumah. Sampai malam hujan masih mengguyur deras. Pun ketika mandi air hangat, masih berasa dingin.

Jumat, 2 Januari 2015 subuh, pagi dan gerimis menggoda. Masih dingin, membuat diri ingin terus meringkuk saja. Tapi, ini di Jogja ratiih, masa ingin menghabiskan waktu selepas subuh di tempat tidur.  Pagi yang romantis yang sangat sayang dilewatkan untuk dinikmati. Hujan rintik-rintik dan diam-diam matahari mulai menunjukkan eksistensi sinarnya. Meskipun gerimis, udara pagi Kaliurang tetap saja segar dinikmati. Pukul 06.00 akhirnya aku putuskan untuk mandi saja agar kantuk hilang dan segar diguyur air gunung yang dingin. Bbrrrr.

Tidak banyak yang berubah dari lingkungan rumah di Kaliurang ketika aku jalan-jalan pagi selepas mandi. Benar ternyata memang jadi segar. Angin sejuk dan gerimis. Dari kejauhan bayang-bayang Gunung Merapi terlihat. Biasanya kalau pagi cerah, Gunung Merapi yang gagah itu bisa terlihat dari lapangan desa. Karena pagi itu, cuaca masih mendung, Merapi tertutup awan, hanya terlihat bayang siluetnya. Namun, kegagahan Merapi tidak hilang pesonanya. Aura kemegahan Merapi tetap terpancar. Indah dan mengagumkan.

Orang-orang yang aku temui, beberapa langsung kaget melihat aku. Para tetangga. Tidak heran dan tidak kaget lagi ketika mereka bertemu aku, aku langsung dipeluk dan cipika cipiki, plus terkadang pipiku dicubit gemes. Hahaha. Kata mereka, aku mirip sekali dengan mamaku yang lahir dan besar di sana. Wajar menurutku jika mereka seperti itu. Dan setiap kali aku diperlakukan seperti itu, aku langsung berpikir sepertinya dahulu mama sangat terkenal di lingkungan desa ini. Tidak butuh waktu lama, mereka langsung mewawancarai aku dengan berbagai pertanyaan. Kapan sampai di Jogja, naik apa, bersama dengan siapa, apa kabarnya, sekarang kuliah atau bekerja, pekerjaannya apa, gimana kabar keluarga di Jakarta, dan berbagai pertanyaan lain.

Memang tidak semua tetangga di Kaliurang aku kenal, hanya ingat wajahnya saja. Kepada orang yang tidak mengenal aku, pun aku dikenalkan. “Ini anaknya Sum Jakarta.” Mereka langsung menampilkan ekspresi “Ooooh anaknya Sum toh.” sambil senyum. Dan aku hanya tersenyum saat diperkenalkan. Orang yang tidak aku kenal pun tetap ramah menyapa. Tahu bahwa aku bukanlah warga desa, tamu pendatang. Pantas wisatawan asing atau orang asing yang datang ke Indonesia selalu berkomentar orang Indonesia sangat ramah. Orang yang tidak kenal pun disapa dan diberi senyuman, seolah-olah sudah kenal lama.

Oke agenda Jumat hari itu adalah jalan-jalan ke gunung, ke Kaliurang menelusuri jejak-jejak Erupsi Merapi 2010 silam. Di sana ada wisata lava tour dengan menggunakan mobil jeep menelusuri tempat-tempat bersejarah dengan letusan Merapi: banker perlindungan yang memakan korban 3 orang terpanggang dalam bunker saat erupsi Merapi 2008, tempat tinggal Mbah Maridjan (juru kunci Merapi yang sudah meninggal), kali tempat aliran lahar, dan tempat lain yang habis tersapu lahar Merapi.

Ngebolang ke Merapi kali itu, aku tidak naik jeep, naik motor berdua dengan sepupu aku. Sensasinya luar biasa, antara mengasyikkan juga menengangkan menelusuri jalan berbatuan gunung dengan motor ditambah lagi keindahan pesona alam sekitar lerang Merapi

IMG_3744 IMG_3741 IMG_3779

Barang-barang peninggalan rumah Mbah Maridjan juga masih disimpan. Nama tempatnya Museum Peninggalan. Di sana kita bisa melihat barang-barang yang terkena abu Merapi. Rumah Mbah Maridjan sudah hancur dan hanya tertinggal lahan kosong saja.

IMG_3772 IMG_3753 IMG_3756 IMG_3769

Sepupuku bilang wisata lava tour sekarang tidak sama dengan yang dahulu selepas erupsi. Kondisinya sekarang sudah banyak pohon-pohon yang ditanam kembali dan sudah mulai tumbuh. Kalau tahun 2011 setalh erupsi itu, kondisi jalan dan alams ekitar masih dipenuhi dengan abu-abu Merapi. Masih hampir persis kondisinya saat setelah erupsi. Pun sekarang wilayah itu sudah tidak boleh lagi menjadi tempat tinggal. Sudah tidak ada rumah-rumah yang dibangun di lereng Merapi.

Yang mengharukan ketika menelusuri jejak-jejak kedahsyatan letusan Gunung Merapi di lereng Merapi. Betapa kecilnya kita jika dibandingkan dengan segala ciptaan-Nya. Apa yang bisa disombongkan dari diri yang kecil ini. Dalam hitungan sekejap detik semua habis dan hancur dilindas muntahan Merapi, Pun ketika bencana itu telah terlalui, ada semangat baru untuk bangkit. Karena muntahan Merapi memberikan kesuburan pada tanah. Menumbuhkan pucuk-pucuk tanaman baru yang siap tumbuh kembali.

Ada satu gedung yang arsitekturnya sangat menarik. Museum Merapi. Museum ini buka setiap hari dengan harga tiket Rp5.000 dan Rp8.000 jika ingin masuk juga ke Theater Merapi yang ada di dalam museum dan di sana kita bisa menonton film tentang Merapi. Harga tiket yang murah. Begitu masuk ke museum, kita akan disambut dengan miniatur Gunung Merapi. Kita bisa melihat dan mendapatkan banyak informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan Gunung Merapi dan gunung-gunung berapi aktif di Indonesia pada umumnya. Sejarah letusan Merapi, efek letusan Merapi, alat-alat kegunungapian, hingga mitos-mitos yang berhubungan dengan Merapi.

IMG_3780 IMG_3781 IMG_3791

Sampai hari menjelang sore kami bermain di gunung. Pukul 15.00 kami pulang dan rencananya sore ini kami akan melanjutkan main ke Alun-Alun dan Malioboro, menikmati Malioboro malam hari. Namun, lagi-lagi hujan deras turun. Selepas ashar, pun aku berdiam di rumah menikmati hujan sore sambil minum teh dan mengobrol membicarakan banyak hal sampai malam dengan pakde, bude, dan kedua sepupu aku.

Budaya minum teh di sini masih kental. Pagi selalu ada teh, sore ada teh lagi. Bahkan siang-siang pun ada teh. Kata pakde, kalau pagi-pagi tidak minum teh rasanya pusing. Pun begitu di sore hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s