Menulis Gajah

Lembaran-lembaran kertas, pelan tapi pasti, mulai menyampah di setiap sudut kamar. Di meja itu ia masih terpaku menatap kertas kosong. Dimain-mainkannya pensil mekanik merah muda kesayangannya. Beberapa kali ia menghela napas panjang lalu menyandar lemas pada sandaran bangku.

“Ah, sial. Mengapa harus gajah? Sudah besar, jelek lagi.” teriaknya sambil melemparkan kertas-kertas di hadapannya. Frustasi.

Gajah? Pantas saja, dimaklumkanlah mengapa ia begitu frustasi. Rupanya ia harus menulis tulisan tentang gajah. Teman sekamarku itu pernah punya pengalaman buruk bersama gajah. Ia pernah terjatuh dari gajah saat kami ingin berkeliling naik gajah di Taman Safari. Padahal, ia jatuh karena kepanikannya sendiri, takut duduk di atas punggung gajah. Gara-gara itu, tangan kanannya patah dan harus digips. Hampir tiga minggu tangannya digips sedangkan ketika itu ia harus menyelesaikan tulisannya untuk diikutsertakan dalam sebuah ajang lomba menulis.

“Tulis saja rasa frustasimu menulis si hewan besar berbelalai itu.” kataku santai sambil membolak-balik majalah.

Sekejab ia langsung menengok ke arahku yang sedang tidur-tiduran. Matanya menatap lurus ke arahku. Bibirnya menyeringai tersenyum lebar. Dijentiknya jemarinya yang lentik sambil menggoyang-goyangkan kepala seperti yang sering dilakukan para penari India.

“That’s good idea, man. I love you so much. Muach muach.”

Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah kiss by-nya yang menggelikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s