Jika Engkau Menjadi Ibu

Sumber; Grup WA to be wow 7

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, ketahuilah
bahwa telah lama umat menantikan ibu yang
mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid
bin Walid. Agar kaulah yang mampu
menjawab pertanyaan Anis Matta dalam
Mencari Pahlawan Indonesia: “Ataukah tak
lagi ada wanita di negeri ini yang mampu
melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita
Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki
seperti Khalid bin Walid?”
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah
seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi
inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya
untuk terus berjuang melawan kezaliman.
“Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah
mulia, atau mati syahid!),” kata Asma’
kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu
Zubair pun terus bertahan dari gempuran
Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh
mempertahankan keimanan dan kemuliaan
tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga
akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi
dalam sejarah syuhada’ dan kata-kata Asma’
abadi hingga kini.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah
seperti Nuwair binti Malik yang berhasil
menumbuhkan kepercayaan diri dan
mengembangkan potensi anaknya. Saat itu
sang anak masih remaja. Usianya baru 13
tahun. Ia datang membawa pedang yang
panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk
ikut perang badar. Rasulullah tidak
mengabulkan keinginan remaja itu. Ia
kembali kepada ibunya dengan hati sedih.
Namun sang ibu mampu meyakinkannya
untuk bisa berbakti kepada Islam dan
melayani Rasulullah dengan potensinya yang
lain. Tak lama kemudian ia diterima
Rasulullah karena kecerdasannya,
kepandaiannya menulis dan menghafal
Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia
terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena
ibu, namanya akrab di telinga kita hingga
kini: Zaid bin Tsabit.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah
seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela
menggendong anaknya yang masih balita ke
masjid untuk shalat Subuh berjamaah.
Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah
mampu membentuk karakter anaknya untuk
taat beribadah, gemar ke masjid dan
mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi
ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak
lain adalah Imam Ahmad.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu
yang terus mendoakan anaknya. Seperti
Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini
terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak
berusia 14 tahun dan berpamitan untuk
merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan
anaknya: “Ya Allah Tuhan yang menguasai
seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan
aku untuk berjalan jauh, menuju
keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk
menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh
karena itu aku bermohon kepada-Mu ya
Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah
keselamatannya, panjangkanlah umurnya
agar aku dapat melihat sepulangnya nanti
dengan dada yang penuh dengan ilmu yang
berguna, amin!”. Doa-doa itu tidak sia-sia.
Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh
menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab
dengan nama aslinya, tapi kita pasti
mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu
yang menyemangati anaknya untuk
menggapai cita-cita. Seperti ibunya
Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan
cita-cita ke dalam dada anaknya untuk
menjadi imam masjidil haram, dan ia pula
yang menyemangati anaknya untuk mencapai
cita-cita itu. “Wahai Abdurrahman, sungguh-
sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu
adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya
memotivasi sang anak. “Wahai Abdurrahman,
sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam
masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-
bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya
Abdurrahman benar-benar menjadi imam
masjidil Haram dan ulama dunia yang
disegani. Kita pasti sering mendengar
murattalnya diputar di Indonesia, karena
setelah menjadi ulama, anak itu terkenal
dengan nama Abdurrahman As-Sudais.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah
orang yang pertama kali yakin bahwa
anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan
keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti
ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah
menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu
kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran
sekaligus kepercayaan diri. Diikuti
keterampilan mendidik dan membesarkan
buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang
doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor
terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim
penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.
Teruntuk seluruh ukhti fii sabilillah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s