Kisah Cinta Seorang Ibrahim

Ibadah haji sangat erat hubungannya dengan kisah Nabi Ibrahim. Prosesi demi prosesi haji dari awal sampai akhir serangkaian prosesi haji berawal dari kisah cinta Nabi Ibrahim. Kisah bapak para nabi ini semua mengandung cinta yang luar biasa. Cinta yang berasal dan tumbuh dengan ketaatan sangat mendalam kepada Sang Pemilik Cinta.

Ibrahim adalah kekasih Allah. Allah mencintai Ibrahim dan Ibrahim pun mencintai Allah dengan ketaatannya. Allah mewujudkan kecintaan-Nya pada Ibrahim dengan memberikan ujian dan cobaan penuh hikmah. Cobaan dan ujian yang hanya dapat dihadapi dan dilewati oleh mereka yang sangat mencintai Tuhannya dengan penuh ketakwaan.
Ujian cinta pertama Ibrahim adalah penundaan pemberian anak oleh Allah. Sampai usia tua, 80-an tahun, Ibrahim belum juga dikaruniai seorang anak. Di sini kesabaran Ibrahim diuji sangat oleh Allah. Dalam sebuah pernikahan, kehadiran seorang buah hati tentu didambakan bagi setiap pasangan suami istri. Bagi Ibrahim, kesedihan belum dikaruniai anak bukan karena ia menginginkan status ayah melekat pada dirinya. Ia sedih karena ia khawatir jika tidak ada generasi penerus yang akan meneruskan dakwahnya.
Kesabaran yang sangat dari Ibrahim membuahkan hasil. Ia dikaruniai Allah Ismail dari Siti Hajar. Kemudian, menyusul Ishak dari Siti Sarah. Anak keturunannya banyak yang Allah angkat menjadi nabi dan rasul yang mendakwahi kaumnya.
Ujian cinta kedua bagi Ibrahim adalah ketika ia diperintahkan Allah untuk membawa Siti Hajar dan Ismail ke sebuah tanah tandus lagi sepi. Baru saja merasakan kebahagiaan melihat Ismail bayi, Ibrahim harus berpisah dengan keduanya. Ketika akan melaksanakan perintah Allah, Ibrahim diganggu dan dihadang segerombolan setan. Untuk mengusirnya, Ibrahim melemparkan batu-batu sambil bertakbir kepada Allah. Kita mengenalnya dengan lempar jumrah pada prosesi ibadah haji sekarang.
Kesabaran tidak hanya hadir dari seorang Ibrahim, tetapi juga dari seorang istri yang kuat dan berpikiran positif, Siti Hajar. Tanpa perbekalan yang cukup, ia ditinggal sendiri oleh suaminya. Ketika akan ditinggal oleh Ibrahim, Siti Hajar bertanya “Mengapa kamu meninggalkan kami?” Ibrahim tidak dapat menjawabnya. Ia mengulangi lagi pertanyaannya. Kembali Ibrahim tidak dapat menjawabnya. Kemudian, Siti Hajar bertanya “Apakah ini perintah Allah?” Ibrahim menjawab, “Ya. Ini perintah Allah.” “Kalau ini perintah Allah, aku yakin Allah akan menjamin kehidupan kami.” kata Siti Hajar. Ia tidak mengeluh dengan keadaannya dan ia pun yakin Allah tidak akan meninggalkan dirinya dan Ismail bayi. Mereka semua berada di titik kepasrahan total kepada Allah.
Kemudian, Ibrahim berdoa,
“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di belahan yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah Engkau yang dihormati. Ya Tuhan yang demikian itu agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Ibraahiim: 37)
Yang pertama dimohonkan Ibrahim adalah agar Siti Hajar dan Ismail bisa shalat, menyembah Allah. Baru kemudian, ia memohon rezeki Allah berupa makanan&buah-buahan.
Selepas kepergian Ibrahim, Siti Hajar, sebagai seorang ibu, ia harus menyusui anaknya. Ia tidak dapat menyusui sementara dirinya juga tidak makan dan menghasilkan air susu. Bolak-balik ia menyusuri Shafa dan Marwa untuk mencari air. Dalam prosesi ibadah haji, kita melakukannya bagian sa’i. Ia tidak takut dicap gila menyusuri padang tandus. Baginya, adalah ia harus berusaha mencari air untuk anaknya. Rasa cintanya pada Ismail dan keyakinannya pada Allah tidak membuatnya menyerah. Hingga, pada akhirnya, Allah menganugerahi mereka sumur air, yang sampai sekarang dapat dinikmati banyak orang, sumur zam-zam. Doa Ibrahim pun dikabulkan, banyak sebagian manusia yang hatinya cenderung ke Baitullah.
Ujian cinta ketiga Ibrahim adalah ketika ia harus menyembelih Ismail yang berusia remaja saat itu. Setelah meninggalkan Ismail dari bayi dan setelah bertahun-tahun berpisah kemudian bertemu kembali, Allah menyuruh Ibrahim menyembelih Ismail. Kerinduannya pada Ismail belum sempat banyak terobati, Ibrahim kembali harus mengorbankan anaknya.
Meskipun hal itu adalah perintah Allah, Ibrahim tidak serta merta menjalankan perintah Allah. Ibrahim berdiskusi dan menanyakan hal itu terlebih dahulu pada Ismail. Saat itu, Ismail sudah beranjak remaja. Dan Ismail dengan sabar dan berpikiran positif menerima perintah Allah.
“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya. Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatkan termasuk orang yang sabar.‘” (ash-Shaffat:102)
Satu pelajaran yang dapat kita ambil untuk pelajaran dan bekal menjadi orangtua kelak, yaitu mendiskusikan dan mengajak berpikir anak ketika ia sudah dapat berpikir. Seorang remaja akan merasa dihargai ketika keberadaannya (dalam hal ini, dia sudah dimintai pendapat) dianggap oleh orang sekitar. Dan perlu kita lihat juga cara Siti Hajar mendidik Ismail hingga remaja tanpa seorang suami sehingga dapat membentuk karakter Ismail yang demikian (perlu membaca&mencari tahu dari sumber referensi lain, bagian ini tidak dijelaskan lebih lanjut).
Ketaatan Ibrahim pada Allah untuk menyembelih putranya sendiri yang baru saja berkumpul bersamanya, kita rasakan sampai saat ini dalan bentuk penyembelihan hewan kurban setiap hari raya kurban. Demikianlah kisah cinta Ibrahim yang penuh dengan pengorbanan dan penuh ketakwaan total kepada Allah. Semoga kita dapat mengambil hikmah yang mendalam dari kisah cinta Ibrahim ini dan menjadikan kita dapat memaknai arti sebenarnya dari ibadah haji dan ibadah berkurban. Mereka yang sudah dan Insya Allah kita dianugerahi Allah kesempatan untuk menyambut panggilan-Nya ke Baitullah, dapat memaknai setiap prosesi ibadah haji sehingga menjadi haji yang mabrur. Semantara itu, kita yang beribadah berkurban juga dapat memaknai arti berkurban.
-Disarikan dari ceramah Ust. Abdul Muadz-
4 Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s