SINERGISITAS SUAMI ISTRI

Sumber: Grup WA to be wow 7

“Sinergisitas Peran Suami Istri untuk Menciptakan Keluarga yang Berkualitas” Bersama Dr. Sitaresmi Soekanto | 5 Juni 2014 @MasjidUI

~Sebuah Ringkasan~

Pembentukan keluarga yang berkualitas membutuhkan sinergisitas antara suami dan istri.

Sinergisitas bisa dibentuk dengan:

#1 Memiliki Banyak Kesamaan
Penting bagi kita memiliki banyak kesamaan dengan pasangan, terutama dalam hal nilai-nilai karakter, pandangan, dan minat. Kadang kita tertarik dengan orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Benar bahwa perbedaan menjadi penarik, memberikan sensasi lebih kuat, tapi sifatnya temporer. Dalam pernikahan, kita perlu memiliki lebih banyak kesamaan karena kesamaan memunculkan daya lekat, dan sifatnya lebih tahan lama.

*Catatan: Bedakan “assumed similarity” atau kesamaan yang ‘sama-samain’ dan “actual similarity”, kesamaan yang sesungguhnya. Yang kita butuhkan adalah actual similarity.

Jika ada perbedaan, upayakan ada keterusterangan dan toleransi.

Sebab sebuah keluarga harus:
– Menjadi maslahat bagi kedua belah pihak.
– Ridho sama ridho.
– Membuat semacam kesepakatan untuk hal-hal yang substantif, misalnya MOU antara Abu Darda dan istrinya. Abu Darda yang pemarah berpesan kepada istrinya ketika baru menikah: “Istriku, aku ini pemarah. Maka, tolong ketika aku marah, kamu diam saja, nanti aku akan reda sendiri. Begitu pula ketika kau marah, aku akan diam dan menunggu kemarahanmu reda.”

#2 Kemampuan Problem Solving
Sebanyak apapun kesamaan yang dimiliki, akan tetap terjadi konflik. Konflik bukan untuk dihindari namun diselesaikan. Jangan mendominasi dalam penyelesaian masalah. Upayakan kompromi. Kelola ekspektasi terhadap pasangan. Jika ada hal yang diluar ekspektasi, harus ada upaya untuk qanaah di satu pihak, dan memperbaiki diri di pihak lain.

#3 Kemampuan Berkomunikasi
Ini adalah aspek penting dalam penyelesaian konflik. Upayakan kita bisa ‘nyambung’ sampai pada level komunikasi batin, suami bisa membaca dan memahami makna ekspresi istri tanpa menunggunya berbicara, dan sebaliknya.

#4 Kesempatan Untuk Tetap Menjadi Diri Sendiri
Pasangan yang tepat tidak akan menuntut kita untuk berubah mengikuti kemauannya. Seperti kata Gibran: “Biarkan ada ruang di antara kebersamaan kalian.”

#5 Saling Bertumbuh
Pasangan yang tepat adalah yang mampu melihat kelebihan dan kekurangan kita, menerimanya, dan bahkan memadukannya menjadi titik kuat kita. Ia tidak akan menghambat kita untuk berkarya, melainkan turut membantu kita untuk menampilkan yang terbaik yang kita mampu.

#6 Gairah
Tidak hanya bersifat seksual, namun lebih mengacu kepada keinginan kuat untuk bertemu dan melakukan aktivitas bersama. Bisa belajar bersama, menghapal bersama, dll.

#7 Memiliki Satu Tujuan
Pasangan harus memiliki pandangan yang sama tentang seperti apa dan bagaimana keluarga akan dibangun.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengetahui kewajiban masing-masing terhadap pasangan.

Hak istri atas suaminya:
– Dipergauli dengan baik
– Berwajah ceria
– Memiliki kalimat yang baik
– Mensyukuri pelayanan istri
– Membantunya dalam pekerjaan rumah tangga
– Bercanda dan bermain
– Mengajarkan ilmu agama yang dibutuhkan
– Memberi mahar dan nafkah
– Menjaga fisik dan perasaan istri dari segala gangguan
– Tidak menyebarkan rahasia istri
– Mengizinkan istri keluar rumah untuk memenuhi keperluannya

Hak suami atas Istrinya:
– Menghormati hak-hak suami atas dirinya
– Mentaati perintahnya selama bukan maksiat
– Wajib menjauhkan diri dari hal-hal yang menyakiti suaminya
– Tidak meninggalkan rumah kecuali atas izin suaminya
– Tidak mengizinkan seorangpun masuk rumah tanpa kerelaan suami
– Mendidik anak dengan baik
– Tidak berpuasa sunnah tanpa izin suaminya
– Mengakui kebaikan suaminya dan tidak mengingkarinya
– Menjaga harta suami dan tidak boros
– Tidak memberinya peluang berkhalwat dengan wanita lain
– Menyenangkan suami
– Menerima kewenangan dalam pengelolaan urusan keluarga dalam batasan syar’i
– Berhias dan menanti kedatangan suami dengan baik

Terakhir, suami istri perlu menjadi pribadi-pribadi independen yang menciptakan hubungan interdependen. Masing-masing bisa menyelesaikan masalah secara mandiri tanpa harus selalu merepotkan pasangan, tapi tetap memelihara rasa saling membutuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s