Kita Telah Memilih

Karena kita sudah memilih. Bukan hanya aku, tetapi juga kau.

Ada banyak pilihan yang dihadapkan pada kita sebelum ini. Ada banyak keraguan yang harus diyakinkan. Keraguanku pada dirimu dan terlebih lagi pada diriku sendiri, pantaskah aku. Mengapa kau memilihku dan mengapa pula aku memilihmu. ada kebimbangan. Apakah benar pilihanku atas dirimu. Apakah pilihanku ini jalan yang akan membawaku kepada–yang selalu kau bilang–bahagia tiada batas tiada bertepi, yang selalu abadi.

Kau mengatakan kepadaku, “Memang pilihan ini sulit karena jawaban atas pilihan itu akan terus mengikut sampai di negeri keabadian.” Kau terhenti. Menarik napas panjang. “Ada tanggung jawab dan amanah yang sangat besar yang akan dipikul di atas punggung ini, yang menentukan akankah amanah ini benar-benar akan menyampaikan kita pada negeri keabadian. Semua itu tidak akan terhenti pada masa kebersamaan kita di negeri kefanaan ini.”

“Kau tahu, di mataku kau begitu yakin ingin masuk ke dalam duniaku. Entahlah apa yang membuatmu ingin memasuki duniaku.” kataku padamu. “Yang tidak aku ketahui akankah kau dapat bertahan dalam duniaku. Dan apakah aku juga dapat bertahan hingga waktu yang sangat lama hingga aku tak mampu lagi merasakan kenikmatan oksigen.”

Aku bertanya mengapa. Kau tidak menjawab. Lalu kau bertanya padaku, “Apakah harus selalu ada alasan bagi kita untuk suatu hal?” Aku terdiam. Di pikirku, selalu ada alasan bagi kita untuk suatu hal meskipun kita tidak tahu alasan itu. Tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Kita akan mengetahuinya nanti.

Saat itu, kau hanya membiarkanku termenung dalam pikirku. Kemudian, tidak ada di antara kita yang berbicara. Kita sibuk menyelami pikiran masing-masing.

Aku bilang, “Aku hanya seorang yang biasa. Seorang yang menulis proposal kehidupannya dan terus bertawakal untuk membuatnya di-acc dalam hidup.”

Kau mengatakan, “Tidak apa-apa. Aku memilihmu bukanlah karena kau seorang superstar, bintang yang dipuji banyak orang. Kau adalah dirimu apa adanya. Jadilah dirimu sendiri. Perjalanan bersama kita akan semakin membuatmu bersinar. Tidak, bukan hanya dirimu, tetapi juga diriku. Kita akan semakin berkembang bersama-sama. Perjalanan abadi sepanjang hidup ini akan memberikan banyak pelajaran, ilmu, dan cinta.”

Sejenak kau terdiam. Lalu lanjut mengatakan kata-katamu, “Kau telah terpilih dan kau adalah orang pilihan. Itu semata adalah karena ada cinta untukmu.”

Aku terhenyak. “Itu semata adalah karena ada cinta untukku?”, pikirku dalam hati. Sungguh, kali ini aku benar-benar harus memikirnya lekat-lekat. Kata-katanya benar, pilihan itu bukanlah pilihan main-main.

Beberapa lamanya, aku memikirkan hal ini. Apakah ini benar baik untukku, untuk hidupku, untuk keluargaku, untuk masa depanku, dan yang terlebih penting lagi baik untuk agamaku. Terlintas di kepalaku kehidupan mereka yang sudah pernah mengalaminya. Kisah-kisah indah membahagiakan, cerita sedih mengharukan, sepenggal kenangan perjuangan seorang manusia untuk memperjuangkan dan mempertahankannya bagaimanapun sulitnya, yang pada akhirnya berakhir dengan senyum.

Perjalanan yang akan aku lalui bersamanya akan indah, bertabur bunga yang mewangi harum semerbak. Rasanya semua nikmat dijalani. Kebersamaan penuh canda, tawa, cinta, juga intrik perselisihan. Terbayang akhir kisah cerita hidup dan cinta yang bahagia. Namun, di balik kesenangan itu, aku juga menyadari bahwa akan ada badai kehidupan yang menggoncang. Akan ditemui angin kencang yang siap menyapu segala apa pun yang tidak berakar kuat. Juga akan dirasakan angin sepoi-sepoi melenakan, melalaikan, membuat lupa akan kewajiban.

“Mulai hari ini, sertakan Allah dalam setiap langkah-langkah hidup kita. Dengan niat lillahi ta’aala, dengan mengucap istighfar dan basmalah kita luruskan niat kita masuk dan menapaki jalan kehidupan ini. Dengan istighfar dan hamdalah, kita kuatkan kaki dan genggaman tangan saat badai menerpa dan saat kita lewati badai itu. Dengan sabar dan syukur kita hiasi perjalanan ini.” pesanmu padaku di suatu hari yang saat itu aku telah teryakinkan.

“Kuatkan hati dan tuluskan cinta. Bimbing dan ajari aku untuk semakin dekat, mencium wangi dan memasuki surga-Nya.” aku menambahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s