Mudah Bicara Seks kepada Anak

Resume Seminar Parenting GEMA INSANI EXPO (GIP EXPO) 2014

“Mudah Bicara Seks kepada Anak” Upaya Mencegah Kekerasan Seks pada Anak

Pembicara: Emmy Soekresno (Penulis, Praktisi dan Konsultan Pendidikan)

Sabtu, 5 Juli 2014 @Aula Kantor GIP, Depok

Pembicaraan seminar diawali dengan cerita dari Bu Emmy tentang kasus kekerasan seksual yang terjadi di sebuah komplek perumahan untuk kalangan atas. Ternyata, di tempat yang dirasa oleh kita adalah tempat yang aman, terjadi juga kasus kekerasan seks pada anak. Kita hanya merasa aman jika bersama Allah saja. Tidak ada rasa aman di luar itu. Rasa yakin kepada Allah bahwa Allah yang akan melindungi diri dan keluarga kita harus dicamkan dalam diri kita.

Kasus itu terjadi terhadap seorang anak perempuan berusia 6 tahun. Anak itu bercerita pada ibunya, “Mah, aku diciumi sama bapak itu. Aku gak suka.” Bapak itu seorang duda yang juga warga komplek. Mendengar cerita anak perempuannya, sang ibu menanggapi, “Paling itu ciuman sayang”. Ia juga mengadu kepada ayahnya. “Ayah, aku gak mau mandi. Aku gak mau berangkat sekolah. Aku gak mau diciumi sama bapak itu.” Ayahnya juga menanggapinya sepele. Justru ia marah karena anaknya tidak mau mandi dan berangkat sekolah. Suatu hari, seorang ibu warga komplek melihat anak tersebut bersama bapak itu di dekat danau komplek. Anak tersebut sedang diperlakukan tidak senonoh oleh bapak itu. Melaporlah ibu tersebut kepada orang tua sang anak. Barulah orang tuanya percaya. Selama itu, cerita dan keluhan anak perempuannya tidak ditanggapi. Setelah mendapat cerita dari ibu warga komplek, barulah orang tuanya percaya. Dan sesuatu yang buruk telah terjadi pada anak perempuannya. Jadi lebih penting mana, cerita dari anak sendiri atau dari orang lain setelah itu sudah terjadi? Padahal sang anak sudah menyadari dan berontak terhadap kondisi yang terjadi pada dirinya. Namun, disepelekan dan diabaikan orang tua.

Bu Emmy juga sering mengingatkan anaknya bahwa ada bagian-bagian tertentu dari tubuh yang tidak boleh disentuh dan dipegang oleh orang lain. Semua bagian tertentu itu hanya boleh dibuka atas izin orang tua. Pelecehan seksual dapat terjadi di mana saja. Setan, jika lahir, tidak pernah mati. Jangan pernah percaya sama setan.

Pelecehan seksual juga kerap terjadi di angkutan umum. Misalnya angkot. Di samping kanan atau kiri perempuan, ada seorang laki-laki yang sengaja mendempet-dempetkan dirinya ke tubuh perempuan.

Pelecehan seksual kepada anak adalah satu orang dewasa yang merasa dirinya dalam posisi diktator merasa dirinya lebih kuat dari anak. Bukan orang dewasa terhadap orang dewasa lainnya. Kekerasan seksual meliputi meraba, mencium, memegang bagian tubuh tertentu yang tidak boleh disentuh,

Pernah ada kasus, seorang anak cerita kepada kakaknya bahwa kemaluannya telah “diginiin” sama seorang bapak yang bisa dibilang orang yang cukup dihormati di kampung. Anak itu meminta sang kaka agar jangan cerita ke orang tua mereka karena sang anak berpikir nanti orang tuanya akan marah dan ia akan dimarahi.

Nah, di sinilah korban kekerasan justru yang merasa bersalah. Jika rasa tersebut tidak ditangani dan diobati, akan membuka peluang korban akan menjadi pelaku ketika ia sudah dewasa. Hampir 35% persen yang mengalami kekerasan seksual ketika kecil dan tidak selesai masalahnya, akan menjadi pelaku ketika dewasa. Mereka merasa bersalah seumur hidupnya.

Efek kekerasan seksual tidak langsung terlihat, kecuali efek yang terjadi pada fisik. Efek pada fisik yang dapat langsung terasa sakit dan dapat dilihat lukanya.

Faktanya 105.103 kasus pelecehan pada perempuan terjadi pada 2010. Itu kasus yang dilaporkan. Belum lagi kasus-kasus lain yang tidak dilaporkan. Dan itu terjadi pada tahun 2010, tahun 2014 bisa meningkat jumlahnya.

Banyak orang tua yang bercerita kepada Bu Emmy bahwa anaknya mengalami kasus pelecehan seksual. Namun, orang tua tersebut mengatakan, “Ibu, jangan bilang siapa-siapa ya.” Justru itu yang membuat kita harus kasihan bukan hanya kepada anak yang menjadi korban, tetapi juga seluruh anak Indonesia. Mengapa? Karena dengan begitu, kita sudah melindungi dan merawat seorang penjahat. Penjahat itu tidak mendapatkan sanksi apa pun, juga tidak mendapatkan malu. Justru semua itu yang dirasakan oleh para korban.

Kita tidak boleh terlihat lemah di hadapan orang lain dan tampakkan kewaspadaan kita untuk menghindari kemungkinan peluang mengalami kekerasan seksual. Kenalkan bargaining position ‘posisi tawar’ anak kita di dunia ini seperti apa. Di mana posisi anak kita.

Ada satu cerita yang disampaikan beliau. Beliau bercerita tentang anaknya yang pada suatu hari dicegat oleh segerombolan remaja ketika akan berangkat ke masjid. Anaknya tidak mau berantem meladeni orang-orang yang mencegatnya. Anaknya berpikir bahwa ia jalan di jalan umum. Jalan umum yang dibuat pemerintah untuk siapa saja. Nah, bagaimana sang anak dapat berpikir seperti itu? Karena diberitahu oleh orang tua. Karena orang tua mengajarinya. Lalu, beliau mengatakan kepada anaknya, ketika kamu lewat jalan itu, kamu bilang “aku gak mau diganggu dan gak mau dipukul. karena aku gak nganggu kalian. ini jalan umum dan siapa aja boleh lewat sini.” Anak itu pun mengikuti apa yang dibilang sang ibu, Ketika lewat, sang anak tidak diganggu dan dibiarkan lewat oleh anak-anak gerombolan.

Jadi, ajari anak kita posisi mereka. Bagaimana caranya? Tanggapi dan dengarkan ketika anak kita ingin berbicara. Ketika anak ingin berbicara menyampaikan apa yang ia pikirkan, dengarkan. Jangan “Mah, aku mau bicara.” sang ibu bilang, “Nanti dulu dong dek, Mamah kan lagi ngobrol sama Tante ini. Kamu main aja sana dulu.” Kemudian ada lagi. Anak-anak kita ajari jalan. Namun, ketika anak sudah dapat jalan ke sana ke mari, justru disuruh duduk, jangan lari-larian ke sana ke sini. Anak-anak kita  diajari ngomong. Namun, ketika sudah bisa ngomong, dia sudah bisa ngoceh dan bawel, justru disuruh diam. Berisik dan bikin pusing mendengarkan ocehan anak dijadikan alasan orang tua.

Ajari anak tentang auratnya. Kasih tahu bagian-bagian aurat anak laki-laki dan anak perempuan. Ajari mereka untuk menutupi aurat mereka. Terutama aurat anak perempuan. Ajari mereka memakai jilbab. Pada fitrahnya, meskipun masih kecil, mereka punya rasa malu. Apalagi jika, anak-anak sudah memasuki masa baligh.

Hindari dan tidak lagi mengatakan kepada anak, “Jangan bicara sama orang asing.” Kalimat itu sudah basi. Mengapa? Karena 90% pelaku kekerasan seksual adalah orang terdekat.

Ajari anak pendidikan seks yang mendasar. Tanamkan benar-benar pada anak bahwa ada bagian-bagian tertentu dari tubuh mereka yang tidak boleh disentuh oleh orang lain tanpa izin orang tua.

Ajari pula kepada anak bahwa kegiatan seksual yang dilakukan orang dewasa kepada mereka (anak) adalah salah dan bertentangan. Hal itu adalah sebuah kesalahan dan kejahatan yang harus diberi sanksi.

Ajari juga anak kita bahwa tubuh mereka (anak) adalah hak penuh dan milik mereka sendiri. Jangan biarkan orang lain bebas bertindak apa saja dan memegang atau meraba dirinya (diri anak). Biarkan anak berekspresi dan bertindak alami terhadap orang lain. Sebagai contoh, ketika anak tidak mau dipangku atau digendong oleh laki-laki dewasa dari orang terdekat, misal om, teman orang tua dll, jangan biarkan mereka melakukan itu.

Hargai aurat anak, laki-laki maupun perempuan, pun ketika mereka masih bayi, batita, atau balita. Jaga aurat mereka sejak kecil. Misalnya, hal sepele, ketika mau ganti popok. Jika di sana ada laki-laki dewasa, minta dia untuk ke luar ruangan atau carilah tempat yang aman untuk ganti popok anak dan tidak memperlihatkan aurat anak ke orang-orang. Banyak orang tua yang menganggap pemotretan foto studio untuk anak bayi, batita, atau balita dengan tidak menggunakan pakaian adalah hal yang biasa. Ternyata, itu adalah tindak pelecehan pertama yang dilakukan orang tua terhadap aurat anak. Mengapa demikian? Karena pada saat pemotretan akan ada banyak orang lain, selain orang tua, yang melihat aurat anak meskipun anak masih bayi, batita, atau balita.

Selanjutnya, ajari dan bekali anak dengan personal safety. Ajari anak, laki-laki atau perempuan, untuk dapat menyelamatkan dirinya dari keadaan berbahaya dan dari tindak pelecehan seksual. Jika anak tidak bisa bela diri, minimal sang anak dapat melarikan diri dari situasi tersebut. Bekal kemampuan bela diri menjadi penting. Bekali juga anak-anak dengan rasa aware dan waspada terhadap orang-orang yang mencurigakan. Bukan berburuk sangka, tetapi kewaspadaan, agar anak tidak mudah diganggu.

Ajari anak untuk dapat mengontrol keadaan. Bekali dan berikan anak segala informasi yang dibutuhkan. Berikan dia informasi tentang namanya, nama orang tua, nama kakak atau adik, alamat rumah, dan yang terpenting nomor telepon yang dapat dihubungi anak kapan saja.

Orang tua menjadi teman dan pendamping anak. Namun, tanpa mengabaikan proses menjadikan anak sebagai anak yang mandiri. Diskusikan dan luruskan hal-hal yang belum dipahami anak atau disalahpahami anak ketika menonton tayangan televisi, nonton film. Diskusikan manfaat dan mudharat, kelebihan dan kekurangan dari sinetron atau film yang ditonton. Apakah banyak manfaat atau justrus sebaliknya. Diskusikan juga efek yang akan mereka rasakan. Itulah makna simbol BO yang sering ada di televisi, Bimbingan Orang Tua. Benar-benar orang tua mendampingi dan memberikan pencerdasan kepada anak.

Berikan kepercayaan kepada anak untuk tidak menonton adegan dewasa yang tidak pantas ditonton. Tidak dapat dipungkiri, anak akan terpapar oleh pengaruh itu dari lingkungan. Berikan kepercayaan kepada anak bahwa orang tua mungkin tidak melihat apa yang telah mereka lakukan dan lihat di depan layar TV. Namun, Allah melihat dan malaikat mencatat perbuatan mereka.

6 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s