Jones??? Aah Tidak

Rasanya sudah lama, aktivitas orang-orang di dunia maya yang bernama Facebook tidak dilihat. Sesekali hanya men-share buku yang baru saja diterbitkan oleh penerbit tempat aku bekerja. Ceritanya dua pekan ini, aku berusaha untuk memfokuskan diri untuk menyelesaikan satu pekerjaan. Aku menargetkan pekerjaan ini selesai pada pertengahan Oktober dengan menyimpan dulu proyek yang aku lakukan dengan temanku. Namun, tanpa disangka, datanglah proyek sosial baru yang juga berhubungan dengan dunia menulis. Akan tetapi, tetap fokus utama aku adalah menyelesaikan pekerjaan yang sudah aku targetkan. Oke, bukan itu yang ingin aku tuangkan di sini.

Setelah rasanya lama tidak melihat aktivitas orang-orang di dunia maya, begitu melihat aktivitas para penghuni Facebook, yang pertama aku lihat adalah beberapa status teman yang memuat kata jones alias jomblo ngenes. Entahlah itu istilah baru atau istilah lama yang baru aku dengar. Jujur, aku baru mendengar istilah ini, jones ‘jomblo ngenes’.

Memangnya ada apa dengan jones? Ngenes berarti sedih, memilukan. Itu berarti jones= jomblo ngenes= jomblo yang menyedihkan atau jomblo itu menyedihkan. Begitukah?

Oke, saat menulis ini aku menempatkan diri sebagai aku sendiri, seorang perempuan yang masih jomblo di usia 20-an dan belum memasuki usia seperempat abad. Bagi banyak orang, usia 20-an adalah usia ideal untuk menikah, apalagi di awal-awal usia 20-an, sekitar 20-26 tahun. Teman-teman SMA dan kuliah aku juga sudah banyak yang menikah. Kemudian, isi facebooknya penuh dengan status dan foto tentang kehidupan barunya.

Melihat teman-temannya sudah menikah, muncullah kegalauan di hati para jomblo. Galau memikirkan kapan ya menyusul mereka. Belum lagi menghadapi pertanyaan pamungkas keluarga besar, kapan nikah? Ditambah lagi melihat foto yang terpampang di timeline sang pengantin baru, anak mereka yang baru lahir, foto kebersamaan dan foto lain yang menunjukkah kebahagiaan pernikahan. Semua menambah kegalauan jomblo melewati malam minggu yang masih dilewati tanpa pasangan hidup.

Apakah itu yang kemudian memunculkan jones? Jomblo ngenes? Masih jomblo di usia ideal untuk menikah atau di saat sudah lewat dari usia ideal itu?

Bagi aku kegalauan tentang itu adalah wajar. Aku juga pernah mengalami kegalauan terkait jodoh dan aku pikir setiap orang, laki-laki dan perempuan, mengalami hal yang sama. Yang membedakannya pada setiap orang adalah kelihatan atau tidak rasa galau itu.

Setelah lulus kuliah, kita galau mau ke mana kita melewati masa-masa pascakampus, lanjut S2-S3-kah, menikah-kah, bekerja-kah, buka bisnis sendiri-kah, atau menganggur dulu menikmati waktu untuk lazy time. Setelah bekerja, s2 selesai, bisnis sudah mulai maju, muncul tuntutan dan menjadikan kegalauan baru, kapan menikah. Galau memikirkan jodoh. Setelah bertemu jodoh dan menikah, muncul lagi pertanyaan orang lain, kapan punya momongan. Setelah punya satu momongan, pertanyaan dari orang lain muncul lagi, kapan si kakak punya adek baru. Begitulah seterusnya, seolah tidak ada habis-habisnya. Bahkan sampai kita tua. Saat kita tua ditanya kapan punya mantu, kemudian ditanya kapan punya cucu.

Satu hal yang terkadang kita tidak pusing memikirkan jawaban dan justru marah, yaitu saat ditanya kapan mati. Yang ada orang yang bertanya seperti itu akan berhadapan dengan pertanyaan emosi, lu nyumpahin gue supaya cepet mati hah?! Ya, terkecuali bagi orang-orang yang sedang diingatkan tentang kematian, bahwa hidup ini hanya sebentar dan kematian bisa datang kapan saja, emosi itu tidak berlaku.

Ya, rasa galau ketika belum bertemu dengan sang jodoh itu adalah wajar dan akan dirasakan oleh setiap kita, begitu pun aku. Namun, melihat istilah jones, jomblo ngenes? Hah? Sebegitunya kah?

Para jomblo yang memiliki keinginan untuk menikah, sudah berusaha memperbaiki diri dan memantaskan diri, sudah berusaha, berikhtiar, berdoa, bersedekah, dan melakukan amal saleh lainnya, namun sang jodoh belum juga hadir dalam hidup, bersabarlah itu ujian (mengingatkan diri sendiri).

Ada yang mengatakan bahwa jodoh akan datang di waktu yang tepat dan di saat yang terbaik. Waktu yang tepat dan terbaik bagi siapa? Tidak hanya bagi diri kita sendiri. Bisa jadi kita sudah merasa siap untuk memasuki gerbang pernikahan. Namun, bagaimana dengan jodoh kita? Waktu yang tepat dan saat yang terbaik itu juga berlaku bagi sang jodoh kita. Mungkin saja saat ini kita belum dipertemukan dengan sang jodoh karena saat ini jodoh kita sedang dipantaskan oleh Allah hingga pada saatnya bertemu, keduanya memang telah siap dan itulah waktu terbaik bagi keduanya. Selain itu, juga waktu yang tepat dan terbaik bagi kondisi keluarga kita dan keluarga jodoh kita. Waktu yang tepat dan terbaik itu luas jangkauannya. Kita tidak dapat hanya menetapkan sesuatu berdasarkan kriteria manusia. Akan tetapi, standar yang digunakan adalah standar dari Sang Pemilik Cinta. Dia-lah yang mengetahui waktu yang tepat dan saat yang terbaik itu. Adakah kemudian jika jodoh kita tidak kunjung hadir lantas kita berontak kepada-Nya?

Mengapa lalu muncul istilah jones, jomblo ngenes? Bagiku, ini adalah tentang bagaimana kita menikmati setiap masa yang hadir dalam hidup, termasuk menikmati masa jomblo, menikmati setiap sindiran dan nyinyiran orang yang menanyakan tentang pernikahan kita. Memang saat ini, kondisinya masih jomblo setelah ikhtiar dan doa dilakukan. Lalu, apakah kita harus terpaku pada kondisi itu? Galau melihat pernikahan orang lain atau adakah sebenarnya kita iri terhadap mereka? Yang membuat kita lupa bersyukur kepada-Nya atas kondisi kita sekarang.

Saat masih jomblo, kita masih dapat menghabiskan banyak waktu dengan orang tua dan keluarga. Apalagi bagiku dan bagi para perempuan yang notabenenya akan pergi meninggalkan rumah demi ikut suami tercinta. Saat kita masih kuliah, apalagi yang menjadi aktivis kampus, begitu banyak waktu kita tersita untuk kegiatan di kampus. Pergi pagi pulang malam, rumah sudah seperti hotel yang menjadi tempat tidur, mandi, makan, dan istirahat bagi kita. Bahkan di akhir pekan pun, kita masih menghabiskan waktu mengurus acara kampus.

Mumpung kita masih punya kesempatan untuk membaktikan diri kepada orang tua, baktikanlah diri kita. Jika saat menjadi aktivis kampus dalam hal kegiatan kampus apa pun, waktu kita habis di kegiatan kampus, sekarang tidak ada salahnya kita mengganti waktu-waktu yang telah kita lewati itu. Sekarang, mumpung masih jomblo, habiskanlah banyak waktu kita untuk orang tua dan keluarga walaupun untuk beberapa momen tertentu, hal itu tidak dapat digantikan. Mengapa harus galau memikirkan jodoh yang tak kunjung datang sementara ada orang tua dan keluarga kita yang butuh bakti kita sebagai seorang anak. Dalam tingkatan cinta pun, cinta kepada orang tua lebih tinggi tingkatannya dibandingkan tingkatan cinta kepada pasangan. Kita pun dapat memberikan kenangan indah untuk orang tua dan untuk diri sendiri sebelum akhirnya berpisah dan meninggalkan orang tua.

Saat kita masih jomblo, kita bisa menggunakan waktu dan segala potensi yang kita punya untuk umat dan masyarakat. Lihatlah lingkungan sekitar kita. Sesekali tinggalkan dunia asyik sendiri dengan urusan diri sendiri dan dunia maya. Menurutku, kita adalah manusia yang peka dengan lingkungan dan kondisi sekitar kita karena kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Egoisme diri dan keasyikan terhadap urusan dan masalah diri sendiri yang membuat kita tidak peduli dengan orang lain dan akhirnya sedikit demi sedikit menghilangkan rasa kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Ketika masih jomblo, kita masih dapat memaksimalkan waktu dan potensi untuk memberikan kontribusi untuk umat dan masyarakat. Kita belum dipusingkan dengan urusan-urusan domestik rumah tangga, urusan cekcok dengan pasangan, urusan keuangan rumah tangga yang seret, disibukkan dengan urusan buah hati ketika sudah hadir amanah Allah dalam rumah tangga. Sebelum datang saat kita akan disibukkan dengan urusan rumah tangga, anak, mencari nafkah untuk keluarga, dan urusan rumah tangga lainnya hingga terkadang membuat kita lupa untuk berkontribusi untuk umat, sibukkan saja diri dengan hal-hal positif dan bermanfaat bagi orang banyak. Dan juga kita mempunyai waktu untuk semakin menguatkan azzam dan tekad, biarpun nanti sudah berumah tangga, kita harus tetap dapat berkontribusi untuk umat. Pasangan hidup dan anak-anak tidak justru melalaikan kita dari amanah terhadap umat dan lantas menghilang dari peredaran. Namun, bagaimana kita menguatkan azzam setelah menikah, justru saling semakin menguatkan untuk dapat berkontribusi bagi umat.

Saat kita sudah berikhtiar dan berdoa memohon agar dipertemukan dengan sang jodoh, namun belum juga bertemu, itu bisa kita jadikan waktu untuk banyak mencari ilmu tentang pernikahan dan turunan, misal ilmu komunikasi, parenting, ilmu bermasyarakat, dll. Kita sering galau melihat kebahagiaan teman-teman kita yang sudah menikah. Namun, kita tidak tahu kan saat-saat mereka bertengkar, saat berselisih paham, saat cekcok, saat badai kehidupan menerjang. Itulah pernikahan dengan berbagai macam rasanya. Tidak hanya manis, tetapi juga asam, asin, pedas. Kita hanya tahu gambaran luar pernikahan orang lain yang manis-manis saja.

Dan itu yang harus disadari bahwa tidak melulu pernikahan itu berbicara tentang hal yang menyenangkan dan kenikmatan. Namun, ada hal ujian, musibah, dan cobaan di dalamnya. Juga tentang bagaimana kita menerima pasangan hidup yang mungkin tidak sesuai dengan harapan kita saat belum menikah. Sebelum menikah, berharap istri kita layaknya Khadijah atau Aisyah. Sebelum menikah, berharap suami kita layaknya seorang Muhammad atau para Khulafaur Rasyidin. Kesadaran itu yang dibangun juga sebelum menikah. Dan kita para jomblo, masih ada kesempatan untuk memperbanyak ilmu tentang itu, ilmu tentang penikahan dengan berbagai rasa dan turunannya sebelum pada akhirnya masuk ke masa praktik. Selain ilmu tentang pernikahan, kita juga masih dapat mencari atau mendalami ilmu yang lain, misal menghafal Al-Qur’an, keilmuan yang kita geluti, ilmu memasak, dll.

Kesempatan bagi kita untuk menabung dan berinvestasi juga masih terbuka lebar saat kita masih juga jomblo. Toh uang yang kita dapatkan di setiap bulan atau keuntungan hasil usaha belum digunakan untuk biaya pengeluaran bulanan rumah tangga. Kita dapat menabung dan berinvestasi untuk kehidupan setelah menikah. Jomblo bukan berarti kita bebas menghabiskan gaji atau laba usaha untuk apa pun yang kita suka, tanpa menyisihkannya untuk masa depan dan kehidupan setelah pernikahan. Kita tidak dipusingkan dengan pemasukan yang belum sebanding atau pas-pasan dengan pengeluaran rumah tangga. Justru kita dipusingkan mau diapakan gaji bulanan kita, mau diinvestasikan dalam bentuk apa.

Ya begitulah, aku bingung mau cerita apa lagi. Ini adalah tentang bagaimana kita menikmati setiap masa hidup, termasuk masa jomblo saat kita sudah berikhtiar dan berdoa. Toh jomblo dalam waktu yang lama juga bukan keinginan sendiri. Hanya belum dipertemukan saja. Daripada dipusingkan dengan menggalau tentang jodoh, mengapa tidak kita berkarya sesuai dengan hal yang kita suka dan minati? Kita habiskan banyak energi untuk hal-hal yang positif mumpung kita belum direpotkan dengan urusan rumah tangga. Menikmati masa secara positif dengan cara kita masing-masing. Membuat resolusi hidup yang tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri tetapi juga bermanfaat bagi orang-orang dan lingkungan sekitar kita. Dan yang terpenting adalah tetap ber-positive thinking kepada Sang Pemilik Cinta. Menggunakan standar hidup dengan standar-Nya. Yakin bahwa segala hal yang Dia berikan dan tetapkan untuk kita adalah sebaik-baik rencana dan karunia-Nya. Tidak perlu kita menjadi sok tahu sebagai manusia. Tugas kita hanya taat dan mengikuti kata-kata-Nya dengan ikhlas memohon ridho-Nya.

Jones, jomble ngenes? Aahh.. Tidak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s