Termehek-mehek

Pernahkah merasa tiba-tiba ingin menangis? Tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba saja ingin menangis. Lalu tumpahlah semua air mata. Itu yang terjadi selama tiga pekan belakangan kemarin yang bisa dibilang segalanya datang bersamaan, menuntut hal yang sama: pekerjaan di kantor yang waktu itu dikejar deadline, kerjaan order, kerjaan rumah, beberapa proyek, keluarga, teman, adek-adek kelas yang saat ini sedang menghadapai satu kegiatan penting dalam organisasi yang butuh dibimbing. Aaahhh. Semua itu harus dipikrkan dan dikerjakan tentunya, juga diperhatikan. Dan aku mau tidak mau ada yang dikorbankan dulu salah satu atau salah duanya. Yang dinomorduakan bukannya tidak penting, hanya yang diprioritaskan itu penting dan mendesak.

Dan akhirnya aku menangis juga. hahahaha. Itu sudah terjadi beberapa hari yang lalu, ketika setelah shalat Ashar, entah kenapa tiba-tiba rasanya ingin menangis. Sebelumnya, setelah istirahat siang aku pasang muratal surah ar-Rahmaan. Eh, menjelang Ashar, perasaan berubah menjadi melow. Dan puncaknya setelah shalat Ashar, mewek juga. Keluar juga itu air mata. Tetapi masih berusaha ditahan-tahan. Itu masih di kantor. Gak lucu banget, aku nangis di kantor.

Sebelumnya saat shalat Dhuha, sudah merasa melow-melow, tapi masih bisa sok cool. hehehe. Begitu selesai shalat Ashar, rasa melow itu muncul lagi mungkin bisa jadi karena pengaruh dengerin muratal ar-Rahmaan. Saat pulang, itu sudah tidak bisa ditahan lagi. Dan menangislah aku di motor. Bahkan bisa ya aku nangis di motor. Dan itu adalah yang kedua kalinya aku nangis di motor di perjalanan pulang kerja. Mewek sambil mengendarai motor, satu sisi pengen puas-puasin nangis, tapi di sisi lain juga harus tetep waspada sama kanan kiri depan belakang. Bisa-bisa gara-gara mewek lalu tidak konsentrasi bahayanya bisa terjadi apa-apa. Alhamdulillah masih sampai rumah dengan selamat. Konsekuensinya cuma satu, sampai rumah, mata merah, bengep.

Aku pikir acara nangisnya bakal selesai sampai di situ. Eh, selesai shalat Isya, buka laptop, pengen nulis. Kondisinya gak tau mau nulis apa. Sambil dengerin winamp. Playlist yang disetel itu playlist yang udah ada, eh ternyata lagu-lagu melow dan galau. Jadilah itu di kamar sendirian, di depan laptop, terjadi acara termehek-mehek sesi dua. Eh, tiba-tiba bapak masuk ke kamar. Melihat anak perempuannya lagi mewek depan laptop yang lagi gak buka apa-apa. Jelas banget muka herannya, kenapa ini anak nangis. Setelah itu, tutup pintu lagi. Besoknya aku baru cerita panjang lebar.

Di beberapa pekan itu, aku juga sempet nangis yang bener-bener nangis, yaitu saat shalat gerhana bulan. Aku shalat gerhana bulan di MUI. Saat rakaat pertama masih biasa saja, saat imam baca surah kedua, seingat aku surah yang dibaca itu surah al-Mulk, ar-Rahman, al-Qiyamah, terus lupa baca surah apa lagi, al-Qari’ah juga deh kayaknya. Entah kenapa, saat shalat gerhana itu aku juga mewek, nangis sesegukan. Pulang-pulang bisa ditebak, mata merah juga bengep, hidung juga agak merah karena sering mengelap ingus gara-gara nangis.

Efeknya adalah setelah menangis, rasanya plong selega-leganya. Serasa semua beban, pusing-pusing, itu hilang. Hilang bersamaan dengan jatuhnya setiap tetesan air mata. Ya, menangis benar bisa meredakan emosi jiwa yang tidak tertahankan. Ingin mengeluarkan segala rasa yang ada. Setelah menangis, juga membuat badan dan perasaan menjadi lebih rileks dan tenang. Satu hal kebiasaan aku yang kadang sampai sekarang masih aku lakukan, tidur setelah menangis. Memang setelah menangis itu rasanya badan dan pikiran itu lega dan jadi enteng. Semua beban serasa sudah menghilang, pikiran tenang, nafas teratur. Ujung-ujungnya muncul rasa kantuk. Tidurlah setelah menangis. Dan itu efeknya sangat membuat tidak pede karena mata masih bengep dan tambah bengep karena tidur setelah menangis. Tapi itu tidak apalah, itu tidak sebanding dengan rasa lega dan plong yang dirasakan setelah menangis. Setelah menangis itu, pikiran jadi lebih fresh. Jadi bisa lebih berpikir segala hal yang harus dilakukan dan menentukan arah juga rencana.

Menangis itu tidak melulu merupakan hal memalukan. Menangis itu hal yang manusiawi. Hal yang wajar jika manusia itu menangis. Bukankah para orang-orang saleh yang hebat pun mereka juga menangis. Di siang hari mereka garang menghadapi dunia, di malam hari mereka menangis bersujud di hadapan Sang Mahakuasa. Pun menangis ketika dalam kondisi sangat tertekan dengan berbagai hal dan ingin mengeluarkan segala rasa. Menangislah. Mengapa tidak jika menangis dapat memberikan kekuatan dan second wind bagi kita untuk bisa menghadapi masalah dan tekanan yang ada?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s