Lebaran Ceria

Idul Fitri tahun ini adalah idul fitri kelima tanpa sosok dia. Ini bukan tentang Bang Toyyib yang sudah tiga kali lebaran tidak pulang ke rumah. Bang Toyyib masih ada kemungkinan untuk pulang ke rumah di lebaran keempat atau kelima atau keenam dan di tahun-tahun berikutnya. Bisa juga Bang Toyyib tidak akan pulang-pulang selamanya.

Wujud nyata sosok dia bagiku, bagi kami sudah tidak akan mungkin bisa kembali karena sosok dia dan kami sudah berbeda dunia. dunia kami sudah berbeda, alam dunia dan alam kubur. Idul Fitri tahun ini anggota keluarga intiku tidak bertambah ataupun berkurang, masih ada bapak, aku, kakak dan adikkku.

Idul fitri tahun ini adalah lebaran tahun ketiga di saat aku sudah bisa dibilang move on. Lebaran dua tahun pertama sejak kepergiannya, itu kondisi ketika aku masih belum move on dengan keadaanku.

Tahun demi tahun, dari tahun pertama hingga tahun ini (tahun kelima), aku bisa belajar banyak hal. Hal yang mungkin tidak akan aku alami, aku pelajari, aku rasakan jika situasinya tidak seperti situasi saat ini, jika sosok dia masih ada. Bukankah kita harus selalu mengambil sisi positif dari semua hal yang terjadi?  Pada awalnya banyak air mata mengalir, cengeng, suka nangis, banyak ngedumel, suka ribet sendiri, bingung.

Namun, seiring berjalannya waktu, semua itu bisa terlewati. Hal-hal baru yang aku pelajari dan aku alami. Hal-hal yang setelah aku jalani membuat aku terheran sendiri, ternyata aku bisa melakukannya. Ya, terkadang kita harus masuk dan berada dalam sebuah kondisi yang tidak menguntungkan dan mengenakkan untuk keluar dari zona nyaman dan untuk mengeluarkan segala yang kita punya untuk bertahan. Dan di akhir, kita tercengang dengan diri sendiri, ternyata aku mampu.

Dan yang membuat aku sedih, sering menangis, sebenarnya bukan karena aku harus “terpaksa” menjalani, mengalami, dan mempelajari hal-hal domestik kerumahtanggaan sejak kepergiannya lima tahun lalu. Hal yang membuat rasa sedih muncul dan seketika itu membuat aku jadi cengeng adalah karena aku mempelajari semua itu tanpa kehadiran dirinya, tanpa bimbingan darinya. satu pelajaran, satu momen yang ingin aku lakukan bersama dia seperti saat-saat sebelum dia pergi. saat kami memasak bareng di dapur, saat dia mengenalkan aku tentang apa itu bumbu-bumbu masakan, cara memasak, tentang masalah perempuan lainnya.

Oke, move on. Kita harus move on. Ya, seperti aku ceritakan, aku belajar hal baru. Dan aku sudah move one. So, ini hal-hal yang aku pelajari sejak aku bisa move on dan bisa untuk tidak menjadi “emak-emak rempong” di saat lebaran. Istilah “emak-emak rempong” itu kata-kata yang sering aku denger dari temen-temen aku yang sudah menikah. Aku pribadi tidak tahu itu istilah muncul darimana. Ketika mengumpul bareng teman-teman yang sudah menikah istilah itu muncul begitu saja. Lalu terbayang olehku sebegitu amat sangat repot sekalikah (ini agak lebay) nanti ketika sudah menjadi seorang istri dan ibu? Atau itu hanya istilah mereka saja. Entahlah aku sebagai pendengar hanya bisa membayangkan karena aku sendiri toh belum menyandang status istri apalagi ibu. Sementara aku sendiri memang merasa repot mengurus urusan domestik rumah, tapi aku anti dibilang “emak-emak rempong” karena aku mulai menikmatinya. Belajar menikmati dan mencintai yang aku jalani. Ya, aku hanya tertawa saat mereka mengeluarkan istilah itu.

Oke, back to topic. Jadi, aku mau cerita tentang beberapa hal berdasarkan pengalaman aku tiga-empat tahun mengurus dan menyiapkan persiapan lebaran sendiri. Biar bagaimana pun riwehnya, aku tetap tidak mau agenda-agenda aku di sepuluh hari terakhir Ramadhan terlewatkan hanya karena sibuk menyiapkan lebaran.

So, ini yang bisa dijadikan tips supaya lebaran kita menjadi lebaran ceria. Ceria karena bisa menjalankan ibadah Ramadhan dengan sukses apalagi di sepuluh terakhir Ramadhan yang notabenenya orang-orang pada sibuk mengurus keperluan lebaran.

1. Membeli keperluan lebaran, seperti kue-kue kaleng, sirup, bahan-bahan untuk membuat panganan lebaran jika membuat kue sendiri, toples, printilan lainnya macam taplak, hiasan rumah dll, dua atau satu minggu sebelum lebaran.

Selain tempat perbelanjaan belum terlalu penuh, kita sudah tidak pusing memikirkan semua keperluan itu di sepuluh hari Ramadhan. Jadi, kita bisa fokus beribadah di sepuluh terakhir Ramadhan. Apalagi jika kita bekerja dan baru libur H-3 atau H-2 lebaran. Kemungkinan besar, waktu malam akan digunakan untuk berbelanja.

Alangkah baiknya, barang-barang apa saja yang mau dibeli untuk keperluan lebaran didiskusikan oleh anggota keluarga dan disesuaikan dengan kondisi saat lebaran dan budget yang ada. Jika sudah menikah, bisa diskusikan dengan suami atau istri, anak (mungkin) juga boleh dilibatkan jika dia sudah bisa diajak berdiskusi.

Contohnya, seperti yang keluargaku alami. Setiap lebaran, rumah kami menjadi basecamp saudara dari bapak kumpul di rumah. Hal itu berarti kami harus menyiapkan hidangan yang cukup untuk bisa dinikmati semua tamu yang datang ke rumah. Biasanya kami memasak ketupat lebih dari 50 ketupat, masak rendang, sayur ketupat, sambel goreng hati, opor ayam, dan pelengkap lainnya. Tahun ini kami tidak membuat opor ayam, tapi kami menyediakan gulai sebagai hidangan lebaran. Makanan yang antimainstream.

Selain itu, kami juga menyiapkan oleh-oleh untuk para tamu bawa pulang. Biasanya, di tahun-tahun sebelumnya kami menyiapkan buah pir dan apel masing-masing 2 kardus besar. Setiap tamu yang datang kami bawakan buah apel dan pir karena itu buah tangan yang antimainstream dan buah bagus untuk dikonsumsi di saat kita banyak mengonsumsi makanan berlemak dan bersantan. Namun, tahun ini berbeda. Kami menyiapkan berbagai macam kue, mulai kue kaleng sampai snack kriuk-kriuk dan sirup sebagai oleh-oleh untul tamu (kali ini bawaannya mainstream). Itu karena mengingat harga buah yang semakin mahal.

Jika kalian yang lebih banyak mengunjungi saudara-saudara yang lain, rencanakan barang bawaan apa yang mau dibawa saat berkunjung ke rumah saudara, disesuaikan dengan kondisi dan budget yang ada. Beli dan persiapkan juga satu minggu sebelum lebaran sehingga saat lebaran dan akan berkunjung, kita tinggal membawa buah tangan itu tanpa pusing-pusing membelinya di hari lebaran atau pasca lebaran. Dan yang pasti tidak merepotkan.

Hal yang perlu diingat adalah hari raya idul fitri memang salah satu hari raya umat Muslim. Kita patut merayakannya. Yang perlu diingat adalah tidak berlebih-lebihan dalam merayakannya. Karena itu, segala sesuatu yang dipersiapkan untuk menyambut hari raya adalah yang sewajarnya, sepantasnya, dan tidak berlebihan, tidak mubadzir.

2. List atau tulis daftar semua keperluan lebaran yang dibutuhkan, mulai dari hidangan lebaran, buah tangan barang bawaan saat berkunjung atau dikunjungi, sampai barang printilan lainnya (taplak, toples, hiasan rumah), keperluan dari depan rumah (misalnya mau ganti warna cat rumah, ganti kain sofa, dll) hingga urusan dapur. Dengan begitu, kita bisa memperkirakan dana yang dibutuhkan. Jika dana yang ada mencukupi, hal itu tidak menjadi masalah. Jika dana yang dibutuhkan lebih besar daripada dana yang ada, kita bisa membuat daftar prioritas kebutuhan yang penting, disesuaikan dengan kondisi dan budget.

Saat akan berbelanja, list barang keperluan ini juga berguna. List daftar belanjaan akan mempermudah kita mencari barang yang ingin dibeli. Biasanya, saat berbelanja, perempuan akan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak ada di dalam list. Nah, dengan adanya list barang belanjaan, itu akan menjadi rem ketika berbelanja kita sudah banyak membeli barang yang sebenarnya tidak ada dalam list dan (entahlah) dibutuhkan atau tidak. Aku pribadi, masih menoleransi 3-7 barang di luar daftar belanjaan untuk bisa dibeli selama memang dananya ada dan tidak mengganggu dana untuk pos lain. Kalau tidak ada dananya, ya tidak perlu dibeli. Bisa jadi kita tidak memerlukan barang itu dan itu hanya keinginan nafsu berbelanja saja. Apalagi ketika melihat tulisan diskon atau obral.

3. Terkait baju baru saat lebaran, kita memang disunnahkan untuk memakai baju baru saat hari raya. Namun, ingat tidak berlebihan dan sewajarnya. Untuk urusan yang satu ini, aku pribadi lebih suka membeli baju baru jauh-jauh hari sebelum lebaran walaupun diskon menjelang hari raya itu sungguh menggoda hati dan bikin lapar mata, Apalagi untuk kaum hawa.

Kenapa lebih suka jauh-jauh hari? Pertama, tempat perbelanjaan belum ramai dan sesak oleh pengunjung. Kecuali, jika kalian suka dan terbiasa berbelanja dengan kondisi berjubel, berdesakan di kerumunan orang banyak, ditambah kondisi panas, sumpek, dan gerah. Kedua, berbelanja dengan kondisi yang ramai dan sesak apalagi ditambah panas akan menjadi godaan besar bagi orang-orang yang berpuasa untuk menahan lapar dan hausnya. Mungkin beberapa dari kita sering melihat di pasar atau pusat perbelanjaan, ada orang-orang yang dengan enak dan nyamannya makan dan minum, juga merokok. Oke, kita berbaik sangka saja, mungkin mereka (perempuan) sedang menstruasi, mungkin ada di antara mereka (laki-laki dan perempuan yang makan, minum, dan merokok) bukan Muslim.

4. H-2 sampai H-1 lebaran, kondisi pasar pasti akan berjubel orang banyak. Orang-orang tumpah ruah di pasar. Pembeli, pedagang beneran, pedagang dadakan, tukang ojek, dll semua menjadi satu di pasar. Kita disunnahkan untuk tidak berlama-lama berada di pasar dan mempercepat urusan kita di pasar. Sementara bahan-bahan untuk hidangan lebaran, macam ketupat dan sayur pelengkapnya baiknya dibeli saat menjelang lebaran.

Aku paling anti dan paling menghindari berjubel-jubel di pasar, apalagi kondisinya ramai, panas, becek, kotor. Iiih.. Jangan samakan ini dengan iklan detergen, kalau gak kotor gak belajar. Ini persolan yang berbeda. Kalau kalian seperti aku yang anti kondisi seperti itu, tidak mau berjubel, desak-desakan di pasar H-2 atau H-1 lebaran? Datanglah ke pasar sepagi mungkin. sekitar pukul 05.00 sampai paling siang pukul 07.00. Di pukul itu, belum banyak orang berdatangan ke pasar jika dibandingkan setelahnya. Kalau datang ke pasar pukul 08.00-11.00, bersiaplah berdesakan dengan orang-orang di pasar, ramai, panas, orang banyak. Haaah. Pukul 05.00-07.00 juga sudah banyak pedagang yang membuka lapaknya. Lebih bagus lagi jika sudah mempunyai pedagang langganan di pasar. Urusan di pasar bisa lebih cepat selesai. Dan ingat bawalah list daftar barang yang ingin dibeli.

5. Sibuk mempersiapkan lebaran bukanlah alasan untuk meninggalkan ibadah, seperti tilawah, dhuha, tarawih, tahajjud, ikut kajian ramadhan, program hafalan Al-Qur’an, itikaf dan lain-lain.

Untuk tilawah, usahakan sebelum pukul 06.00, tilawah kita sudah dapat satu juz. Itu bisa kita lakukan setelah shalat tahajjud, setelah sahur sambil menunggu waktu azan Shubuh, atau selepas shalat Shubuh. Sebelum memulai aktivitas, mulailah dengan shalat Dhuha pukul 08.00 atau 09.00 kemudian dilanjutkan tilawah 15-30 menit. Tidur siang ternyata berefek baik untuk tubuh kita, Tidur siang selepas Zhuhur, sekitar pukul 13.00 atau 14.00, selama paling lama 1 jam, akan membuat tubuh kita beristirahat dan kembali segar. Tidur siang juga akan membuat kita bisa bangun untuk tahajjud dan sahur. Pulang kerja langsung pulang agar selain bisa buka puasa di rumah, bisa ikut tarawih berjamaah di masjid. Minimal kita tarawih sendiri di rumah (tapi biasanya ini lebih banyak godaan mengantuk atau nonton tv). Saat sepuluh terakhir Ramadhan, benar-benar meluangkan waktu dan mengagendakan itikaf. Waktu untuk itikaf tidak diganggu gugat. Terkait tempat itikaf itu sesuai selera dan kenyamanan masing-masing.

6. Menjelang hari raya, biasanya aktivitas mempersiapkan segala sesuatunya akan lebih melelahkan. Tetap tidur dan istirahat yang cukup. Selain itu banyak mengonsumsi air putih. Konsumsi madu dan habbatus sauda sebagai suplemen tubuh tetap sehat. Selain membuat kita segar saat hari raya, menjaga kesehatan tubuh membuat kita bisa beribadah dengan maksimal di sepuluh terakhir Ramadhan.

Semua hal, mulai dari depan rumah, urusan dapur, sampai belakang rumah, sudah dipersiapkan. Pasti kita tidak mau di hari raya justru kita terlihat lelah, kusam, dan mata sayu akibat kurang istirahat dan tidur. Pada malam sebelum hari raya, tidurlah yang cukup. Untuk menjaga mata tetap segar, di pagi hari kompres mata dengan es batu atau kantong teh yang sudah didinginkan di kulkas semalaman. Untuk menjaga kebersihan dan kesegaran wajah, kita bisa melakukan facial alami di rumah tanpa harus pergi ke salon.

7. Libur lebaran sudah selesai, para tamu sudah silih berganti datang berkunjung ke rumah dan kita sibuk melayani tamu (ditambah lagi jika tidak ada pembantu), atau kita sudah berkeliling bersilaturahim mengunjungi saudara, kerabat, dan teman-teman. Setelah itu, waktunya beraktivitas normal kembali: sekolah, kuliah, atau bekerja.

Agar bersemangat saat beraktivitas kembali dan segar bertemu teman-teman kerja, ada baiknya memberikan kemanjaan kepada diri sendiri. Ini waktunya me time, waktu untuk diri sendiri. Lakukan hal-hal yang menyenangkan untuk diri kita tanpa membuat tubuh kita menjadi kelelahan. Salah satunya yang bisa dilakukan (dan aku suka melakukan hal ini) adalah pergi ke salon melakukan perawatan tubuh, wajah, atau rambut, memberikan kemanjaan untuk diri sendiri setelah berlelah-lelah mulai pra, hari H, sampai pascalebaran. Karena itu, dari awal menganggarkan dana untuk anggaran lebaran, alokasikan dana untuk aktivitas me time ini. Alokasi dananya tidak perlu besar. Yang terpenting dari me time adalah benar-benar melakukan hal-hal yang bisa membuat kita senang dan rileks untuk bisa siap dan semangat menghadapi aktivitas normal.

Mudik? Bagaimana dengan mudik? Karena aku tidak pernah merasakan mudik, untuk urusan mudik aku tidak punya cerita yang bisa diceritakan. Aku sendiri ingin merasakan rasanya mudik. Merasakan arus mudik dan arus balik. Merasakan kemacetan mudik, merasakan suasana mudik. Orang-orang yang setiap tahun mungkin merasa jenuh dengan kemacetan mudik, keriwehan mudik. Tapi buat aku justru aku ingin merasakannya (efek hanya bisa memantau situasi mudik via berita televisi tanpa pernah merasakan)

Oke, rasanya cukup cerita ini sampai di sini. Di lain kesempatan kita bercerita lagi. Bercerita tentang kemenangan raya.

5 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s