Keluargaku di Akhir Zaman

Manusia pada masa sekarang adalah manusia yang hidup pada masa akhir zaman. Sebuah masa yang penuh dengan fitnah, fitnah akhir zaman. Banyak hal yang terbolak-balik. Yang salah dianggap dan dilihat benar serta yang benar dianggap dan dilihat sebagai hal yang salah. Semua hal menjadi bias. Namun, kebiasan  tidak akan terjadi pada orang-orang yang dengan teguh memegang prinsip Islam sebagai landasan hidupnya. Agar diri dan keluarga dapat terlindungi dari berbagai fitnah akhir zaman, ada hal-hal yang dilakukan untuk melindungi diri dan keluarga dari fitnah akhir zaman.

1. Anggota keluarga memahami makna iman, tauhid. (Muhammad: 19)

Islam bukan agama tanpa ilmu. Islam mewajibkan kita untuk mencari ilmu, ilmu agama dan ilmu dunia. Kita beragama dengan mengetahui ilmunya, bukan hanya sekadar ikut-ikutan.

“Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Kemudian, kami mempelajari Al-Qur’an, maka bertambahlah iman kami.” (HR Ibnu Majah dari Jundub bin Abdullah)

Hakikah Islam adalah berpegang teguh pada iman dan kalimat tauhid (al-Baqarah: 256). Kedua hal itu bukan paket opsional, tetapi sudah dua paket sekaligus. Pesan tauhid adalah pesan abadi dari para nabi dan rasul. Tauhid merupakan intisari agama Islam yang wajib dipahami. Hal tersebut merupakan hal yang paling pokok dan dasar. Salah satu yang dapat membatalkan keislaman adalah berpaling dari pokok agama yang dengan itu seseorang menjadi Muslim.

Para ulama sudah lama menjelaskan banyak hal yang membatalkan keimanan. Akan tetapi, anak-anak sekarang lebih banyak diajari hal-hal yang tidak pokok dan mendasar  seperti dari kecil anak-anak diajari hal-hal yang membatalkan wudhu. Namun, anak-anaktidak diajarkan hal-hal yang membatalkan keimanan. Padahal itu merupakan hal yang utama. Sekarang ini, bukan lagi masanya berbuat dosa besar, tetapi sudah membatalkan keimanan.

2. Menjaga al-Mahabbah wa al-Ukhuwah Fillah (Cinta dan Ukhuwah Persaudaraan karena Allah)

Ada laki-laki yang ingin mengunjungi saudaranya di desa lain. Di tengah perjalanan dia ketemu sama malaikat. Malaikat bertanya, “Kamu ada urusan apa dengan orang itu?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak ada. Saya mengunjunginya karena Allah.” Lalu, malaikat bilang bahwa ia adalah utusan yang diutus Allah untuk menyampaikan kabar bahwa Allah mencintai ia (laki-laki itu. red).

Keakraban abadi hanyalah keakraban yang berlandaskan iman dan takwa.

“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (az-Zukhruf: 67)

Iman akan mengumpulka keluarga di dunia dan di akhirat. Anak cucunya akan mengikuti dalam keimanan. Mereka akan dikumpulkan di akhirat kelak.

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (ath-Thuur: 21)

3. Mewaspadai berbagai fitnah di sekeliling yang mengancam (terutama yang mengancam iman dan tauhid)

Era badai fitnah menimbulkan ancaman murtad tanpa sadar (disingkat jadi mts).

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR Ahmad)


Iman harus dijaga dengan benar-benar dan sungguh-sungguh. Pagi hari masih beriman, bisa jadi sorenya kafir. Itu masih dalam satu hari. Ada orang yang rela menjual segalanya yang dia punya. Dia rela menjual agamanya. Bagi orang yang beriman, agama adalah barang yang paling berharga.

Kita menanamkan kepada keluarga bahwa ada ancaman yang mengancam hilangnya iman. Sebagai contoh, kalimat semua agama itu baik dan benar. Itu melanggar surat  Ali ‘Imraan: 19

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”(Ali ‘Imraan:19)

Ancamannya adalah pluralisme. Kalimat semua agama itu baik dan benar adalah kalimat sederhana tetapi fatal akibatnya. Seorang Muslim yang beriman dan memercayai ayat itu tidak perlu meragukan Islam.

4. Membekali diri dan keluarga dengan ilmu tentang fitnah akhir zaman.

Nabi akan hidup di tengah-tengah kalian selama yang dikehendaki Allah, kemudian Allah akan mengakhirinya jika Allah menghendaki, kemudian akan ada pemerintahan di atas manhaj Nabi  lalu pemerintahan itu akan berlangsung selama yang dikehendaki Allah, kemudian Allah akan mengakhirinya jika Dia mengehndaki, lalu akan ada pemerintahan yang zalim, lalu pemerintahan zalim itupun berlangsung selama yang dikehendaki Allah, kemudian setelah itu akan ada pemerintahan yang lalim, dan berlangsung selama yang dikehendaki Allah, lalu Allah akan mengakhirinya jika Dia kehendaki, kemudian setelah itu akan terjadi lagi pemerintahan di atas manhaj Nabi”. Kemudian beliau terdiam” (HR Ahmad)

Kita perlu memahami hadits peta perjalanan umat Islam, Babak pertama babak kenabian selama 23 tahun. Babak kedua adalah babak masa khalifah yang mengikuti manhaj nabi dan punya pemimpin yang terbaik. Masa 4 khulafaur rasyidin selama 30 tahun. Babak ketiga babak kepemimpinan yang tidak adil. Babak jatuh bangunnya umat Islam sampai jatuhnya Turki Utsmani. Babak keempat adalah babak yang sekarang kita hadapi dan jalani. Babak ini merupakan babak terkelam umat Islam. Babak kelima adalah babak kembalinya kepemimpinan umat Islam. Setelah masa itu berakhir, datanglah masa akhir zaman.

Sekarang kita hidup di masa banyak ketidaknormalan. Janganlah ketidaknormalan itu dianggap sebagai hal yang normal. Harus ditanamkan kepada anggota keluarga kesadaran atas semua ketidaknormalan yang terjadi saat ini. Kita sadar dan peduli penuh terhadap hadits nabi tentang kondisi akhir zaman. Bersiap-siaga menghadapi tanda penting kemunculan dajjal, munculnya al-mahdi. Dan mengetahui mana al-Mahdi yang sebenarnya, mana yang bohongan. Selain itu juga menanamkan kesabaran dan keistiqamahan mengikuti skenario Allah.

5. Menanamkan kepada keluarga bahwa ada konflik abadi dan hakiki sepanjang zaman (al-A’raaf: 24).

Tidak mungkin ada kehidupan harmonis sepanjang zaman. Rasulullah saja dimusuhi karena aqidah. Rasulullah tidak dimusuhi karena akhlaknya. Ada perang antara iman dan kafir. Tidak ada yang netral. Yang ditengah-tengah itu disebut munafik.

Dengan demikian, kita harus punya sikap. Harus punya prinsip yang benar sesuai ajaran Allah yang diambil sebagai pegangan. Sadar betul bahwa akan ada orang-orang yang tidak menyukai kita.

6. Memperhatikan kehalalan rezeki dan makanan.

Keberkahan bukan dalam hal jumlah tapi dari kehalalan makanan dan cara mendapatkannya

7. Selalu bertaqarub, bertobat, dan berdoa kepada Allah.

Mintalah segala sesuatu hanya kepada Allah Sang Penguasa seluruh Alam, bukan meminta perlindungan kepada penguasa duniawi.

Ketika dirundung masalah dan kesedihan yang mendalam, kita berdoa

“Ya Allah, RahmatMu aku harapkan, janganlah Engkau serahkan segala urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku, tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau.” (HR Abu Dawud)


-Disarikan dari kajian pengajian bulanan kantor dengan pembicara Ust. Fauzi Bahraezy-

26 Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s