Sekolah Inklusi untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Pendidikan dan Pengajaran

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah sampul buku pelajaran. Judul buku itu tertulis “Pendidikan Agama Islam Kelas IX”. Sehari kemudian, saya pergi ke Perpustakaan UI untuk mencari buku tentang pengajaran bahasa kedua. Buku-buku yang saya dapatkan kebanyakan menggunakan kata “pengajaran bahasa”. Di universitas yang membuka fakultas pendidikan hampir semua menggunakan kata “pendidikan” sebagai nama fakultas, seperti Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kadang kala, murid disebut sebagai peserta didik, anak didik. Mengapa bukan peserta ajar atau anak ajar. Begitu pula dengan penamaan fakultas yang menggunakan kata pendidikan bukan pengajaran. Yang lebih besar lagi, nama kementerian menggunakan kata “pendidikan” bukan “pengajaran”. Lalu, saya berpikir jika pendidikan dan pengajaran mempunyai makna yang sama, tentu keduanya dapat dipertukarkan, peserta didik dapat diganti menjadi peserta ajar dan sama halnya dengan penamaan fakultas, fakultas pendidikan dapat diganti menjadi fakultas pengajaran. Jika keduanya tidak dapat dipertukarkan, ada hal yang membuat makna keduanya menjadi tidak sama meskipun sekilas dapat dikatakan mirip.

Oleh karena rasa penasaran yang sempat menghantui perasaan saya, saya buka Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Kata “pendidikan” saya dapatkan di lema “didik”, sedangkan kata “pengajaran” saya dapatkan di lema “ajar”. Dalam KBBI, kelas kata “didik” adalah verba (kata kerja), sementara itu kelas kata “ajar” adalah nomina (kata benda). Kata “didik” berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Kata “ajar” berarti petunjuk yang diberikan kepada seseorang supaya diketahui (diturut). Kata “pendidikan” dan “pengajaran” menempati kelas kata yang sama, yaitu nomina. “Pendidikan” bermakna hal (perbuatan, cara) mendidik dan “pengajaran” bermakna proses, cara mengajar. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, pendidikan diartikan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Hal itu menunjukkan bahwa dalam kata “pendidikan”, secara tersirat terkandung makna akhlak, moral, kepribadian, kecerdasan hati,  kecerdasan pikiran, dan keterampilan. Makna kata “pendidikan” mempunyai makna yang lebih luas dibandingkan kata “pengajaran” yang terbatas pada pemberian ilmu pengetahuan. Makna pengajaran masuk ke dalam makna kata pendidikan. Oleh karena itu, kata “pendidikan” yang dipakai. Hari peringatannya pun memakai kata Pendidikan, Hari Pendidikan Nasional.

Terlepas dari luas dan sempitnya makna yang terkandung dari kedua kata tersebut, pendidikan dan pengajaran tidak dapat terpisahkan. Keduanya saling melengkapi. Kalau kita melihat pengertian pendidikan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang SISIDIKNAS, tertuang potensi diri dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, dan bangsa. Saya mengartikan hal tersebut sebagai potensi akal yang diberikan Sang Pencipta untuk memikirkan hal yang ada di dunia ini, dalam hal ini ilmu pengetahuan di bidang apa pun, dan keterampilan sebagai suatu keahlian yang harus dipelajari dan dikembangkan untuk kemudian diamalkan kepada masyarakat dan bangsa. Memberikan ilmu tanpa kecerdasan hati akan memunculkan orang-orang yang egois, yang menggunakan ilmunya untuk kepentingan pribadi dan menimbulkan kehancuran. Di sisi lain, kecerdasan hati tanpa diiringi dengan ilmu tidak akan banyak memberikan kontribusi untuk kemajuan masyarakat dan tidak ada ilmu yang dapat dijadikan panduan.

Anak Autis dan Sekolah Inklusi

Pendidikan adalah salah satu hal penting yang harus didapatkan seseorang dalam hidupnya. Semua orang, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan pendidikan. Anak-anak berkebutuhan khusus pun juga berhak mendapatkan pendidikan. Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak-anak normal lainnya.

Berdasarkan Program Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Tahun 2006 dan Pembinaan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Pendidikan, anak-anak berkebutuhan khusus dikelompokan menjadi tuna netra, tuna rungu, tuna grahita (a.l. down syndrome), tuna grahita ringan (IQ 50-70), tuna grahita sedang (IQ 25-50), tuna grahita berat (IQ 125, J Talented/ Potensi bakat istimewa), kesulitan belajar (a.l. hiperaktif, ADD/ADHD, disleksia (kesulitan membaca), disgrafia (kesulitan menulis), diskalkulia (kesulitan menghitung), disfasia (kesulitan bicara), disprasia (gangguan motorik), lambat belajar (IQ 70-90), anak autis, anak korban penyalahgunaan narkoba, dan anak indigo.

Dalam tulisan ini, anak berkebutuhan khusus yang saya soroti adalah anak autis. Di luar sana, sudah banyak orang yang menyoroti masalah pendidikan yang berhubungan dengan pemberian pendidikan yang tidak merata di daerah pelosok, pendidikan untuk anak kurang mampu, dan sistem pendidikan. Di sini saya mencoba untuk menyoroti masalah pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, khususnya anak autis, yang sekarang sudah mulai difasilitasi oleh pemerintah dalam bentuk sarana sekolah inklusi.

Autisme berasal dari kata “auto” yang berarti sendiri. Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibat gangguan ini  sang anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya sehingga ia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Peeters (2004) menyebutkan karakteristik paling penting dari golongan gangguan perkembangan perfasif adalah terdapatnya gangguan dominan yang terdiri dari kesulitan dalam pembelajaran keterampilan kognitif (pengertian), bahasa, motor (gerakan), dan hubungan kemasyarakatan.

Anak autis tidak berbeda dengan individu normal lainnya. Kecerdasan mereka bervariasi, tergantung pada tingkat gejala autistik yang dialami. Anak autis dapat mencapai IQ rata-rata atau di atas rata-rata, yang berarti anak autis pada dasarnya adalah anak cerdas, hanya saja mereka berbeda dengan yang lainnya. Tager dan Flusberg (1999) menyatakan dalam menguasai bahasa verbal, meskipun agak terlambat, anak autis mengalami perkembangan tata bahasa yang sama dengan anak normal. Anak-anak autis cenderung mengandalkan penggunaan kalimat dan kata yang banyak dibandingkan makna kalimat atau kata saat menentukan dan mengemukakan ujaran.

Dalam bersosialisasi, memang mereka cenderung menyendiri, seolah mempunyai dunia sendiri sehingga terkadang mereka disebut antisosial. Anak autis harus banyak berpikir dan memahami ketika ia berada di kerumunan orang banyak dan hal ini membuatnya tidak nyaman dan tertekan. Anak autis terlihat tidak bisa diam dan banyak bergerak karena ia tidak tahan dengan suara di sekitarnya. Oleh karena adanya gangguan pada motorik dan sensorik, anak autis sangat perasa terhadap benda-benda. Ia akan sangat mudah sentitif terhadap benda-benda. Baginya benda-benda itu sangat menyakitkan untuk kulitnya.

Berbicara sekolah inklusi, mungkin ini adalah hal baru di Indonesia. Sapon dan Shevil mengartikan sekolah inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Ada konvensi internasional yang mendorong adanya sekolah inklusi, yaitu Convention on the Rights of Person with Disabilities and Optional Protocol yang disahkan pada Maret 2007. Pasal 24 menyebutkan bahwa setiap negara berkewajiban untuk menyelenggarakan sistem pendidikan inklusi di setiap tingkatan pendidikan. Adapun salah satu tujuannya adalah untuk mendorong terwujudnya partisipasi penuh anak berkebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.

Di sekolah inklusi, anak autis ditempatkan dalam satu kelas yang sama dengan murid lainnya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Begitu juga dalam pemberian tugas, latihan, pekerjaan rumah, dan ulangan harian, anak autis diberikan hal yang sama. Ada guru pendamping yang mendampingi anak autis dalam proses belajar mengajar. Guru pendamping ini juga memantau perkembangan belajar anak autis. Memang dalam bersosialisasi, anak autis masih cenderung tidak bermain dengan teman sebaya dan menyendiri. Mereka juga cenderung tidak melakukan kontak mata saat berinteraksi dengan orang lain. Terkadang, mereka tidak bisa berdiam diri menyimak pelajaran di kelas.

Di Jakarta Selatan, ada beberapa SDN yang berstatus sebagai sekolah inklusi, antara lain SDN Pela Mampang 01 Pagi, SDN Lebak Bulus 02 Pagi, SDN Lebak Bulus 03 Pagi, SDN Lebak Bulus 06 Pagi, SDN Cipete Utara 12 Pagi, SMPN 226 Jakarta, dan SMAN 66 Jakarta.

Hal yang perlu dicermati sekarang adalah persoalan tenaga pendidik yang mempunyai dasar pendidikan berkebutuhan khusus dan tenaga pendidik yang diberi bekal dan latihan untuk mendidik anak berkebutuhan khusus, khususnya anak autis. Tenaga pendidik di sekolah inklusi perlu diberikan bekal tentang autisme. Begitu juga dengan persoalan kurikulum. Kedua hal tersebut masih dapat terus diupayakan dan dikembangkan oleh pemerintah dan pihak yang berkaitan. Sekolah inklusi yang disediakan oleh pemerintah telah memberikan ruang dan kesempatan anak berkebutuhan khusus, khususnya anak autis, untuk mengembangkan potensinya dan belajar bersosialisasi mengenal dunia sekitar dan teman sebayanya. Sekolah inklusi juga telah meruntuhkan tembak yang mengisolasi anak berkebutuhan khusus terisolasi dari dunia luar. Pengembangan sekolah inklusi ke arah yang lebih baik menjadi tanggung jawab kita bersama, pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat.

6 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s