ANAK JUGA MANUSIA

Judul Buku :  Anak Juga Manusia
Penulis        : Angga Setywan
Penerbit       : Noura Books. 2013.
Jumlah Hal  : 175 halaman
Peresensi     : Deassy M Destiani
Sumber : grup Indonesia Membaca 4
Buku “Anak Juga Manusia” masuk dalam kategori Best Seller. Buku yang saya beli sudah cetakan ke 5 di bulan April 2014. Padahal buku ini baru diterbitkan pada bulan Mei 2013. Menarik dari judulnya, hampir senada dengan judul buku Munif Chatib yang ternyata juga banyak menjadi referensi dari buku ini, yaitu “Sekolahnya Manusia”, “Gurunya Manusia” dan “Orangtuanya Manusia.”

Awalnya saya pikir ini masih lanjutan buku tersebut ternyata bukan. Penulisnya adalah seorang suami yang sangat peduli dengan pendidikan anak, meski saya juga penasaran  dari riwayat hidupnya apakah dia sudah punya anak atau belum karena tidak ada nama anaknya disebutkan disana.   Tulisan-demi tulisan yang sebagian besar dikumpulkan dari kultweetnya Angga Setyawan dengan akun @anakjugamanusia ini sangat ringan dan nyaman untuk dibaca. Mudah dipahami dan juga sangat kena ke hati. Misalnya di awal halaman yang dibuka dengan sebuah Tweet nya : “Kita tidak dirancang untuk gagal mendidik anak.Namun, kadang kitalah yang merancang kegagalan kita sendiri dalam mendidik anak hanya Karena kita tidak belajar.” Belajarnya bagaimana? Menurut Angga kita harus Sering Browsing tentang cara mendidik anak Membeli dan membaca buku parenting (Jangan hanya dibeli saja gak dibaca) Ikut Seminar parenting Praktek langsung dengan anak anak Evaluasi diri.

Mengapa banyak sekali langkah yang harus dilakukan agar mampu mendidik anak? Sekali lagi dengan bahasanya yang sederhana Angga mengatakan bahwa jika kita mau belajar menyetir mobil saja harus bertemu dengan ahlinya dulu dan praktek, apalagi belajar soal anak. Karenanya menjadi orangtua itu haruslah punya usaha yang besar untuk terus belajar dan evalusi diri.

Beberapa puisi karya Angga ada dalam buku ini. Salah satu yang menjadi Favorit saya adalah puisi yang berjudul “Aku Anakmu”. Puisi yang ini sungguh menggambarkan perasaan anak-anak terhadap orangtua masa kini, yang super sibuk dan seakan tak ada waktu untuk anak. Padahal sang anak sangat butuh perhatian, pelukan dan kasih sayang dari orang tuanya. Ternyata bukan hanya materi yang bisa membuat mereka bahagia, kebahagiaan anak-anak itu hanyalah ingin agar mereka dianggap keberadaannya oleh orangtua.   Ada anak yang setiap hari seringkali merasa disalahkan. Tidak pernah sekalipun sikap benar itu datang dari dirinya. Kedua orangtuanya hanya mau melihat kesalahannya saja. Saat benar dilihat kurangnya, saat salah apalagi.

Jadi sebenarnya anaknya yang bermasalah atau orangtua yang selalu memandang anak itu selalu salah? Kalimat ini juga menjadi sebuah introspeksi buat saya. Karena seringkali anak saya yang pertama juga merasa selalu disalahkan jika dia bertengkar dengan adiknya. Begitulah mungkin umumnya orangtua ya? Kakak selalu disalahkan saat bertengkar dengan adik yang lebih kecil. Kakak harus mengalah sama adik. Padahal kakak juga manusia, kakak juga sama anaknya ayah & bunda. Jika hal ini dibiarkan terus akhirnya sang kakak akan merasa bahwa dia tidak disayang oleh orangtuanya. Dampaknya mungkin dia akan lebih jahat dengan adiknya karena merasa tak pernah benar di mata orangtuanya.

Orangtua sekarang banyak yang memaksakan anaknya untuk menjadi hebat, entah itu dalam pelajaran, lomba nyanyi, lomba gambar atau lomba apapun. Biasanya yang semangat dan stress orangtuanya. Jika anak tidak juara maka yang kecewa paling parah juga orangtuanya. Padahal  menurut Angga, tugas orangtua itu bukan untuk meledakkan mereka menjadi hebat. Tugas orangtua adalah mendampingi mereka tumbuh secara alamaiah dengan perasaaan disayangi. Karena dengan perasaan disayangi itulah mereka akah menjadi hebat dengan sendirinya.   Komunikasi adalah kunci dalam menjalin hubungan mesra bersama anak. Komunikasi adalah hal yang sangat penting, namun ternyata masih banyak diantara orangtua yang menjalin komunikasi dengan anak hanya saat dia mara-marah, saat menyuruh ini-itu dan saat mengkritik. Padahal tingkatan komunikasi dengan level tertinggi adalah menjadi pendengar setia dari sebuah saluran radio yang berjudul “Radio Anak Kita”.  Itu berarti mendengarkan tanpa  memarahi, tanpa mengkritik, tanpa memukul balik cerita mereka dan hanya fokus pada solusi saat anak meminta pendapat. Jadi posisikan saja diri kita sebagai konsultan saat anak membutuhkan bantuan. Bukan mengajarinya dan bawel dengan apa yang menurut kita baik padahal belum tentu menurut kacamata anak-anak. Saya juga merasa bahwa separuh masalah di dunia ini karena memang diantara kita lebih banyak yang ingin didengarkan daripada mendengarkan, betul tidak?

Sebagian besar masalah mendidik anak adalah karena mereka punya orangtua yang tidak bisa mengelola dirinya sendiri dengan baik. Mereka gagal mengelola hidupnya berkaitan dengan masalah pekerjaan, pasangan, keluarga dan lainnya. Seringkali kita berkata agar ‘sabar” pada anak, padahal sesungguhnya kurang “sabar”apa anak sama kita? Lihatlah anak-anak itu sabar menunggu perilaku kita berubah untuk menjadi lebih baik, padahal kita sendiri tidak mau berubah ke arah itu dengan egoisme sebagai orangtua. Orangtua yang tidak mau belajar biasanya mengeluh, “Ada apa dengan anakku? Kenapa aku diberi anak nakal seperti itu?”  Padahal harusnya dia bertanya pada diri sendiri, “Ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa mendidik dia dengan baik?”.

Satu hal lagi masalah nilai, seringkali saat ini kriteria anak cerdas adalah dari nilai yang dia dapatkan di sekolah. Angga Setyawan mengambarkan dalam sebuah tabel ketika dia mendapatkan ada seorang Ibu yang curhat tentang anaknya yang mendapat nilai 40 dari total nilai 100 untuk pelajaran matematika. Jika ada anak yang mendapat nilai 40 untuk sebuah pelajaran, harusnya anak itu tidak dicemooh dulu, tapi lihat prosesnya seperti ini :

1. Nilai Matematika = 40
2. Jika anak mengerjakan dengan jujur = ?
3. Jika ia sudah berusaha dengan tekun = ?
4. Jika ia tahu bahwa nilainya buruk, tetapi masih meberanikan diri untuk memberitahu kita = ?

TOTAL NILAI ANAK = ?

Nah kira-kira jika tabel no 2, 3 dan 4 itu diisi nilainya, maka nilai anak tersebut jadi berapa? Tak terhingga bukan? Jadi mendidik anak itu bukan hanya mengajarkan kepada mereka sekumpulan ilmu pengetahun semata, namun mendidik itu berarti mengajarkan mereka kesanggupan untuk berjuang menghadapi tantangan hidup.   Semua anak yang ada di dunia ini, termasuk anak-anak kita adalah anak yang sempurna. Karena kesempurnaan bukan dilihat dari berapa tinggi IQ nya, betapa cantik atau tampan parasnya, betapa halus budi bahasanya, betapa religius anaknya. Kesempurnaan itu adalah sebuah proses hasil pendidikan kita sebagai orangtuanya untuk menjadikan anak-anak menemukan jati dirinya sendiri dalam hidup ini. Jadi menurut saya buku ini sangat penting dibaca untuk para orangtua yang mau belajar menjadi orangtua yang ingin “memanusiakan” anak.

Salam hangat @deassymds

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s