Perjalanan Sore Menjelang Malam

“Ka, besok aku ulangan bahasa. Kita belajarnya agak lamaan yah. Mama tadi juga bilang belajarnya agak lamaan aja,” kata muridku sebelum mulai belajar.

“Mau sampe jam berapa?” tanyaku.

“Jam 8 ya ka,” katanya.

Ehm, sepertinya akan pulang lebih malam dari yang seharusnya, kataku dalam hati.

“Yaudah kita belajar sampe jam 8 ya,” kataku.

Jam dinding di ruang keluarga 10 menit lagi menunjukkan pukul 20.00. Kegiatan belajar aku sudahi agar aku dan muridku dapat saling bertukar cerita. Saat kami asyik mengobrol, ibu muridku turun.

“Ka, makan dulu ya. Makanannya udah disiapin. Dari sore belum makan kan?” kata ibu muridku.

Aku berusaha menolak. Kalau aku makan malam dulu di sini, mau pulang dan sampai rumah jam berapa aku. Tapi sang ibu tetap memaksa. Sejak pukul 17.00 aku sudah berada di rumah muridku di bilangan Kebayoran Lama. Seharusnya kegiatan belajar selesai pukul 18.30, tapi karena ke potong salat maghrib jadi selesai pukul 19.00. Karena sang ibu memaksa dan makanan sudah dihidangkan, aku mau tak mau makan malam bersama dengan muridku sambil berbincang-bincang dengan sang ibu, melaporkan kemajuan dan kendala yang dialami anaknya selama belajar bahasa Indonesia denganku.

Selesai makan, aku kembali dikejutkan.

“Ka, ibu udah panggilin taksi. Kaka pulangnya naik taksi ya. Udah malem juga. Hujan lagi,” kata sang ibu.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.45. Benar-benar mengagetkan. Untuk pertama kalinya aku mengajar privat, ketika pulang dipanggilkan taksi dan ongkosnya juga ditanggung orangtua murid. Ya Allah, baik sekali orangtua muridku yang satu ini, ucapku dalam hati. Namun, lagi-lagi aku menolak. Aku merasa tidak enak hati. Sang ibu memaksa, lagipula taksi juga sudah ada di depan rumah. Jadilah, malam itu aku pulang naik taksi.

Di taksi, pikiranku masih memikirkan sang ibu. Muridku hanya meminta tambahan waktu satu jam. Tapi yang aku dapatkan lebih dari cukup. Makan malam dengan sayur daun singkong dan balado ikan ditambah dengan teh manis. Belum lagi makanan kecil yang disuguhkan bibi sebelum aku mengajar, brownies coklat dan es teh manis. Pulangnya aku dipanggilkan taksi dan ongkos ditanggung orangtua muridku. Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang Kau berikan di malam yang gerimis hari ini, syukurku dalam hati.

Baru aku sadari, suasana dalam taksi hening. Tidak ada percakapan antara aku dan supir taksi sampai taksi keluar dari kompleks perumahan. Dari bangku belakang, aku mengamati supir taksi di depanku. Masih muda. Mungkin usianya masih 20-an.

Baru kali itu aku naik taksi sendirian. Sudah malam pula. Aku hilangkan pikiran jelekku tentang kejadian-kejadian buruk yang terjadi dalam taksi.

“Sudah keliling dari jam berapa Pak?” tanyaku untuk memecah keheningan dalam taksi dan untuk mengurangi rasa tidak nyamanku. Hingga sampai di rumah, harus ada obrolan dengan supir, penting nggak penting, pikirku. Sengaja aku memanggilnya pak meski kelihatan masih muda, masih mas-mas. Namanya bisa aku ketahui dari kartu tanda pengenal yang ada di depan kursi samping supir.

“Dari siang,” jawabnya singkat.

“Oh… Kalau supir taksi kayak gini tuh, keliling nyari penumpang atau ngetem di pool nunggu panggilan?” tanyaku lagi.

“Kalau saya sih keliling mbak, saya jarang ngetem di pool,” jawabnya.

“Mbak abis main atau gimana?”

“Saya abis ngajar privat”

“Ngajar apa? Ngaji?”

Pertanyaan ini sudah aku tidak asing di telingaku. Satpam, tukang ojek, orang sekitar komplek yang tahu aku mengajar privat pasti menyangka aku mengajar mengaji. Mereka menyangka seperti itu mungkin karena melihat  jilbab yang aku kenakan.

“Bahasa Indonesia kelas 6 SD,” jawabku.

“Oh…”

Sunyi. Tidak ada obrolan.

“Mbak masih kuliah?” tanya supir.

“Iya”

“Semester berapa?”

“Lima”

“Oh… dimana?”

“Di UI”

“Fakultas apa?”

“FIB”

“Fakultas apaan tuh?”

“Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, saya jurusan Sastra Indonesia”

Tanya jawab yang singkat. Seperti sedang interogasi. Biarlah, yang penting sunyi tidak dirasakan di dalam taksi yang hanya berisi aku dan dia.

“Kalau mas? Sudah lama bawa taksi?” tanyaku gantian. Hahaha. Akhirnya aku memangilnya mas juga.

“Sudah hampir 2,5 tahun. Sebenarnya saya juga masih kuliah,” kata supir itu.

“Oh ya? Kuliah dimana?” tanyaku kaget.

“Di Gundar”

“Oh.. Gunadarma”

“Semester berapa?”

“Tiga. Sebenarnya saya sudah pernah kuliah 1 tahun. Tapi saya keluar karena waktu itu saya kuliah sambil kerja. Terus saya dipindahin ke Kalimantan. Karena saya lebih milih kerja, saya berhenti kuliah. Di Kalimantan 3 tahun. Trus balik lagi ke sini. Saya gak kerja dan pengen kuliah lagi.” jawabnya.

Benar dugaanku. Kalau begitu, usianya masih 20-an.

“Oh gitu… Ngambil jurusan apa?”

“Teknik mesin”

“Trus bagi waktu kuliah sama bawa taksi gimana? Apalagi anak teknik yang kayaknya banyak tugas dan praktikum.”

“Temen-temen dan dosen saya di kampus tau kok saya kerja jadi supir taksi. Bos saya di pool juga tau saya kuliah. Jadi kalau jadwalnya bentrok, ya saya izin sama bos saya. Nanti diganti di hari lain. Kalau praktek mah, saya juga bisa belajar langsung di pool. Kalau ada kerusakan apa gitu di mesin, saya coba-coba benerin sambil nanya-nanya ke yang udah biasa benerin mesin,” jawabnya lagi.

“Tiap hari kuliah bawa taksi gitu?” tanyaku lagi. Aku dibuat penasaran dengan ceritanya.

“Saya bawa taksi nggak tiap hari. Shif-shifan gitu. Kalau hari ini bawa taksi, besok nggak. Tapi kalau Sabtu-Minggu selalu bawa taksi. Keliling.”

“Rumahnya dimana? Trus kalau kuliah naik taksi?”. Dalam hati, aku bertanya sendiri penting gak sih pertanyaan kayak gini.

“Saya tinggal di Bogor. Orangtua sebenernya asli Jakarta tapi pindah ke Bogor. Saya mainnya juga gak pernah di Bogor. Di Jakarta terus. Jadi nggak ngerti bahasa Sunda juga. Kalau tetangga-tetangga saya ngomong Sunda, saya cuma diam saja. Nggak ngerti. Kalau kuliah saya naik taksi. Dari Bogor, saya naik motor. Trus motornya saya tinggal di pool, kuliah naik taksi. Jadi selesai kuliah, langsung keliling. Malemnya saya balik lagi ke pool, balikin taksi. Trus pulang naik motor deh,” jelas dirinya.

“Dari Bogor jam berapa? Kalau balikin taksi ke pool waktunya bebas apa ada batas waktu?” tanyaku.

“Subuh udah berangkat mbak. Jam 8 udah harus nyampe pool. Kalau telat mendingan gak usah ke pool. Gak dapet taksi. Malemnya harus udah ada di pool jam 12. Tapi kalau Sabtu-Minggu sampe jam 2 pagi, makanya saya berani masih nerima penumpang jam 12 malem. Kalau hari biasa, jam 11 saya udah jalan pulang ke pool. Udah gak berani nerima penumpang. Bisa-bisa malah telat nyampe pool. Kalau telat gitu malahan kena denda,” jelasnya panjang lebar.

Perjalanan malam itu tidak terasa. Apalagi jalanan tidak begitu macet, hanya antri sebentar di lampu merah.

Tidak ada obrolan. Di luar, hujan gerimis. Aku memandangi jalanan di luar. Masih cukup ramai dengan kendaraan yang kebanyakan kendaraan pribadi. Taksi sudah sampai di Gandaria City. Alhamdulillah, sebentar lagi sampai Pondok Indah. Jam di HP menunjukkan pukul 21.27.

Di dalam taksi, dia menyetel radio yang memutar lagu-lagu yang  digandrungi masyarakat. Lagu Aishiteru-nya Zivila, Ku Ingin Selama-nya Ungu, Manusia Biasa-nya Yovie and Nuno, Ku Ingin Kau Tahu-nya Adrian Martadinata, Ya Sudahlah-nya Bondan Prakoso feat Fade 2 Black menemani perjalanan kami dalam taksi.

Memecah kekakuan, ia kembali membuka percakapan. Ia bercerita tentang dirinya yang berusaha membiayai kuliahnya sendiri. Sejak kecil, ia sudah terbiasa bekerja, mendapatkan uang untuk memenuhi keperluan dan keinginannya. Orangtuanya bukan orang tidak mampu. Tapi ayahnya tidak melarang dia untuk bekerja. Waktu SMP, ia pernah menjadi kuli bangunan, walaupun hanya bantu-bantu saja. Sekarang, selain menjadi supir taksi, ia juga sering ngeband dan manggung di kafe-kafe saat tidak ada jadwal membawa taksi. Ia memegang bass dan kadang drum. Ia senang melakukannya. Ia tidak ingin membebani orangtuanya. Ia ingin mandiri dalam hal keuangan. Apalagi dia anak laki-laki.  Selain itu, juga ada kepuasan tersendiri saat mendapatkan hasil kerjanya. Bukan hanya masalah uangnya, tetapi kepuasan batin.

Ahh, aku jadi teringat mendiang mamaku. Ia juga tidak pernah melarangku untuk mengajar. Sama dengan dia. Bukan uang yang dicari. Orangtuaku yang bekerja sebagai guru cukup memberiku uang. Awal-awal mengajar privat, lelah yang terasa. Jauh-jauh harus ke rumah murid-muridku. Tapi lama-kelamaan ada kenikmatan tersendiri saat mengajar dan saat bersilahturahim dengan keluarga muridku, dengan orangtuanya, dengan pembantunya, dengan supirnya, dengan satpam penjaga kompleks. Mama, yang walaupun membebaskan aku untuk mengajar privat, ia selalu mengingatkan aku kewajibanku yang utama. Melihat wajahnya saat sampai rumah sudah cukup bagiku sebagai penghilang kelelahan dan kepenatan selama sehari.

Aku teringat kata-kata yang selalu dikatakan mama. Kita memang boleh sering-sering melihat ke atas, tapi banyak-banyaklah melihat ke bawah. Masih ada orang-orang yang lebih kurang dari kita. Kalau kita melihat ke atas terus, kita tidak akan merasa puas dan cukup. Selalu merasa kurang.

Ahh, di taksi malam itu, aku benar-benar merasa kangen dengan mamaku.

Taksi sudah sampai di Jalan Keuangan saat jam di HP menunjukkan pukul 21.39. Aku yang memilih untuk lewat Terogong, tidak lewat Lebak Bulus. Sebentar lagi sampai. Lampu merah Fatmawati tidak macet. Tidak ada lagi perbincangan di antara kami. Hanya suara radio yang memecahkan keheningan dalam taksi.

Taksi sudah sampai di DapSus. Giant DapSus sudah tutup. Di depan tenda kaki lima sepanjang Fatmawati banyak berjejer mobil dan  motor. Pikiranku melayang mengingat semua yang terjadi sepanjang sore hingga malam. Kebaikan orangtua muridku. Semoga Allah membalas kebaikannya. Pertemuanku dengan supir taksi yang masih muda dan berstatus mahasiswa dengan ceritanya yang menggugah rasa ingin tahu, mengambil pelajaran hidup dari pengalaman yang pernah dialaminya, tapi pada akhirnya menyentuh sisi paling sensitif dalam diriku.

Sungguh, rangkaian peristiwa sudah ditakdirkan untukku dari sore hingga malam tiba yang cita rasanya sangat dapat aku rasakan dan aku nikmati.

#catatan kelima

#cerita perjalanan

#saat nulis kembali cerita ini di sini, aku jadi teringat kembali dan penasaran dengan supir taksi itu.

#kalau benar dia kuliah di universitas itu, mungkin dia sudah lulus sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s