Menjaga Lisan

Organ berbicara para manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang luar biasa dan menakjubkan. Organ luar dan terlihat secara fisik ini mempunyai bentuk yang kecil dan tidak bertulang. Namun, di balik ukurannya yang kecil dan tidak bertulang, mulut dan lidah mempunyai kemampuan yang besar. Ia merupakan organ untuk berkomunikasi dengan orang lain, organ untuk menyampaikan keinginan, menyampaikan gagasan atau ide, menyampaikan perasaan, dan menyerukan suatu hal. Akan tetapi, jika tidak digunakan dengan benar, organ berbicara kita ini justru akan membawa manusia kepada kekurufan, kezaliman, dan kemaksiatan.

Manusia selalu diberikan dua jalan dalam hidupnya, jalan kebaikan dan jalan keburukan. Tidak ada paksaan terhadap manusia untuk memilih satu di antara dua pilihan jalan tersebut. Manusia telah diberikan konsekuensi atas pilihan yang diambil. Kemudian, manusia diberikan kebebasan untuk memilih. Allah berfirman

Lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. (al-Balad: 10)

Dalam sebuah hadis Rasulullah mengatakan,

Apabila anak cucu Adam masuk waktu pagi hari, maka seluruh anggota badan tunduk kepada lisan, seraya berkata, Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga ha-hak kami, karena kami mengikutimu. Apabila kamu lurus, maka kami pun lurus, dan aabila kamu bengkok, maka kami pun bengkok” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Ada hal yang tidak dapat ditarik dan diperbaiki kembali setelah ia dikeluarkan, salah satunya adalah perkataan atau ucapan. Kata-kata yang sudah keluar dari mulut kita tidak akan dapat dimasukkan kembali ke dalam mulut. Kita tidak akan pernah tahu hal yang ada di dalam hati orang lain. Hubungannya dengan ucapan lisan adalah kata-kata atau ucapan yang pernah kita ucapan kepada orang lain tidak pernah kita ketahui reaksi hati terdalamnya. Ada kemungkinan orang lain senang dengan ucapan kita atau bisa jadi orang lain sakit hati dengan ucapan kita.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk menjaga lisan kita ini agar selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan menyenangkan. Jika kita tidak mampu mengeluarkan kata yang baik pada suatu saat, akan jauh lebih baik kita diam. Rasulullah bersabda,

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR Bukhari dan Muslim)

Diam di sini bukan berarti tidak mengucapkan apa pun, bahkan ketika melihat kemungkaran. Imam Syafi’i berkata bahwa sebelum berkata, pikirkanlah terlebih dahulu kata-kata yang akan dikeluarkan. Jika jelas manfaatnya, maka berbicaralah. Jika tidak jelas manfaat, ragu-ragu, dan hanya akan mengakibatkan kezaliman dan kemaksiatan, maka diamlah.

Sepanjang hidup kita, mulai dari lahir sampai dicabutnya roh dari tubuh kita, selalu ada makhluk Allah yang menemani setiap langkah dan aktivitas kita. Mereka adalah Malaikat Raqib dan Malaikat Atid. Keduanya selalu mencatat segala tingkah laku dan perkataan kita. Tidak ada satu pun hal yang luput dari pencatatan mereka. Begitu pun dengan kata yang kita ucapkan. Kata-kata tersebut akan dimintai pertanggungjawabannya saat Hari Perhitungan kelak. Hal ini tercantum dalam Alquran,

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaaf: 18)

Menjaga lisan dari kemaksiatan tidak hanya berbentuk kata-kata kotor atau cacian. Tidak mengumbar kata-kata yang menimbulkan syahwat juga merupakan bagian menjaga lisan. Ada orang yang berhak dan tidak berhak mendapatkan kata-kata manis dan pujian romantis dari lawan jenis. Jika yang mengucapkan kata-kata manis dan pujian romantis adalah suami atau istri yang sah, kata yang diucapkan akan berbuah pahala dan memperat ikatan batin antara suami istri. Namun, orang-orang yang bukan muhrimnya, tentu tidak berhak mengeluarkan kata manis dan pujian romantis tersebut. Perzinahan bukan hanya masalah dilakukannya hubungan suami istri sebelum ikatan pernikahan, tetapi juga mencakup zina anggota tubuh lainnya, termasuk lisan. Tidak heran dalam Alquran disebutkan “Janganlah kamu mendekati zina” (al-Isra:32). Zina lisan merupakan bagian dari mendekati zina yang sesungguhnya.

Menjaga lisan juga terlihat dalam bentuk menjaga lisan dari perbuatan ghibah atau menggosip. Ghibah merupakan perbuatan zalim yang paling tersebar luas dan paling mudah dilakukan oleh manusia. Ghibah adalah membicarakan segala suatu dari saudaranya, mulai dari hal yang besar sampai hal kecil dan detail. Pernahkah Anda memakan bangkai manusia? Ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Hal itu terdapat dalam hadist Rasulullah,

“Apakah kalian mengetahui, apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Kamu menyebutkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang tidak disenanginya.” Dikatakan kepada beliau, “Bagaimana pendapatmu bila pada saudaraku memang benar ada yang aku ucapkan?” Beliau bersabda, “Jika pada dirinya benar ada yang kamu ucapkan, maka kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, dan jika pada dirinya tidak terdapat sesuatu yang kamu ucapkan, maka kamu telah melakukan tuduhan dusta terhadapnya.” (HR Muslim)

“Ketika saya diangkat (pada peristiwa isra’ mi’raj), maka saya melewati kaum yang memiliki kuku dari tembaga. Mereka mencakar wajah dan dada mereka. Saya bertanya, ‘Siapakah mereka wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah kaum yang memakan daging manusia (maksudnya melakukan ghibah), dan merusak kehormatan mereka’.” (HR Abu Dawud)

Sejatinya Allah memberikan nikmatNya kepada manusia dalam bentuk pemberian anggota tubuh yang lengkap dan sempurna adalah untuk memberikan manusia sarana untuk beribadah kepadaNya. Akan amat malangnya manusia yang menggunakan nikmat pemberian Allah untuk berbuat zalim dan maksiat. Akan sungguh beruntungnya manusia yang menggunakan nikmat Allah untuk melakukan perbuatan baik dan bermanfaat.

Kita dapat menjaga lisan kita dengan memperbanyak zikir kepada Allah. Memperbanyak zikir kepada Allah akan semakin mengingatkan kita kepada Allah. Lalu, hal itu akan membuat tenang hati kita.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”(ar-Ra’d: 18)

Lisan kita diajak untuk memperbanyak membaca Alquran meski dengan terbata-bata. Membaca Alquran mendatangkan banyak pahala. Rasulullah bersabda

Barang siapa yang membaca 1 huruf dari Alquran, maka baginya 1 kebaikan dan kebaikan itu berlipat 10 kali” (HR Tirmidzi)

Membaca Alquran juga dapat memberi syafaat kepada orang yang membacanya saat hari Akhir nanti,

Bacalah Alquran karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya” (HR. Muslim)

Lisan kita dapat terjaga dalam bentuk saling mengingatkan dan saling menasehati. Orang yang beruntung adalah orang saling menasehati dan mengingatkan dalam kebenaran.

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (al-Ashr: 3)

Organ berbicara yang berfungsi untuk aktivitas lisan dan berbicara sesungguhnya adalah nikmat dan karunia Allah yang menakjubkan. Pantaskah kita menodai nikmat luar biasa yang Allah berikan kepada kita dengan berbuat zalim dan maksiat? Sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada manusia, sudah sepantasnya kita melakukan hal yang baik dengan nikmat pemberianNya.

3 September 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s