Proses

Beberapa hari yang lalu aku datang ke pernikahan seorang teman SMA. Di sana, aku bertemu dengan teman-teman SMA-ku yang lain. Dan topik yang tidak pernah ketinggalan untuk dibahas adalah topik tentang pernikahan.

Entahlah, aku menganggap ini adalah topik yang wajar untuk dibicarakan oleh kami yang berusia 22-27 tahun (bahkan bisa jadi lebih muda atau lebih tua dari rentang usia itu). Itu satu momen hasrat untuk menikah lebih dipikirkan selain karena itu waktu yang ideal untuk menikah. Ya, topik pernikahan selalu hangat dan renyah tidak habis-habisnya dibahas kapan pun dan di mana pun. Saat aku berada di kantor, di rumah, saat berkunjung ke rumah saudara (budhe, lek, teman orang tua), berkumpul bersama teman, baik itu teman sma, teman kuliah, teman kerja, teman main, hampir selalu ada satu segmen dari berbagai segmen pembicaraan kami yang membahas pernikahan. Kalian pasti sudah tahu, perempuan itu cenderung membicarakan banyak hal tanpa membahas satu hal lebih detail dan mendalam.

Ada satu hal yang menarik perhatian aku ketika membicarakan pernikahan adalah satu kata, yaitusedang proses (dalam bahasa percakapan bisa dibilang lagi proses). Suatu ketika saya buka bersama dengan teman-temanku. Ada satu temanku yang bercerita tentang hubungannya dengan seorang laki-laki. Ia menceritakan proses perkenalan mereka sampai kedua keluarga saling bertemu. Aku hanya asyik mendengarkan ocehan temanku dan tanggapan teman-temanku yang lain. Cerita-cerita mereka sudah ramai dan membuat berisik restoran tempat kami makan. Tiba-tiba, salah seorang temanku menyeletuk, “Ratih, diem aja nih. Atau jangan-jangan ratih juga lagi prosesnya?” Temanku yang lain menanggapi, “Ih, Ratih mah, diem-diem eh, nanti tiba-tiba nyebar undangan aja. Lagi proses gak mau cerita-cerita.” Satu lagi temanku menanggapi, “Ratih, pokoknya nanti jangan tiba-tiba ya undangannya.”

Reaksi pertamaku adalah hanya tersenyum, entahlah waktu itu senyumku terlihat sumringah atau biasa saja. “Tuh, kan pasti Ratih lagi proses nih ya.” kata seorang temanku. Lalu aku bilang, “Aturannya kan jelas bilang sembunyikan lamaran, umumkan pernikahan. Yang jelas kalo aku nikah pasti aku ngasih tau dan ngundang kalian kok.” “Trus kapan kita dikasih undangan? Tahun ini ya? Kalo tahun ini berarti sekarang lagi proses dong?” “Ayo dong Ratih cerita-cerita ke kita.” “Senyum Ratih penuh arti nih.” Setelah itu, aku tidak tanggapi lagi pembicaraan teman-temanku itu. Semakin diladeni pasti akan semakin panas perbincangan kami malam itu. Dan benar saja dengan sendirinya topik pembicaraan kami berubah.

Ada cerita lain lagi berhubungan dengan kata proses, yaitu saat ada saudaraku bersilaturahim ke rumah. Topik pernikahan menjadi topik hangat. Ada satu istri sepupu aku bilang, “Ratih, mah gampang cari calonnya, kan lewat acara proses-proses itu. Apa tuh namanya, taaruf ya? Itu kan prosesnya gak lama. Kalo udah niat nikah mah prosesnya gak lama, trus nikah.” Aku tersenyum menanggapinya dan aku bilang, “Iya, aku kan gak mau pacaran. Maunya taaruf aja. Taaruf 3-6 bulan, trus nikah.” Dalam hati, ini istri sepupu aku bisa tau istilah taaruf darimana. Bisa dibilang dia jarang dan mungkin bisa dibilang jarang bersentuhan langsung dengan mereka yang akrab dengan istilah taaruf ‘proses perkenalan sebelum menikah’.

Pernah lagi, suatu ketika aku berbagi cerita dengan salah seorang temanku yang lain. Temanku itu bercerita tentang seorang temannya yang sedih karena gagal proses. Ia bercerita itu dengan maksud berbagi pengalaman kepadaku bahwa tidak selamanya sekali melakukan proses langsung berhasil ke jenjang pernikahan. Dan dalam melakukan proses taaruf banyak hal yang tidak biasa bisa terjadi. Selama kami saling berbagi cerita kami sama-sama paham maksud kata-kata sedang proses, selama masa proses, gagal proses.

Ketiga cerita itu mengatakan kepada kita, bahwa kata proses, sedang proses, masa proses itu mengarah kepada pernikahan. Proses mengenal calon pasangan.

Lain halnya ketika aku di kantor. Kata proses juga terkadang aku sampaikan untuk update pekerjaan. “Ratih, gimana kabar buku X?” “Baru mulai layout, pak. Sekarang lagi proses (sedang proses) pak.” “Ratih, posisi buku X gimana?” “Masih proses pak, lagi edit sekarang. Udah 50%.”

Beda tempat, beda juga maksud. proses di kantor tentu tidak mengarah pada arti mengenal calon pasangan hidup sebelum pernikahan. Tapi terkadang, sesekali kata proses menjadi celetukan tersendiri. ““Ratih, gimana kabar buku Y?” “Sekarang lagi di Z. Masih proses, pak.” “Jangan proses mulu dong, buruan dijadiin.” si Bapak ngomong gitu sambil ketawa. Terus aku mikir, wah ambigu nih. Maksudnya apa tuh, mengingat si Z berjenis kelamin laki-laki. Ada dua makna toh, bisa jadi mengacu pada buku, bisa jadi mengacu pada hubungan laki-laki dan perempuan. Ambigu, bukan?

Dan yang menggelitik adalah aku sudah membuat rencana-rencana dalam hidupku. Dan aku menyadari masih ada banyak hal yang harus aku pelajari, aku lakukan, aku selesaikan. Aku buat breakdown dari rencana-rencana aku itu. Apa-apa yang harus aku lakukan dan aku siapkan dari berbagai segi. Entah muncul dari mana, aku merasakan sebuah perasaaan semangat, hasrat, passion, kesenangan. Dan aku ingin menikmati proses itu, dalam hal ini, proses aku memperbaiki dan memperbaiki diri aku, proses memantaskan diri, proses menjalani setiap hal yang mendekatkan aku untuk merealisasikan rencana hidup dan mewujudkan cita-cita aku. Dan aku menikmati proses kehidupan yang aku jalani. Berusaha mencintai semua hal yang menjadi bagian dalam proses kehidupan aku. Proses memantaskan diri di hadapan-Nya.

Seketika itu terpikir olehku. Sekarang aku sedang proses dan sedang berproses. Dan setiap hari bukankah kita selalu dalam proses. Namun, bukan dalam arti sedang proses dengan tujuan saling mengenal sebelum pernikahan. Aku sedang proses, sedang memproses diri aku sendiri ke arah yang lebih baik dari saat ini, terus meningkatkan kapasitas dan kemampuan diri. Ya, aku sedang proses dengan diri aku sendiri. Dan selamanya, aku sedang proses, ya proses belajar madal hayah, semakin dan semakin memperbagus diri dan memantaskan diri di hadapan-Nya.

Ada banyak makna yang terkandung dalam satu kata proses. Ia mengeluarkan maknanya sesuai dengan konteks wacana saat kita membicarakan kata proses. Keluar dalam situasi apa prosesmengeluarkan diri dan menetaskan maknanya yang banyak.  Apakah semua kalangan tahu salah satu makna proses  dalam konteks pernikahan. Atau hanya mereka yang mengenal taaruf sebelum pernikahan yang mengenal makna proses dalam konteks pernikahan.

Lalu, bisakah jika (tiba-tiba) aku ditanya, “Ratih sedang proses ya atau tidak?”(tanpa ada penjelasan konteks pembicaraannya mengarah ke hal apa) aku menjawab dengan, “Iya, aku lagi proses (maksud aku dalam hal proses semakin memperbaiki, memperbagus, dan memantaskan diri).  Hal yang ambigu. Yang bertanya tidak memspesifikasikan pertanyaannya, ke arah mana kata proses ia arahkan. Yang ditanya tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) kemana kata proses diarahkan. Dan belum lagi dalam konteks wacana apa si penanya bertanya seperti itu kepada si penjawab.

Lalu, dari segi keilmuan, semantik ‘cabang ilmu kebahasaan yang membahas tentang makna’ bagaimana berbagai makna itu dapat dijelaskan. Ada keambiguan yang perlu dijawab. Jika ditambah dari sudut pandang analisis wacana (konteks) apakah ada hubungannya. Semantik dan analisis wacana, dari salah satu atau keduanya, bisa akan menjawab keragaman dan keambiguan maknaproses yang ada. Di ruang bedah yang berbeda, kita bisa akan membedah kata proses dengan pisau bedah semantik dan analisis wacana.

13 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s