Ternyata Aku Merindu

Ah ternyata aku merindu.

Tidak lagi aku temui mereka-mereka setiap pagi. Mereka orang asing bagiku tetapi ada rasa yang membuat kami seolah sudah mengenal.

Di pertemuan dalam setiap perjalanan itu, kami hanya saling menatap. Tidak ada kata atau sapa. Beda lagi dengan seorang yang lain. Orang yang asing namun cerita sehari-hari mengakrabkan kami.

Ah, ternyata aku merindu.

Satu momen yang aku bisa temui di dalam sebuah angkutan umum. Setiap pagi pada jam dan waktu yang sama, ada orang-orang asing yang akan aku temui dan sampai-sampai aku bisa hafal tempat duduk yang biasa diduduki dan tujuan tempat dia akan turun. Kadang aku bisa memprediksikan pekerjaan orang asing itu dari pakaian dan dari barang yang dibawanya.

Ada juga orang asing yang terasa dekat. Mereka sesama penumpang yang biasanya sudah berusia. Dengan mengalir, ia menceritakan kejadian yang dialaminya atau kehidupan sehari-harinya, padahal kami baru bertemu dalam angkutan umum itu.

Dari hanya pembicaraan berdua, menyambung ke orang asing sebelah. Jadilah di angkutan umum itu seperti sekolah pelajaran hidup. Banyak cerita yang bisa diambil manfaat dan hikmahnya. Juga terkadang nasihat dari seorang ibu-ibu atau bapak-bapak.

Menjadikan sebuah angkutan umum seperti sekolah kehidupan yang bisa diambil banyak kisah penuh hikmah. Ya, mungkin itu karakter asli masyarakat kita yang terbuka. Membuat orang asing menjadi seolah tak asing.

Ah, ternyata aku merindu.

Merindu suasana asing yang dekat itu.

15 Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s