RAGAM MOTIF BATIK JAWA

Pagi ini bongkar-bongkar lemari. Eh, ada bahan kain batik sarimbit yang dibeli di Malioboro. Kira-kira setahun atau satu setengah tahun yang lalu pergi ke Yogya dan jalan-jalan ke Malioboro. Dari awal memang sudah niat mau nyari dan beli bahan kain batik untuk bikin baju seragaman sama kakak. Buat seru-seruan bareng. Pakai baju samaan bahan, walaupun beda model. Tapi sampe sekarang, itu bahan batik belum dijahit. Awalnya gegara kelamaan nyari model baju yang mau dijahit. Eh, lama-kelamaan gak dijahit. Setelah keliling Pasar Beringharjo, akhirnya ketemu juga bahan di toko sepanjang Malioboro.

Sempet bingung milih kain batik yang banyak motif dan warnanya. Apa kalian juga pernah merasa bingung saat memilih batik dengan motif-motif dan warnanya? Ditambah lagi, batik sekarang sudah mengalami perkembangan luar biasa. Sudah banyak motif batik dan warnanya pun tidak terbatas hanya pda gradasi warna coklat, putih, dan hitam. Sekarang sudah lebih berwarna-warni.

Ternyata, ada makna di balik semua motif-motif batik Jawa. Ya, kebudayaan Jawa memang sarat dengan filosofi yang terkandung dalam simbol-simbol budayanya. Makna yang terkandung dalam motif batik Jawa tersebut sedikit banyak menentukan motif apa yang cocok dipakai untuk acara-acara tertentu.

Apa saja makna di balik motif batik Jawa? Lets check it out

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu, motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman.

Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, tetapi corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri. Di Jawa, khususnya Yogyakarta dan Surakarta (Solo), terdapat berbagai corak dan motif batik yang mempunyai filosofi dan makna yang mendalam.

image.

Parang Kusumo. Kusumo berarti bunga yang mekar, dapat juga berarti keluarga ningrat. Filosofi dari motif ini diharapkan pemakai batik ini menjadi terlihat indah dan bijaksana.

image

Parang Centung (centong). Filosofi dari motif ini  adalah parang centung berarti wis ceta macak, kalau dipakai kelihatan cantik (macak). Motif batik ini biasa dipakai di acara mitoni “upacara tujuh bulan”.

image

Motif  geometris kawung. Motif ini pada awalnya hanya digunakan di kalangan keraton, khususnya raja dan keluarganya. Motif ini sebagai lambang keperkasaan dan keadilan.

image

Motif Kawung Picis. Motif batik ini dikenakan hanya di kalangan kerajaan. Motif ini melambangkan harapan agar manusia selalu ingat asal usulnya. Selain itu, juga melambangkan empat penjuru. Hal itu berarti pemimpin harus dapat berperan sebagai pengendali ke arah yang lebih baik). Motif ini juga melambangkan bahwa hati nurani berperan sebagai pusat pengendali nafsu manusia sehingga ada keseimbangan dalam perilaku manusia dalam kehidupan.

image

Motif Cakar Ayam. Motif ini biasanya dipakai pada acara mitoni, siraman dan biasanya dipakai oleh orang tua pengantin saat upacara tarub. Cakar ayam adalah alat utama bagi ayam untuk mencari makanan. Tanpa cakar, ayam tidak dapat menggali tanah untuk mendapatkan makanan. Filosofi dari motif ini adalah diharapkan pasangan pengantin yang sudah menikah dan keturunannya dapat mencari nafkah sendiri setelah berumah tangga dan hidup mandiri.

image

Motif Grompol. Motif ini biasa dipakai oleh ibu calon pengantin putri pada saat upacara siraman. Grompol berarti berkumpul atau bersatu. Dengan memakai kain motif ini diharapkan berkumpul segala sesuatu yang baik-baik, seperti rezeki, keturuan, dan kebahagiaan hidup.

image

Motif Nogo Gini. Motif ini dipakai pada saat upacara temanten Jawa (upacara gandeng manten). Dengan dipakainya motif ini, diharapkan pengantin akan mendaptkan banyak rezeki

image

Motif Truntum Sri Kuncoro. Motif ini dipakai oleh orang tua pengantin pada saat upacara panggih. Truntum berarti menuntun. Sebagai orangtua, mereka berkewajiban untuk menuntun kedua mempelai memasuki kehidupan baru, yaitu kehidupan rumah tangga anaknya, yang penuh dengan lika-liku kehidupan.

image

Motif  Harjuno Manah. Harjuno Manah berarti Arjuna memanah. Motif batik ini dipakai pada upacara pisowanan atau pada saat menghadap raja bagi kalangan keraton. Orang yang memakai batik motif ini jika mempunyai suatu keinginan semoga keinginannya dapat tercapai.

image

Motif Sekar Asem. Batik motif ini dipakai pada saat upacara adat Jawa. Asem berasal dari kata mesem yang berarti senyum, diharapkan orang yang memakai batik motif ini akan selalu hidup bahagia dan bersikap ramah.

image

Motif Sekar Keben. Batik motif ini dipakai oleh abdi dalem keraton sebagai pakaian harian mereka. Orang yang memakai batik motif ini diharapkan akan mempunyai pandangan yang luas dan selalu mempunyai rasa keinginan untuk maju serta selalu berusaha untuk mencapai cita-citanya.

image

Motif Sido Mukti Luhur. Sido Mukti berarti gembira, kebahagiaan, sedangkan luhur berarti agung, baik. Batik motif ini dipakai pada saat upacara mitoni dan biasanya dipakai para ibu untuk menggendong bayi. Bayi yang digendong dengan kain batik motif ini diharapkan dapat merasakan ketenangan dan kegembiraan dan kelak ketika dewasa menjadi seorang yang luhur budi pekertinya.

image

Motif Slobog. Motif ini dipakai pada upacara kematian atau pada saat upacara pelantikan seorang pejabat pemerintahan. Motif ini melambangkan arwah yang meninggal mendapatkan kemudahan dalam perjalanananya menghadap Yang Maha Kuasa dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran untuk menerima cobaan berupa kehilangan orang yang dicintai. Selain itu, motif ini juga melambangkan harapan agar selalu diberi petunjuk dan kelancaran dalam menjalankan semua amanah dan tanggung jawab yang diberikan kepada seseorang.

Batik yang merupakan hasil seni lukis masyarakat Jawa memiliki filosofi dan makna yang dalam yang terkandung di dalamnya. Kain batik tidak hanya menjadi pakaian yang hanya berfungsi untuk menutup aurat dan melindungi tubuh manusia, tetapi batik, dari berbagai macam motifnya, juga memberikan suatu dorongan dan dan daya kepada pemakainya. Hal itu terlihat dari berbagai macam motif batik dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

4 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s