Yang Terbaik, Sudahkah?

Ketika kita merasa sudah memberikan yang terbaik, namun ternyata hasilnya belum maksimal, muncul pertanyaan-pertanyaan yang menjadi refleksi terhadap diri sendiri. Apakah benar usaha yang dilakukan sudah memberikan usaha terbaik dan usaha yang semaksimal mungkin? Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah apakah usaha yang dilakukan sudah melalui jalan yang benar atau belum? Apakah usaha itu sudah dibarengi dengan keilmuan yang benar? Apakah benar ini usaha maksimal dan terbaik kita? Apakah benar-benar sudah sampai titik darah penghabisan? Apakah kita sudah melibatkan Sang Pencipta dalam usaha kita? Atau justru kita semakin menjauh saat kita berusaha mengejar hal yang kita inginkan? Mungkin kita memerlukan suatu ukuran bagi diri sendiri seberapa tinggikah usaha maksimal itu? Seberapa tinggikah ukuran sampai titik darah penghabisan?

Teringat satu cerita tentang seseorang pelari yang latihan berlari di sebuah lapangan trek lari. Sang pelatih mengatakan cobalah kalian melatih diri kalian untuk lari sampai semaksimal mungkin yang kalian mampu. Sang pelari dan teman-temannya pun mulai berlari. Satu putaran demi satu putaran mereka lewati. Ketika putaran kesepuluh sudah ada yang berhenti, kesebelas, kedua belas, begitu seterusnya hingga pelari yang latihan saat itu sudah berhenti mengitari trek lari. Hanya tertinggal seorang saja. pelari itu terus berlari hingga ia hampir pingsan dan terjatuh. Saat itulah sang pelari tersebut tidak lagi meneruskan latihan larinya.

Seorang temannya bertanya, “Mengapa engkau berlari seperti itu?”
Ia menjawab, “Aku berlari hingga nyaris pingsan dan terjatuh, itulah sesungguhnya kekuatanku. Sebenarnya aku mampu mengitari lapangan ini sebanyak 30 putaran. Itulah usaha terbaik dan maksimalku berlari hingga aku tak mampu lagi berlari.”

Bisa jadi ketika kita belum mendapatkan hasil yang kita harapkan dari usaha kita yang dirasa sudah maksimal, kita perlu berkaca pada diri sendiri, benarkan aku sudah melakukan hal itu.

Jika memang belum, perlulah bagi kita berbenah diri untuk bisa memberikan usaha yang terbaik. Perlulah bagi kita untuk melihat dan menunjuk kepada diri sendiri. Apa yang sudah baik yang perlu dipertahankan juga ditingkatkan dan apa yang belum baik dan masih perlu ditingkatkan dari diriku. Meningkatkan kapasitas keilmuan, profesionalitas, manajemen waktu, manajemen diri, manajemen emosi. Perlulah bagi kita untuk tidak merasa sombong. Apa yang perlu disombongkan dari diri yang serbasalah dan tempat khilaf. Perlulah bagi kita untuk mau belajar dari dan diajari oleh orang lain. Maulah diri kita untuk menerima ilmu dan kebaikan dari orang lain, terlepas dari siapa yang memberikan kebaikan itu.

Jika memang sudah melakukan dan memberikan yang terbaik hingga kita tidak mampu lagi berlari seperti yang pelari tersebut lakukan, hingga nyaris pingsan dan terjatuh, hasilnya juga belum seperti yang diharapkan, bersabarlah. Itu adalah sebuah pemprosesan dan pembelajaran diri untuk dapat melihat sisi lain yang mungkin selama ini tidak terlihat dan baru terlihat setelah kita memperoleh hasil seperti yang tidak diharapkan. Itu adalah sebuah pemprosesan dan pembelajaran diri untuk dapat melihat pintu dan potensi lain yang belum tergali. Yang yang terpenting adalah itu adalah satu fase pemprosesan diri untuk dapat ikhlas dan bersabar menerima ketentuan-Nya. Sebuah proses untuk dapat belajar ikhlas menerima dan menghadapi takdir. Proses untuk dapat bersyukur menerima ujian dan bersabar menerima nikmat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s