Menuntut Ilmu

Islam dan ilmu pengetahuan mempunyai hubungan yang erat. Islam menyerukan pentingnya menuntut ilmu. Allah telah memberikan manusia segala potensi dalam diri manusia. Potensi tersebut digunakan untuk belajar tentang segala sesuatu yang ada di dunia ini. Dengan menuntut ilmu, manusia yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Manusia dapat mengenali diri sendiri, dapat memikirkan dan menguak misteri alam, yang kemudian membimbing dirinya pada kebesaran Allah. Potensi diri manusia tersebut digunakan untuk memikirkan kebesaran Allah.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (an-Nahl: 78-81)

Setiap muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu. Rasulullah bersabda

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim” (HR Ibnu Majah)

Dengan menuntut ilmu, memiliki ilmu, dan mengamalkan ilmu yang dimiliki, manusia mendapatkan banyak keutamaan. Orang yang berilmu akan mendapat derajat yang tinggi.

Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman yang mempunyai ilmu di antara kamu dengan beberapa derajat.” (al-Mujadilah: 11)

Orang yang menuntut ilmu disamakan derajatnya dengan orang yang berjihad. Orang yang berangkat menuntut ilmu dengan niat semata-mata karena Allah kemudian ia meninggal dalam perjalanannya menuju tempat ia belajar akan disamakan dengan derajat orang yang berperang dan berjihad di jalan Allah.

Barangsiapa keluar dalam rangka thalabul ilmu (mencari ilmu), maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali.” (HR Tirmidzi)

Ilmu yang bermanfaat merupakan amalan manusia yang tidak akan pernah putus. Bahkan ketika manusia sudah meninggal dan sudah berada di alam kubur, ilmu yang bermanfaat akan terus mengalirkan pahala kepadanya.

Jika manusia meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shodaqoh jariahnya, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Selain itu, orang yang menuntut ilmu dimudahkan jalannya menuju surga.

Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Muslim)

Ilmu yang dipelajari adalah ilmu yang dapat mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta. Ilmu yang kita pelajari adalah ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia, bukan sebaliknya. Ilmu tersebut akan memberikan kebahagian dunia dan akhirat kepada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Ilmu mempunyai cakupan yang sangat luas. Ilmu yang bersifat duniawi yang bermanfaat ada banyak, antara lain ilmu fisika dan turunannya; ilmu biologi dan turunannya; ilmu psikologi dan turunannya; ilmu bahasa dan turunannya, dan masih banyak lagi. Ilmu juga mencakup ilmu agama. Keseimbangan kedua ilmu ini, ilmu agama dan ilmu duniawi, harus dijaga. Ada pepatah mengatakan ilmu tanpa agama adalah buta dan agama tanpa ilmu adalah pincang. Ilmu duniawi yang tidak diimbangi dengan ilmu agama dapat menjadi ilmu yang tidak bermanfaat. Rasulullah selalu berdoa agar dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat.“Allaahumma inni a’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’u”. ‘Ya, Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.’

Sejarah mencatat nama-nama ilmuwan muslim yang memberikan sumbangan ilmu yang bermanfaat bagi dunia saat ini. Dalam kehidupannya, para ilmuwan muslim tersebut selalu mengimbangi ilmu dunia mereka dengan ilmu agama yang mereka pelajari. Rasa haus akan ilmu dunia tidak membuat mereka lupa akan ilmu agama. Mereka juga sama hausnya akan ilmu agama.

Beberapa nama ilmuwan muslim tersebutlah nama Al Khawaris, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyid. Al Kharawis memperkenalkan angka Arab yang sekarang dipakai, aljabar, dan algoritma. Ibnu Sina sangat dikenal dalam bidang kedokteran. Karya-karyanya banyak dipakai sebagai referensi dokter Eropa pada masa Perang Salib. Ibnu Sina kemudian lebih dikenal dengan nama Avicena. Ibnu Rusyid menyumbangkan ilmu dalam bidang sosial. Ibnu Rusyid kemudian popular di Eropa dengan nama Averroes.

Dengan ilmu, manusia dapat menemukan jawaban keajaiban alam semesta. Ibarat memotong daging, ilmu adalah pisau tajam untuk memotongnya. Menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu sejatinya adalah sarana dan upaya manusia untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah, Sang Pencipta. Sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s