Galau Mas Dika

Kulihat jam dinding yang bertengger di dinding kamar unguku, 22.05. Ada apa gerangan dia menelponku malam-malam.

“Assalamualaikum.”

“Walaikumsalam.”

“Belum tidur, Dek?”

“Kalau aku sudah tidur, mana bisa aku menjawab telpon kamu, Mas. Ada apa?”

Hening. Tidak ada suara dari seberang sana. Krik krik krik.

“Mas?”

Masih belum ada jawaban. Diam. Dan aku hanya terheran-heran, ada apa.

“Mas? Kamu masih di sana?”

Masih diam.

“Mas? Kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan, aku…”

Tiba-tiba dia menjawab. Memotong perkataanku.

“Aku mau dengar kamu marah dan ceramahin aku panjang lebar lagi, boleh?”

Haah. Mengapa tiba-tiba dia berkata seperti itu. Ah, Mas Dika itu terkadang susah ditebak. Otakku berputar, berpikir ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut.

“Maksud Mas? Mas ini sudah malam. Gak usah aneh-aneh deh.”

“Ini tentang Nadia.”

Nadia. Ahh, Nadia lagi Nadia lagi. Aku sudah hampir bosan membicarakan masalah Nadia dengan Mas Dika.

“Mas, ini sudah malam. Aku malas membicarakan hal itu.”

“Kamu masih belum bisa menerima Nadia, Dek?”

“Bukannya aku tidak bisa menerima Nadia, Mas.”

Sejenak aku menghela napas.

“Ah, Mas Dika. Mengapa?” kataku dalam hati.

“Aku hanya tidak setuju dengan hubungan kalian. Kalian sudah pacaran empat tahun lamanya. Aku cuma minta Mas Dika memilih: putusin Nadia atau nikahkan Nadia. Kita sudah membahas panjang lebar tentang pacaran, tentang hubungan Mas Dika dengan Nadia. Bukannya aku tidak bisa menerima Nadia. Aku cuma ingin kalian menjalin hubungan yang sesuai jalur.”

Aku terdiam sejenak. Menghela napas panjang.

“Mas, aku bosan menceramahin Mas Dika dan Nadia tentang ini. Sekarang terserah Mas. Itu urusan Mas dengan Nadia. Aku sudah tidak mau ikut campur lagi urusan kalian. Kalau memang Mas serius dengan Nadia, segeralah lamar dan nikahi dia. Dulu alasan kalian tidak mau menikah karena masih kuliah. Sekarang kalian sama-sama sudah mulai mapan dan Mas sebentar lagi akan S2 di Inggris.”

Tidak ada sahutan dari seberang sana. Aku hanya menghela napas panjang. Sudah tidak mau lagi memikirkan urusan hubungan mereka berdua. Terserahlah.

“Kamu sudah tidak mau lagi memarahi, menceramahi Mas panjang lebar? Nyindir-nyindir Mas tentang Nadia?”

“Terserahlah Mas. Terserah Mas saja. Mas kan sudah dewasa. Sudah bisa menentukan pilihan hidup.”

“Kamu benar, Dek.”

Lalu, dia terdiam. Aku juga ikut terdiam mendengar suaranya yang terdengar sedih. Baru kali ini aku mendengar suara Mas Dika seperti itu, sedih, parau, seperti habis menangis. Ah, bisa juga Mas Dika yang kuat dan sangat laki-laki itu menangis? Mas Dika juga manusia. Pasti yang mau disampaikan Mas Dika sesuatu yang serius.

“Aku gak jadi tidur. Ngantuknya mendadak hilang.”

Mas Dika masih terdiam.

“Kamu benar tentang hubungan Mas dengan Nadia. Mas sudah buang-buang waktu, tenaga, pikiran, dan terutama cinta hanya untuk seseorang yang sebenarnya belum berhak untuk Mas berikan dan dia pun belum berhak menerimanya.”

Mas Dika menghela napas panjang. Ya Tuhan, pasti sesuatu yang sangat dahsyat terjadi pada Mas Dika dan aku ingin tahu apa itu.

“Mas dan Nadia sudah putus.”

“Haah? Yang benar, Mas? Kok bisa? Kenapa? Kapan? Mas serius? Yang mutusin siapa?”

“Mas yang mutusin Nadia.”

Ya ampun. Mimpi apa aku semalam. Seorang Mas Dika yang cinta mati sama Nadia bisa memutuskan hubungan mereka. Mas Dika tipe orang yang sangat setia. Ia tidak mungkin meninggalkan Nadia hanya karena alasan sepele.

“Ternyata Nadia musuh dalam selimut. Dia selingkuh di belakang Mas. Sejak Mas meng-apply beasiswa S2 ke Inggris, sebenarnya hubungan kami sudah agak renggang. Kami mulai jarang bertemu karena kesibukan dia di kantor.”

Mas Dika terdiam. Memang itu kebiasan bicaranya. Selalu ada jeda di antara pembicaraanya.

“Mas sudah bicarakan masa depan dengan Nadia bahwa Mas berharap sekali lolos beasiswa S2. Dan Mas ingin dia ikut ke Inggris sebagai istri Mas. Namun, ternyata ia agak tidak sepakat dengan rencana Mas itu. Ia masih ingin mengejar karirnya. Sejak itu hubungan kami sudah renggang walaupun kami masih bertemu dan komunikasi juga masih jalan.”

Mas Dika terdiam lagi. Aku hanya menyahut “Oh”, “Iya”, “He eh”. Curhatan malam itu adalah sepenuhnya waktu milik Mas Dika.

Mas Dika suka bercerita tentang apa pun kepadaku, termasuk kehidupan sehari-harinya. Begitu pun denganku yang suka bercerita kepada Mas Dika. Kami tumbuh dan berkembang bersama. Ia tinggal bersama keluargaku sejak kelas dua SD. Ayahnya wafat ketika ia kelas satu SD dan ibunya, yang juga kakak ayahku, bekerja sebagai karyawan pabrik di daerah Karawang. Ibu Mas Dika tidak bisa membawa Mas Dika tinggal bersamanya karena ia tinggal di mes/asrama pabrik. Lagipula tidak ada yang bisa menjaga Mas Dika kecil di sana. Waktu itu aku masih bersekolah di TK. Kehadiran Mas Dika di rumah sudah kuanggap sebagai kakak laki-lakiku. Saat itu aku juga tidak punya teman bermain di rumah. Aku baru punya adik ketika duduk di kelas lima SD.

Jadilah kami, aku dan Mas Dika, sering bermain, tumbuh dan berkembang bersama. Dari SD hingga SMA, kami bersekolah di sekolah yang sama. Teman-teman sekolahku, menyangka bahwa Mas Dika adalah kakak kandungku. Padahal bukan dan itu sudah terlalu sering aku klarifikasi ke teman-teman.

“Mas pikir seiiring berjalannya waktu dia akan berubah pikiran. Toh, dia juga tahu bahwa Mas sangat menginginkan beasiswa itu dan Mas sudah menceritakan rencana masa depan Mas sejak sebelum Mas meng-apply beasiswa. Mas pikir dia akan mengerti dan mau mendukung rencana masa depan itu. Lagipula dia juga pernah bilang bahwa dia akan mendukung segala keputusan yang Mas buat selama itu baik. Namun, semua itu tidak seperti yang Mas harapkan. Saat Mas memberi kabar bahwa Mas lulus dan mendapat beasiswa ke Inggris, dia justru meragu.”

Terdengar Mas Dika menyeka hidungnya. Bukan ingusan karena flu. Ah, Mas Dika seperti apa kamu menangis sampai ingusan. Meski aku dekat dengan Mas Dika, untuk urusan menangis, jarang sekali aku melihat Mas Dika menangis. Tidak, bukan itu. Mungkin Mas Dika pernah menangis, hanya saja aku yang tidak melihatnya.

“Dia tidak mau ikut Mas ke Inggris. Alasannya karena ia ingin mengejar karirnya. Memang saat itu, karir Nadia di kantor sedang bagus. Ia dipromosikan menjadi manager di sana. Mas sudah mencoba membujuk Nadia karena kami sudah sama-sama membicarakan rencana ini sebelumnya. Ia tetap kekeuh tidak mau. Dua minggu kami tidak saling bertemu, sekadar menanyakan kabar pun tidak. Mas pikir ini akan menjadi waktu untuk dia berpikir. Mas pun sempat meragu. Mas harus memilih antara Nadia atau beasiswa S2 ke Inggris.”

Pasti sulit bagi Mas Dika untuk memilih. Mas Dika sangat mencintai Nadia, cinta pertamanya. Mas Dika berjuang sekali mendapatkan cinta Nadia. Sudah cinta mati. Apa pun Mas Dika berikan untuk Nadia. Namun, Mas Dika juga sangat menginginkan beasiswa S2-nya. Itu adalah keinginan ibu Mas Dika sebelum beliau wafat, dua minggu setelah perayaan wisuda sarjana Mas Dika. Ibu Mas Dika ingin anaknya sekolah yang tinggi, bahkan sampai S3 kalau bisa. Walaupun Mas Dika sejak SD dirawat oleh orang tuaku, untuk urusan biaya pendidikan, ibu Mas Dika-lah yang kekeuh ingin membiayai sendiri biaya pendidikan anaknya itu.

“Lalu?”

“Sampai pada saat Mas melihat Nadia bersama seorang laki-laki di resepsi pernikahan teman SMP Mas kemarin malam. Laki-laki itu mengaku sebagai pacar Nadia. Dan Nadia pun tidak membantah. Setelah itu mereka pergi. Mas bertanya ke teman kantor Nadia tentang pacar barunya itu. Ternyata, mereka sudah pacaran sejak kantor Nadia pindah ke tempat baru, tujuh bulan yang lalu.”

Setelah tadi ingusan, sekarang batuk-batuk terdengar dari seberang sana. Helaan napas panjang Mas Dika terdengar.

“Hari ini Mas bertemu Nadia. Kami bertengkar. Mas minta penjelasan dari dia. Dia hanya mengatakan bosan, bosan dan tidak mau ikut Mas ke Inggris. Ia ingin menjadi wanita karir. Tidak mau mengorbankan karirnya yang bagus demi ikut Mas ke Inggris. Mas yang akhirnya mengucapkan kata putus. Dia justru malah senang. Kamu tahu apa yang terbayang di pikiran Mas saat itu? Semua omelan, marah-marah, ceramah kamu tentang pacaran yang selalu kamu bilang. Terbayang muka cemberut kamu setiap kamu tahu Mas pulang setelah ketemu atau jalan berdua dengan Nadia.”

“Mas ingat apa yang Mas katakan padaku sebagai alasan Mas pacaran dengan Nadia?” tanyaku

“Mas masih ingat. Mas ingin mengenal pribadi calon istri dan merencanakan masa depan yang matang dengan dia.” jawabnya

“Namun, empat tahun rupanya kalian tidak memahami betul pasangannya dan tentang rencana masa depan, sayang sekali Nadia tidak sejalan dengan Mas. Padahal kalian sudah membicarakannya jauh di awal.” kataku menyayangkan.

Kami sama-sama diam. Aku tahu Mas Dika sedang berpikir dalam pikirannya dengan hati yang menangis. Kehidupan Mas Dika sejak kecil mengajarkannya untuk hidup berjuang. Ia berjuang menjadi anak yang berprestasi di sekolah demi sang ibu yang bekerja demi pendidikan anaknya. Mas Dika pun tidak macam-macam dalam pergaulan. Ia tidak mau mengecewakan orangtuaku yang sudah merawatnya.

“Lalu, rencana Mas Dika apa?”

“Mas akan tetap pergi ke Inggris. Soal Nadia, biarlah dia menjadi bagian dari masa lalu Mas. Dek, Mas minta maaf sudah mengabaikan semua bawelan dan ceramah kamu tentang hubungan Mas dengan Nadia. Mas tahu sejak kamu ikut dan aktif di lembaga keagamaan kampus, Mas menduga kamu akan menjadi perempuan yang salihah. Dan ternyata dugaan Mas benar. Mas bangga punya adik seperti kamu yang setiap waktu bawel soal Nadia.”

“Gak setiap waktu juga keleeuus Mas. Gak usah lebai deh.”

Mas Dika tertawa.

“Mas Dika ke Inggris satu setengah bulan lagi. Mas ke sana mau sendiri atau berdua?”

“Berdua? Sama siapa adikku sayang?”

“Ya, sama istri Mas Dika lah.”

Suara tawa terdengar dari seberang sana.

“Sebelum Mas Dika ke Inggris, mau gak Mas Dika adek cariin calon istri yang udah baik salihah juga. Atau Mas Dika mau cari sendiri. Di Yogya sana masih banyak Mas perempuan salihah. Atau mau adek kenalin sama teman adek di Yogya, lulusan UGM?”

“Gak usah. Mas menyesal dan Mas tahu sudah berbuat salah. Mas mau mohon ampun sama Allah. Kamu bilang Allah itu Maha Pengampun dan mau menerima tobat hamba-Nya yang bertobat dengan sungguh-sungguh. Tidak ada kata terlambat untuk Mas kan? Dan soal jodoh, Mas mau minta sama Allah saja. Kamu kan pernah bilang mau kita senang mau kita susah mau kita bahagia ataupun sedih, serahkan semuanya kepada Allah. Allah yang tahu kondisi hamba-Nya dan tahu segala sesuatu yang terbaik buat kita. Kalau jodoh Mas itu datang via kamu, ya itu bagus. Kalau datang dari arah yang lain, itu juga bagus. Yang jelas sekarang Mas ingin memperbaiki diri, ingin belajar dan tahu agama lebih dalam. Mas melihat banyak perubahan positif dari kamu sejak kamu aktif di pengajian sepekan sekali. Mas juga mau berubah menjadi lebih baik lagi. Sepertinya Mas harus belajar banyak dari kamu, Dek.”

“Ah, Mas Dika bisa saja. Tidak ada kata terlambat untuk kebaikan selama kita mau memperjuangkannya, Mas.” jawabku. “Pulanglah ke Jakarta, Mas. Temui bapak sama ibu di sini. Mereka kangen sama Mas Dika.”

“Iya Insya Allah.”

Aku menguap, mengulet-ulet badan. Sudah 23.30 WIB rupanya.

“Yasudah, tidur sana. Maaf ya Mas sudah ganggu kamu malam-malam.”

“Mas, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik juga. Yakini itu. Bisa jadi akan ada perempuan yang jauh lebih baik dari Nadia yang sedang dipersiapkan Allah untuk Mas.”

“Terima kasih ya, Dek. Sudah tidur sana.”

“Mas Dika, ingat buat salat tahajud malam ini ya.”
G
‘Insya Allah. Makasi ya. Assalamualaikum.”

“Walaikumsalam.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s