Sisi Lain Syukur dan Sabar

Ketika mendengar kata syukur dan sabar, hal apa yang biasanya langsung terlintas di benak kita? Kebanyakan dari kita mungkin akan berpikir, syukur identik dan berkaitan dengan kenikmatan atau kesenangan, sedang sabar identik dan berhubungan dengan ujian, musibah, atau kondisi yang tidak menyenangkan. Hal itu tidaklah salah.

Akan tetapi, ada hal yang lebih besar dari sudut pandang mainstream itu. Untuk melihat hal itu, kita terlebih dahulu mengubah sudut pandang yang kita gunakan. Kita mengubah kacamata atau persepsi yang kita gunakan untuk melihat satu hal yang bernama kenikmatan dan ujian atau musibah. Yang dengannya kita akan belajar menaiki satu tangga lebih tinggi. Ibarat kita akan memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, misalnya tes masuk perguruan tinggi. Tentu soal tes yang diberikan berbeda dengan soal tes saat kita akan masuk ke jenjang sekolah menengah atas.

Berbicara kacamata, jika kita menggunakan kacamata hitam, benda apa pun yang kita lihat pasti berwarna hitam. Beda halnya jika kita memakai kacamata yang berkaca bening. Kita akan bisa melihat benda-benda dengan wujud dan warna yang bentuk dan warna yang sebenarnya, apa adanya ia. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menentukan kacamata atau persepsi yang akan kita gunakan untuk melihat suatu hal. Jawabannya adalah….

“…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Caranya menentukan kacamata kehidupan ini adalah lihatlah segala sesuatu dengan sudu pandang dan kacamata Allah. Allah bilang dalam surat cinta-Nya bahwa segala sesuatu yang kita senangi, sangat disukai dan ingin  dimiliki untuk kesenangan diri belum tentu akan baik untuk kehidupan yang dijalani. Sebaliknya, segala sesuatu yang dirasa tidak menyenangkan dalam hidup dan tidak disukai, ternyata sungguh bernilai sangat baik untuk diri dan kehidupan kita.

Namun, yang terjadi adalah kita sebagai manusia terkadang atau bahkan sering sekali suka sok tahu, berlagak sotoy. Kita adalah manusia biasa, jangalah bertingkah laku seperti layaknya Tuhan. Tidak ada yang mengetahui isi hati, isi dalam diri orang lain.

Gunakan kacamata Allah. EGP (emang gue pikirin) orang lain ingin berbicara apa pun selama kita menggunakan kacamata Allah. Tidak ada gunanya selalu mengikuti perkataan dan omongan manusia. Jika kita terus mengikuti omongan manusia, yang ada hanya akan bingung dan bimbang sendiri. Cukup hanya mengikuti apa kata Allah saja. Seperti kisah seorang bapak, anaknya, dan seekor keledai.

Kisah ketiganya seperti ini. Ada seorang bapak dan anaknya berjalan bersama keledai mereka. Pertama, sang bapak naik di atas keledainya sedangkan sang anak berjalan kaki menuntun keledai. Ketika orang-orang sekitar mereka melihat, mereka mencibir “Tega sekali bapak itu membiarkan anaknya berjalan kaki menuntun keledai.” Sang bapak pun turun dan menyuruh sang anak anak ke atas keledai. Mereka bertemu orang-orang lagi dan terdengar cibiran, “Sungguh anak yang tidak berbakti kepada orang tua. Tega sekali membiarkan bapaknya jalan kaki dan menuntun keledai. Sementara anaknya duduk enak.” Sang anak pun turun. Kemudian, sang bapak dan anaknya berjalan kaki menuntuk keledainya. Cibiran pun terdengar lagi dan orang-orang yang melihat mereka, “Sungguh bodoh mereka berdua. Punya keledai tapi tidak digunakan.” Akhirnya, mereka berdua pun menaiki keledai mereka. Dan lagi-lagi, cibiran muncul dari orang-orang yang melihat, “Sungguh tega sekali bapak dan anak itu. Menyiksa keledai mereka dengan menungganginya bersama-sama.”

Ya. Cukup hanya mengikuti apa kata Allah saja. Akan sangat amat sungguh capek sekali (ini lebay) jika kita terus-terusan mengikuti omongan manusia yang belum pasti kebenarannya. Adalah hal yang baik jika omongan manusia yang kita ikuti adalah omongan yang membawa kita kepada kebaikan dan ridho Allah. Namun, jika yang kita ikuti tidak ada habisnya adalah omongan-omongan juga cibiran manusia yang hanya akan melemahkan dan menyudutkan kita, apa perlu kita dengarkan dan kita ikuti? Hanya demi kesenangan orang lain tapi menyiksa diri sendiri.

Sebagai contoh bersyukur menikmati ujian dan kesulitan adalah cerita dari ustad Reza Syarif ketika ia bertemu dengan CEO salah satu yayasan kemanusiaan. Ketika itu sang ustad berkesempatan menjadi pengisi acara di sebuah acara LSM kemanusiaan. Sang ustad pun berbincang dengan sang CEO dan bertanya tentang buah hati CEO. Saat itu, ustad merasa wajar bertanya tentang buah hati, mengingat usia sang ibu CEO tidak jauh beda dengan usia ustad. CEO itu pun menjawab bahwa ia belum menikah. Kagetlah sang ustad. Bagaimana mungkin seorang perempuan di usianya yang sudah lebih dari cukup belum juga menikah. Melihat raut keheranan sang ustad, CEO itu melanjutkan. Meskipun saya belum menikah, saya punya 30 anak. Tambah heranlah sang ustad. Bagaimana mungkin? CEO itu akhirnya menjelaskan bahwa sejak kuliah, ia hidup dalam dunia LSM kemanusiaan dan ia juga berkembang di sana. Masa mudanya ia habiskan untuk kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Bahkan sampai sekarang, ia masih mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang lain melalui lembaga kemanusiaan miliknya. Ia mengatakan hingga saat ini ia belum menikah bisa jadi agar ia dapat mendedikasikan diri, waktu, tenaga, pikiran untuk membantu banyak orang lain di luar sana melalui kegiatan kemanusiaan yang ia lakukan. Ia pun juga dapat mempunyai kesempatan membesarkan ketiga puluh anak asuhnya. Ia bersyukur dengan kondisinya sekarang. Ia masih dapat banyak mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya.

Dari cerita sang CEO, bisa kita lihat bahwa dari sudut pandang kita, kita melihat bahwa kasihan CEO itu, seorang perempuan sudah hampir mendekati kepala empat belum menikah. Akan tetapi, berbeda dengan yang dirasakan sang CEO. Ia sangat bersyukur dengan keadaannya. Yang dengan kondisinya sekarang ia dapat melakukan kegiatan yang sudah dilakoninya sejak ia kuliah, sejak ia muda. Ia dapat melakukan hal yang sudah ia cintai dari mudanya. Ia dapat dengan leluasa melakukan banyak kegiatan kemanusiaan di dalam dan luar negeri. Juga dapat mengelola dan membesarkan yayasan kemanusiaan miliknya.

Ada cerita satu lagi berhubungan dengan syukur menikmati ujian. Adalah seorang perempuan Indonesia yang pergi ke Palestina saat serangan Israel sebelum tahun 2014 (lupa tahun berapa, 2009 sepertinya). Ketika perempuan Indonesia itu di Palestina, ia bertemu dengan seorang ibu Palestina yang berusia sekitar sudah 60 tahunan. Ibu Palestina itu merasa sangat sedih. Ternyata ketujuh anak laki-lakinya sudah wafat semua di medan jihad. Perempuan Indonesia itu merasa sedih terhadap ibu Palestina yang ditinggal pergi selama-lamanya oleh seluruh anak laki-lakinya. Ia bertanya apakah yang membuat sang ibu sedih karena kehilangan semua anak laki-lakinya. Jawaban sang ibu Palestina sungguh mengagetkan perempuan Indonesia dan membuatkan sangat terenyuh. Sang ibu Palestina merasa sedih bukanlah karena ia telah kehilangan ketujuh anak laki-lakinya. Namun, sang ibu sangat sedih karena ia sudah tidak bisa lagi melahirkan anak-anak calon mujahid yang akan memperjuangkan Palestina.  Di tengah kondisi perang seperti itu, kita yang berada di luar dan melihat dari luar mungkin akan berpikir mereka para warga Palestina merasa sedih telah kehilangan segalanya. Namun, ada hal lebih dalam dan mulia yang membuat mereka sedih seperti yang dialami seorang ibu Palestina tersebut. Di sisi lain, sang ibu bangga telah melahirkan anak-anak yang dapat menjadi mujahid yang memperjuangkan Palestina meskipun harus rela melepas seluruh anak-anaknya pergi. Namun, sebagai Muslim, ia meyakini bahwa jika kita beriman dan beramal saleh begitu juga dengan anak dan keluarga kita, seluruh keluarga akan bertemu kembali di Jannah-Nya.

Kondisi sabar menikmati kesenangan dan kenikmatan dicontohkan oleh kekasih Allah yang mulia, Rasulullah saw. ketika Rasul memasuki Mekah pada peristiwa Fathu Mekah. Selama 13 tahun, Rasul dihina, dicaci maki, dilempari kotoran, bahkan hampir dibunuh. Para pengikut Rasul di Mekah disiksa, diembargo, dihina. Pada saat Fathu Mekah, saat Rasul memasuki Mekah, penduduk Mekah merasa sangat ketakutan. Rasul masuk ke Mekah dengan membawa ratusan pengikut beliau. Penduduk Mekah ketakutan akan nasib kehidupan mereka. Mereka takut jikalau Rasul akan membalas dendam mengingat kemenangan dan posisi Rasul serta pengikutnya yang sudah berada di atas angin. Namun, apa yang terjadi? Yang Rasul lakukan saat memasuki kota Mekah adalah masuk dengan tenang. Rasul berkata, “Wahai manusia. Kalian semua aku bebaskan dari segala kesalahan.” Ya, Rasul membebaskan penduduk Mekah dan memaafkan mereka. Rasul tidak berniat untuk melakukan balas dendam kepada penduduk Mekah yang sudah menghinanya selama 13 tahun. Padahal, pada saat itu, kondisi Rasulullah sangat memungkinkan baginya untuk melakukan balas dendam atas perlakuan jelek penduduk Mekah terhadap dirinya di masa lalu. Akan tetapi, Rasul memaafkan dan membebaskan mereka semua. Seketika itu pula, melihat kebaikan pancaran akhlak Rasulullah, berbondong-bondonglah penduduk Mekah memeluk Islam. Dan tidak beberapa lama kemudian turunlah firman Allah,

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (an-Nashr: 1-3)

Ya, ketika kemenangan dan kenikmatan itu datang, yang dilakukan justru adalah banyak-banyak bertasbih memuji Allah dan memohon ampun kepada-Nya yang Maha Penerima Tobat.

Serahkan saja pandangan kita kepada Allah. Jangan pernah menyerah hingga peluit terakhir ditiup. Masalah memperoleh kemenangan atau kekalahan permasalahannya adalah pada cara mencapainya. Kisah Firaun. Firaun membunuh banyak anak laki-laki agar tidak ada laki-laki seperti dalam mimpinya yang akan meruntuhkan kekuasaannya. Namun, apa daya. Ia justru dikalahkan oleh seorang laki-laki yang ditemukan dan diasuh oleh sang istri, Asiyah, di dalam istananya. Dia adalah Musa.

Ketika kita sudah mencapai sukses, yang dilakukan adalah tetap sabar, tetap berinovasi dan kreatif. Grafik titik puncak biasanya akan diikuti oleh grafik garis menurun. Sebelum terjadi penurunan yang signifikan dan drastis, buatkah inovasi dan bentuk sekreatif mungkin agar tidak turun drastis dan cepat naik kembali. Tidak juga menyebabkan merasa sudah menang dan jumawa dengan apa yang didapatkannya di puncak kesuksesan. Juga memperbanyak istigfar, menghilangkan dan menundukkan kesombongan yang sejatinya hanya berhak dimiliki Allah yang Mahasegala-galanya.

-disarikan dari kajian pengajian kantor dengan pembicara Ustad Reza Syarif dengan tema Syukur Menikmati Ujian dan Sabar Menikmati Kenikmatan-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s