KACAMATA

sedari tadi pagi sejak sampai di kantor kacamata itu tidak aku pakai. kubiarkan dia tergeletak di atas meja. ya, pekerjaan di kantor seminggu ini tidak menuntut aku untuk banyak menatap layar komputer. kacamata aku biarkan dia duduk santai di meja.

sejenak aku lihat kacamataku. kacamata ketiga yang aku miliki. usianya sudah memasuki tahun pertama. kedua kacamata lain sudah berganti. akhir hidupnya tragis. kacamata pertama terpaksa harus masuk ke dalam tempat kacamata untuk selama-lamanya karena tangkainya patah diinjak orang di usianya yang baru 2 tahun dan yang kedua harus terkubur selamanya di usia yang lebih muda, yaitu 10 sebulan, dengan penyebab yang tidak jauh berbeda, patah.

kuperhatikan tubuhnya. ada goresan di kaca bagian kanan. bingkai bagian tengah dan kiri bawah juga tidak semulus yang bagian yang lain. itu karena tergores aspal jalanan ketika aku terjatuh dari motor. kecelakaan itu juga yang memberikan goresan di pipi, bibir, tangan, dan lulutku. butuh waktu seminggu lebih untuk menutup goresan luka di badan.

sekilas memang goresan agak kasar di bingkai kacamata tidak terlihat. ia akan terasa ada ketika dilihat lebih dekat dan diraba. sedangkan goresan yang di kaca bagian kanan itu jelas terlihat walaupun tidak sampai menggaggu aku ketika memakainya.

jika kacamataku itu bisa berbicara, kira-kira apa yang akan dikatakannya padaku? akankah dia mengeluh? atau justru ia merasa senang dan bersyukur dapat menemani hari-hariku.

aku tahu dia pernah cemburu. cemburu pada pengganti dirinya, softlens. pernah hampir selama seminggu, dia aku tinggalkan di rumah, terkurung dalam tempat kacamata. dan aku pergi dengan softlens hitam yang menemaniku.

bagaimanapun softlens memberikan kenyamanan dan kemudahan lebih, tetap kacamata adalah yang lebih berharga. dia yang lebih sering bersama denganku dan menemaniku bahkan ketika pernah aku menangis.

jika kacamatku itu bisa bicara, apa yang akan dia katakan padaku? apakah dia menyesal telah hidup bersamaku? apakah dia bersedih karena saat bersamaku mungkin saja dia melihat hal-hal yang tidak boleh dilihat? apakah ia akan mengungkapkan kebahagiaannya karena ia sering aku ajak ikut membaca, menelusuri jalan, menonton?

ah, kau itu. tahukah kamu, kacamataku. aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu di toko. memang ada beberapa pilihan yang di hadapkan padaku, sebagai bahan pertimbangan lain. namun, saat itu aku meyakinkan pilihan untuk memilihmu. semoga saja kebersamaan kita akan berlangsung lama. dan banyak hal-hal indah dan menyenangkan yang dapat kita nikmati bersama.

22 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s