Jogja: Suatu Ketika (1)

Selalu ada cerita di setiap perjalanan. Dan itu menyenangkan walaupun ceritanya tidak melulu menyenangkan. Selalu ada pelajaran dari setiap pengalaman yang terasa dalam setiap perjalanan. Dan itu mengasyikkan walaupun pelajarannya tidak melulu
mengasyikkan.

Tahun baru 2015 ini, aku dapat jatah libur 4 hari, mulai tanggal 1 sampai dengan 4 Januari. Rasa-rasanya aku sudah lama tidak jalan-jalan. Akhirnya, aku putuskanlah di bulan November itu, oke kita pergi  jalan-jalan ke Jogja. Ajaklah teman-teman yang bisa dan mau pergi ke sana bareng-bareng.

Sayang, tidak ada yang bisa ikut jalan-jalan. Itu berarti aku akan ngebolang ke Jogja sendiri. Berangkat atau tidak? Hayuuklah tetap berangkat. Kesendirian akan dialami di jalan berangkat dan pulang. Dan sebenarnya nanti kita tidak benar-benar sendiri toh, akan ada penumpang kereta yang lain (pembenaran untuk diri sendiri. Lebih tepatnya alasan untuk memberanikan diri untuk berangkat sendirian). Toh nanti, di Jogja akan ada sepupu aku yang akan menemani.

Awalnya sempat bimbang. Apakah aku akan benar-benar berangkat? Mengingat aku hanya pergi sendiri. Ya, walaupun ini bukanlah ngebolang pertama kali yang aku hanya pergi seorang diri. Namun, ini perjalanan terjauh untuk pertama kalinya aku pergi sendiri. Dan mengingat juga bahwa seorang perempuan, ketika akan pergi, haruslah bersama mahramnya dan tidak sendiri. Oke, pada akhirnya aku putuskan tetap berangkat dan memesan tiket. Izin berangkat sudah dikantongi. Pakde di Jogja sudah dihubungi. Bahkan sampai rute perjalanan ke Wonosar pun dibikinin sama Bapak karena aku ada rencana untuk mampir silaturahim ke kampung halaman Bapak.

Rencana selanjutnya adalah searching sebanyak-banyaknya artikel tentang perjalanan solo bagi perempuan, tips dan triknya melakukan perjalanan solo. Aku cari juga artikel yang membahas tentang perjalanan dengan kereta, kondisi stasiun, perjalanan dengan bis, tips aman selama perjalanan. Baru pertama kali ini, sebelum melakukan perjalanan, aku merencanakan dan mencari tahu segala sesuatu tentang perjalanan yang akan dijalani. Sesuatu sekali.

Ini hal baru yang menyenangkan. Merencanakan perjalanan ternyata itu sangat menyenangkan. Termasuk juga rencana keuangan. Destinasi wisata juga direncanakan, termasuk juga rute perjalanan, sehingga nantinya tidak memakan waktu dan biaya di jalan dan menghabiskan waktu bolak-balik.

Sayangnya, aku termasuk sudah sangat telat memesan tiket kereta. Ya, sekali-kali pergi naik kereta. Selama ini, selalu naik bis malam ketika pergi ke sana. Ternyata tiket KA ke Jogja sudah habis di-booking dan harganya pun sudah bukan harga subsidi. Tekad untuk mencari tiket kereta tak lantas padam. Tiket KA kelas ekonomi Gajah Wong keberangkatan Kamis, 1 Januari 2015 pukul 07.00 pun bisa didapat dengan harga 230.000.

Persiapan berangkat liburan? Tidak ada. Bahkan di malam tahun baru, aku masih begadang di depan komputer mengerjakan orderan kantor. Jedar jeder suara kembang api dan petasan bikin berisik, bikin tambah gak bisa tidur, ngantuk berhadapan dengan komputer pun hilang. Niat awalnya, malam tahun baru gak usah tidur. Nanti di kereta baru tidur. Hahaha.

Packing koper baru H-1. Kali ini bawa koperlah biar gak ribet, tinggal seret dan lagipula kopernya juga enteng. Masih bisalah dibawa sendiri. Kenapa koper? Salah satu alasannya lagi adalah biar nanti aku gak nenteng-nenteng oleh-oleh yang pasti akan dibawain seabrek-abrek sama bude di sana. Segala barang bawaan tinggal masuk koper, beres, tinggal bawa, seret. Praktis.

Pagi selepas subuh pukul 05.00 berangkatlah aku diantarkan bapak ke Stasiun Senen, naik taksi. Pagi itu jalan raya Jakarta lancar selancar-lancarnya. Kendaraan tidak banyak lalu-lalang. Bisa jadi kebanyakan mereka masih tertidur lelap setelah menghabiskan malam tahun baru dengan berbagai kemeriahan acara. Ah, andai Jakarta selalu lancar seperti itu setiap hari. Pondok Labu-Senen hanya memakan waktu 45 menit. Coba bayangkan 45 menit!!! Padahal kalau di situasi jalanan sehari-hari bisa 2 jam.

Saking lancarnya, hampir-hampir saja taksi yang kami tumpangi menabrak pejalan kaki yang menyebrang sebrangan dan gak lihat kanan-kiri dulu. Mentang-mentang jalan Thamrin pagi itu sepi. Dan mereka menyebrangnya juga tidak di zebra croos dan menerobos taman pembatas jalan. Aahh. Ada-ada saja ya kelakuan pengguna jalan Jakarta ini.

Pukul 05.45, kami sampai di Stasiun Senen. Mobil dan motor sudah ramai lalu lalang di depan dan di dalam stasiun. Taksi kami pun harus sedikit antri untuk masuk ke stasiun. Orang-orang sudah ramai menunggu dan mengantri masuk ke peron kereta. Pagi itu, keberangkatan pertama adalah KA Tawang Jaya jurusan Solo pukul 06.10.

Sementara aku, hanya tinggal mencari tempat penukaran tiket online yang sudah aku pesan. Di Stasiun Senen, penukaran tiket online tidak lagi di loket karcis. Ada 6 mesin pencetak karcis yang disediakan dekat loket pembelian karcis. Caranya mudah, hanya tinggal memasukkan nomor pembayaran, setelah itu menunggu 1-3 menit proses pencetakan tiket. Kemudian, siaplah kita berangkat dengan tiket KA di tangan.

Untuk yang pertama kalinya ke Jogja sendiri. Alhamdulillah dipertemukan dengan orang-orang baik mulai berangkat dari Stasiun Senen sampai pulang ke Jakarta. Setelah 15 tahun gak pernah naik kereta ke luar kota dan kali ini perjalanan ke Jogja naik kereta sendiri. Di kereta, krik-krik-krik. Mati gaya karena gak ada teman bicara. Aku bawa novel, tapi tidak tahan lama novel itu dibaca. Sepanjang perjalanan, tilawah, main hape, dengerin musik, tidur, clingak-clinguk, mondar-mandir ke gerbong sebelah, dan melihat pemandangan yang isinya sawah. Sebenarnya, di kursi empat orang yang saling berhadapan itu, aku punya teman perjalanan, seorang yang sudah ibu-ibu usia sekitar 50-60 tahunan dan seorang mas-mas usia sekitar 20-30 tahunan. Tapi obrolan kami hanya sekadar basa-basi di awal, perkenalan dan menanyakan tujuan. Setelah itu, sepanjang perjalanan mereka juga tidur. Daaaan akhirnya sampai juga di Stasiun Tugu, Jogjakarta pukul 15.00. Alhamdulillaaaaah.

IMG_3721

Sampai Jogja, gak disangka di Stasiun Tugu ketemu teman perjalanan waktu ke Lampung 10 bulan yang lalu, ternyata dia masih ingat juga walaupun awalnya cuma bertatap-tatapan sambil mengingat-ingat nama dan wajahnya. Sambil menunggu jemputan Pakde, clingak-clinguk, narsis di depan stasiun yang sekarang sudah rapi dibandingkan 15 tahun lalu. Ya pastilah.

Dari stasiun, aku dan pakde langsung ke Terminal Jombor, konfirmasi dan ambil pesanan tiket. Daaaan ternyata oh ternyata. Saat konfirmasi tiket di Terminal Jombor, gak dapat tiket pulang karena di-PHP-in agen bis. Di-PHP-in gimana. Jadi, sebelumnya aku sudah pesan tiket bis Kramat Djati via telpon ke agen bis yang ada di Jombor. Kata mas agennya, ada tiket untuk tujuan Jakarta keberangkatan tanggal 4 Januari. Nah, ternyata untuk Kramat Djati tiket sudah terjual habis dan mas agen itu ingin mencarikan bis yang lain. Namun, mas agen itu lupa memberitahu bahwa tiket habis.

Alhamdulilah di agen bis Kramat Djati ketemu mas agen bis yang baik hati mau muter-muter mencarikan tiket bis yang masih ada. Akhirnya dapat tiket pulang dengan naik bis PO Prayogo jurusan Jogja-Bogor dan aku bisa turun di Pasar Rebo. Entah itu bis apa, nama PO-nya belum pernah dengar apalagi tahu, dengan posisi tempat duduk paling belakang dan kelas patas-AC. Fuiih. Yasudahlah tak apa. Itu tiket satu-satunya yang ada. Yang penting ada AC dan aku bisa pulang ke Jakarta.

Di saat sudah pasrah dengan kondisi nanti pulang ke Jakarta, hari ke-2 di Jogja dapat kenalan teman baru (dikenalkan sepupu) dan dapat tumpangan mobil ke Jakarta (plus
diantar sampai rumah dan terjamin aman, walaupun liburan di Jogja harus selasai 1 hari lebih awal dari rencana). Alhamdulillah gak jadi naik bis antah berantah dan uang tiket yang sudah dibayar pun bisa kembali dengan potongan 25%.

Sensasi perjalanan pulang ke Jakarta beda lagi. Jogja-Jakarta di perjalanan pulang itu menghabiskan waktu 24 jam. Huuuuh. Perjalanan darat terlama. Kami berangkat dari Jogja pukul 1 dini hari dan sampai rumah juga pukul 1 dini hari Senin. 24 jam full. Capek. Pastilah. Baru kali itu aku benar-benar merasakan macetnya Pantura.

Sedangkan pemberhentian kami di perjalanan tidak begitu lama. Kami berhenti saat subuh (untuk salat subuh dan istirahat), saat sarapan yang digabung dengan makan siang (kami sarapan pukul 11 karena lama mencari tempat makan), saat salat ashar (jamak dengan salat zuhur), dan makan malam plus salat maghrib (jamak dengan salat isya). Pun saat istirahat tidak lebih dari satu jam kami berhenti. Sungguh sangat lama sekali, 24 jam. Gak terbayang bagaimana kalau saat mudik (karena aku belum pernah merasakan mudik dan kemacetannya).

Ngebolang liburan yang sensasi perjalanan berangkat dan pulang benar-benar terasa. Oke next time, kita harus nabung lagi dan merencanakan ngebolang selanjutnya. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s