Menulis Gajah

Lembaran-lembaran kertas, pelan tapi pasti, mulai menyampah di setiap sudut kamar. Di meja itu ia masih terpaku menatap kertas kosong. Dimain-mainkannya pensil mekanik merah muda kesayangannya. Beberapa kali ia menghela napas panjang lalu menyandar lemas pada sandaran bangku. “Ah, sial. Mengapa harus gajah? Sudah besar, jelek lagi.” teriaknya sambil melemparkan kertas-kertas di hadapannya. Frustasi. Gajah? …