Takdirku, Takdirmu, Takdir Kita

dan satu per satu gambar-gambar foto yang terpampang di layar komputer itu, melayangkan pikiranku ke beberapa pekan yang lalu. saat ketika aku bertemu dengan dua orang kawan baru yang aku kenal dalam sebuah perjalanan ke gunung.

ketika itu, sambil menikmati sajian ikan lele, kami bertiga, aku, seorang teman perempuan, dan satu lagi seorang teman laki-laki, kami berbincang-bincang tentang sebuah rencana kami untuk mengabadikan peristiwa dan nilai dalam rangkaian kata menjadi tulisan.

ada satu momen perbincangan kami, yang memberikan kesempatan bagi kami untuk menceritakan sepenggal kisah hidupnya. setiap dari kami memiliki mimpi tersendiri. namun, jalan kehidupan berkata lain. kami bertiga dihadapkan pada takdir yang sedikit berbelok dari keinginan kami. namun, dengan jalan takdir yang berbelok itu kami dapat bertemu sekarang.

sama sekali, aku tidak menyangka bahwa aku bisa bertemu dengan mereka. sekeping demi sekeping potongan puzzle dalam hidup memberikan satu makna yang semakin utuh, walaupun belum utuh sepenuhnya.

IMG-20140422-WA0046

perjalanan takdir telah mempertemukan aku dengan mereka, teman-teman baru yang sebelumnya tak kukenal sama sekali. bersama mereka, aku merasakan pengalaman pertama mendaki gunung. dengan berbagai kejadian yang kami alami. ada yang sakit maag, masuk angin hingga muntah-muntah, sampai kaki yang sakit, menuruni gunung saat hujan di malam hari. mereka temen-teman dari lembaga dakwah kampus di salah satu kampus swasta di depok.

sebelumnya, aku hanya mendengar cerita-cerita tentang lembaga itu dari teman satu sma yang berkuliah di kampus itu. kami berteman dan masih sering bertemu dan berkomunikasi. dia sering bercerita tentang lembaga dakwah kampus itu. saat itu, aku hanya menjadi pendengar setia. tidak tahu orang-orangnya, tidak kenal siapa yang diceritakan. temanku juga sering bercerita kalau dia dan teman kampusnya sering naik gunung.

pernah suatu waktu, aku bertemu dengan seorang teman sekampus temanku. bahkan, aku diundang ke pernikahannya. pernah juga sekali aku ikut temanku rapat lembaga dakwah kampus. bukan jadi peserta rapat, apalagi pembicara rapat. aku ikut rapat hanya sebagai pendengar saja karena saat itu aku ikut temanku ke kampus iseng-iseng saja. karena ketika itu ada acara di kampusnya dan aku mau tau suasana dalam kampusnya, kebetulan saat itu dia ada agenda rapat di kampus. daripada aku menunggu sendirian, lebih baik aku ikut dia rapat.

empat tahun sejak peristiwa itu. empat tahun berlalu sejak temanku sering bercerita tentang lembaga dakwah kampusnya, tentang teman-teman kuliahnya, sejak aku masuk ke kampusnya, sejak aku ikut rapatnya. aku sudah tidak memikirkan kejadian itu lagi.

ketika menghadiri acara kampanye akbar satu partai politik indonesia, saat itu sedang kampanye pilkada dki jakarta, teman sma ku itu mengajak aku dan satu orang temanku lainnya untuk naik gunung. ia dan teman-teman kampusnya berencana untuk naik gunung di bulan april. tentu saja aku menyambut gembira ajakannya. naik gunung memang menjadi hal yang ingin aku lakukan. belum pernah aku naik gunung. dan aku ingin merasakan sensasinya.

namun, aku harus sedikit merasakan kecewa ketika kuota yang ada ternyata sudah penuh. ya apa boleh dibuat. sudah pasti yang didahulukan masuk kuota adalah anak-anak lembaga itu dibandingkan orang luar.

tapi takdir memberikan kesempatan aku untuk ikut naik gunung. H-8 sebelum keberangkatan, teman sma ku itu memberi kabar bahwa masih ada 1 kuota kosong karena ada yang mengundurkan diri.

awalnya kouta itu ingin diambil oleh temanku yang satu lagi. tapi dia tidak bisa karena waktunya bersamaan dengan waktu pernikahan teman sma ku juga. ya sudahlah, akhirnya aku yang mengambil kuota itu. dan jadilah aku ikut naik gunung. dan dalam pendakian itu aku berkenalan dengan mereka. orang-orang dari satu lembaga dakwah kampus yang empat tahun lalu sering aku dengan ceritanya. walaupun aku bukan bertemu dengan teman-teman yang diceritakan teman sma ku empat tahun yang lalu. aku bertemu dengan adik-adik kelasnya yang tergabung dengan lembaga dakwah kampus yang sama.

skenario yang tidak pernah terbayangkan. aku bisa bertemu mereka. mereka semua berasal dari kampus yang sama. tergabung dalam lembaga dakwah kampus yang sama. hanya aku seorang diri yang berasal dari luar kampus. bahkan kampusku berbeda. sama sekali aku tidak mengenal mereka, kecuali teman sma ku yang mengajak aku naik gunung.

perkenalan dengan teman-teman akhwat (perempuan) membuat kami cepat akrab. seolah kami sudah berkenalan sebelumnya. ada rasa canggung, namun itu cepat terhapuskan. pendakian memberikan kami ruang untuk cepat bekerja sama dan saling menyemangati. berbeda hal dengan teman-teman ikhwan (laki-laki). hanya beberapa saja yang aku berkenalan dengannya saat mendaki dan turun.

setelah turun gunung, aku memposting kata-kata di grup pendakian itu. bahwa aku sangat berterima kasih karena mereka telah mengizinkan aku untuk ikut pendakian dan menjadikan aku sebagai teman mereka. juga permohonan maaf kalau-kalau aku merepotkan selama perjalanan. selain itu, aku juga mengungkapkan sebuah harapan. harapan agar pertemanan yang baru saja terjalin, pertemuan dengan teman dan saudara saudari baru, tidak terputus begitu saja. tidak terputus selepas perjalanan kami selesai.

lagi-lagi, aku ditakdirkan masih dapat bersua dan berbincang-bicang dengan mereka. sebuah rencana untuk mengabadikan dalam tulisan tercetus di antara kami. sampailah kami pada satu momen bagi kami berkumpul kembali untuk berbagi cerita tentang pengalaman kami masing-masing.

dan kini, secara langsung dan tidak langsung, aku masih berteman berhubungan, berkomunikasi, dengan mereka, khususnya beberapa orang dari mereka. bahkan, kami bekerja sama untuk satu tujuan.

kembali pada momen perbincangan kami bertiga sambil menikmati lele. kami bertiga berhadapan dengan takdir yang sedikit berbelok dari rencana kami. Temanku yang perempuan, awalnya tidak ingin berkuliah di kampus itu. ia ingin melanjutkan kuliahnya di sekolah ikatan dinas milik departemen keuangan. sementara itu, temanku yang laki-laki, dia ingin melanjutkan kuliahnya ke kampus ganesha di bandung. aku sendiri ingin melanjutkan kuliah di yogyakarta dan ingin mengambil jurusan ilmu psikologi. namun, kami mendapatkan rencana Allah yang tidak sama dengan rencana kami.

dan sekarang di sinilah kami bertemu. bersama-sama merencanakan, menjalankan, dan mewujudkan sebuah proyek—yang kata pramoedya bekerja untuk keabadian— berpijak pada satu semangat yang sama. menuju pada satu titik tujuan yang sama. dan semua terjadi tanpa aku duga. semua terjadi dalam waktu yang terasa cepat.

empat tahun sejak aku aku hanya menjadi pendengar cerita teman sma ku itu. dan setelah empat tahun itu berlalu, kini aku berinterkasi dengan mereka yang tergabung dalam lembaga dakwah kampus itu.

3 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s